<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489</id><updated>2011-09-06T23:07:41.908+07:00</updated><category term='terapi'/><category term='Aids'/><category term='darah'/><category term='Hiv'/><category term='kesehatan'/><category term='VCT'/><title type='text'>HIV/AIDS Community</title><subtitle type='html'>Fight Againts HIV/AIDS</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>68</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-7567736132028867866</id><published>2011-05-28T20:37:00.000+07:00</published><updated>2011-05-28T20:37:06.202+07:00</updated><title type='text'>Vaksin HIV Baru Efektif Melindungi Monyet</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Langkah menemukan vaksin HIV/AIDS semakin dekat ke tujuan setelah vaksin  baru yang diuji coba pada monyet dinyatakan berhasil. Vaksin yang diuji  coba pada monyet &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rhesus &lt;/span&gt;tersebut berhasil melindungi 13 dari 24 monyet yang dilibatkan dalam ekperimen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada eksperimen itu, para peneliti menyuntikkan vaksin yang mengandung &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rhesus cytomegalovirus &lt;/span&gt;(CMV), virus yang sudah dimodifikasi secara genetik. Vaksin tersebut berhasil memberikan perlindungan terhadap &lt;span style="font-style: italic;"&gt;simian immunodeficiency virus&lt;/span&gt;  (SIV), sejenis virus HIV yang menyerang monyet. Dari 13 monyet yang  dilindungi, 12 di antaranya masih terlindungi selama setahun berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vaksin  tersebut bekerja dengan cara menstimulasi produksi sel darah merah  tertentu yang disebut "efektor memori sel-T" yang tetap mampu  berjaga-jaga di dalam tubuh, bahkan dalam waktu yang lama setelah  infeksi mereda. Profesor Louis J. Picker, pemimpin eksperimen yang  berasal dari Vaccine and Gene Therapy Institute Oregon, mengumpakannya  dengan tentara bersenjata yang selalu siaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan ini  disambut baik para ahli dan peneliti yang fokus di bidang yang sama.  Profesor Sir Andrew McMichael dari Oxford University menyambut gembira  hasil studi tersebut karena membuka kemungkinan untuk membasmi virus  HIV/AIDS melalui respons kekebalan yang kuat. "Namun saya masih  mengkhawatirkan aplikasi pendekatan ini pada manusia," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah  yang dikhawatirkannya terletak pada potensi keamanan dan terkait  masalah regulasi menyuntikkan CMV kepada manusia. Pasalnya, CMV belum  sepenuhnya jinak dan dapat menyebabkan beberapa penyakit. "Sangat  berisiko jika disuntikkan kepada manusia dan ternyata menimbulkan  masalah yang tidak bisa diatasi," kata profesor McMichael.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski  begitu, Profesor Picker optimistis masalah itu bisa diatasi pada  eksperimen dan studi selanjutnya. Ia pun menunjuk vaksin cacar yang pada  masa awal pengembangannya mengandung risiko kesehatan bagi manusia.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; (Sumber: BBC)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-7567736132028867866?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://nationalgeographic.co.id/lihat/berita/1178/vaksin-hiv-baru-efektif-melindungi-monyet' title='Vaksin HIV Baru Efektif Melindungi Monyet'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/7567736132028867866/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/05/vaksin-hiv-baru-efektif-melindungi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/7567736132028867866'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/7567736132028867866'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/05/vaksin-hiv-baru-efektif-melindungi.html' title='Vaksin HIV Baru Efektif Melindungi Monyet'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-7637985865447802295</id><published>2011-05-27T18:40:00.000+07:00</published><updated>2011-05-27T18:40:56.809+07:00</updated><title type='text'>Inilah Orang Pertama Yang Sembuh Dari AIDS</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://l.yimg.com/bt/api/res/1.2/BKewZWnDIy1bNzj3pM6k8g--/YXBwaWQ9eW5ld3M7Zmk9aW5zZXQ7aD0yNTY7cT04NTt3PTUxMg--/http://media.zenfs.com/id-ID/News/Inilah/1520232.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="100" src="http://l.yimg.com/bt/api/res/1.2/BKewZWnDIy1bNzj3pM6k8g--/YXBwaWQ9eW5ld3M7Zmk9aW5zZXQ7aD0yNTY7cT04NTt3PTUxMg--/http://media.zenfs.com/id-ID/News/Inilah/1520232.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dokter mengatakan, pria 45 tahun di California ini mungkin  menjadi   orang pertama yang sembuh dari AIDS. Ini diketahui dari gen  kebal HIV   miliknya. Seperti apa? &lt;br /&gt;Timothy Ray Brown  diketahui positif HIV (human immunodeficiency  virus)  pada 1995. Kini, ia  masuk jurnal ilmiah sebagai orang pertama  yang  berhasil ‘menghapus’  virus HIV dari tubuhnya secara sepenuhnya.  Dokter  menyebut kondisi ini  ‘penyembuhan fungsional’.&lt;br /&gt;Pada 2008, Brown tinggal di Berlin dan  mengidap HIV dan leukemia. Di   sana, ilmuwan melakukan cangkok tulang  sumsum untuk mengobati   leukemianya. Ilmuwan mengatakan, Brown mendapat  sumsum dari donor yang   termasuk dalam 1% Caucasia kebal HIV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya berhenti berobat HIV di hari saya mendapat transplan itu,” papar pria yang dijuluki ‘Pasien Berlin’ itu.&lt;br /&gt;Peneliti  AIDS Dr Jay Levy dari University of California, San  Fransisco  (UCSF)  mengatakan, kasus Brown membuka pintu ‘riset  penyembuhan’.&lt;br /&gt;Namun,  dokter menekankan, prosedur radikal Brown mungkin tak cocok   dengan  penderita HIV lain karena sulitnya cangkok sumsum dan menemukan   donor  yang sesuai.&lt;br /&gt;“Tentunya Anda tak mau melakukan cangkok ini karena risiko kematiannya,” ungkap Paul Volberding dari UCSF.&lt;br /&gt;Banyak  pertanyaan mengenai pengobatan Brown tak terjawab, lanjutnya.   “Satu  elemen pengobatannya nampaknya memungkinkan virus keluar dari   tubuhnya,”  lanjutnya lagi.&lt;br /&gt;Hal ini akan menjadi studi yang menarik, tutupnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: transparent; border: medium none; color: black; overflow: hidden; text-align: justify; text-decoration: none;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sumber: &lt;a href="http://niponk.blogspot.com/2011/05/inilah-orang-pertama-yang-sembuh-dari.html#ixzz1NYH9L6xQ" style="color: #003399;"&gt;http://niponk.blogspot.com/2011/05/inilah-orang-pertama-yang-sembuh-dari.html#ixzz1NYH9L6xQ&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://l.yimg.com/bt/api/res/1.2/8xzK7_q6JVOU5rGPCdr2Ow--/YXBwaWQ9eW5ld3M7Zmk9aW5zZXQ7aD0zMDtxPTg1O3c9MTIw/http://media.zenfs.com/246/2011/03/17/inilah-logo_081159.png" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://l.yimg.com/bt/api/res/1.2/8xzK7_q6JVOU5rGPCdr2Ow--/YXBwaWQ9eW5ld3M7Zmk9aW5zZXQ7aD0zMDtxPTg1O3c9MTIw/http://media.zenfs.com/246/2011/03/17/inilah-logo_081159.png" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-7637985865447802295?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://id.berita.yahoo.com/foto/inilah-orang-pertama-dunia-sembuh-dari-aids-foto-001100036.html' title='Inilah Orang Pertama Yang Sembuh Dari AIDS'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/7637985865447802295/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/05/inilah-orang-pertama-yang-sembuh-dari.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/7637985865447802295'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/7637985865447802295'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/05/inilah-orang-pertama-yang-sembuh-dari.html' title='Inilah Orang Pertama Yang Sembuh Dari AIDS'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-1895676561447286865</id><published>2011-04-24T18:49:00.000+07:00</published><updated>2011-04-24T18:49:02.825+07:00</updated><title type='text'>Minum Obat Teratur Tantangan ODHA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kehadiran  obat antiretroviral menjadi  harapan bagi orang dengan HIV/ AIDS atau  ODHA untuk tetap hidup dan   produktif. Namun, obat antiretroviral   harus diminum   seumur hidup dan teratur. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Ahli gizi senior dan pelatih Organisasi  Kesehatan Dunia (WHO)  untuk perawatan, dukungan, dan pengobatan AIDS,  sekaligus dokter spesialis gizi klinik  di RS Universitas Kristen  Indonesia  dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Paul F  Matulessy, mengatakan, aturan minum  obat antiretroviral  (ARV)  sangat  ketat lantaran terkait langsung dengan  tingkat perkembangan HIV di  dalam darah. Konsentrasi obat di dalam darah  harus dijaga guna  memperkecil  atau mencegah  virus memperbanyak diri di dalam darah.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa  jam setelah  minum obat, aktivitas  obat meningkat  sehingga menekan   pertumbuhan virus. Namun,  setelah  obat mencapai masa puncak,  pada  jam-jam berikutnya  aktivitas virus mulai  naik sehingga  obat kembali  diminum  agar dapat  menekan  pertumbuhan virus pada darah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain  itu, perubahan  jadwal meminum ARV  akan membuat  HIV resisten terhadap  obat.  Kebanyakan ODHA   harus meminum obat setiap  12 jam.  ”Aturan  minum  obat sangat ketat agar perkembangan  virus bisa  dikontrol dengan   ARV,” ujar Paul.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dia mengatakan, seorang  ODHA  dianjurkan  meminum   ARV jika angka CD-4  di bawah 350.  CD-4   merupakan gambaran  sistem  kekebalan  tubuh. Penyebab kematian ODHA  bukan karena  virusnya, melainkan infeksi oportunistik yang diderita  ODHA lantaran lemahnya kekebalan tubuh.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk menjaga kesehatan,  ODHA yang telah dianjurkan minum obat harus meminumnya dengan teratur.   Di samping itu, mereka juga perlu  memerhatikan gizi, baik zat gizi  makro  maupun mikro.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="left pr_5 pt_5 font11 c_abu"&gt;&lt;strong&gt;Sumber :&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="left pt_5 c_abu01_kompas2011 font12"&gt;Kompas Cetak&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-1895676561447286865?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://health.kompas.com/read/2010/09/02/02470385/Minum.Obat.Teratur.Tantangan.ODHA' title='Minum Obat Teratur Tantangan ODHA'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/1895676561447286865/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/04/minum-obat-teratur-tantangan-odha.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/1895676561447286865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/1895676561447286865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/04/minum-obat-teratur-tantangan-odha.html' title='Minum Obat Teratur Tantangan ODHA'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-954223518794265531</id><published>2011-04-24T18:41:00.000+07:00</published><updated>2011-04-24T18:41:03.427+07:00</updated><title type='text'>Asam Amino, Kunci Kebal HIV</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mengapa tahap infeksi HIV pada  beberapa orang tidak berlanjut  menjadi AIDS? Sebuah kajian genetik  terbaru menunjukkan, hal itu  berkaitan dengan adanya asam  amino tertentu dalam tubuh yang mampu  menghancurkan sel-sel yang  terinfeksi HIV. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Demikian  diungkapkan&amp;nbsp; Bruce Walker,  imunolog dan Direktur Ragon Institute of  Massachusetts General Hospital,  Massachusetts Institute of Technology  dan Harvard University di  Charlestown. Menurut temuannya, peluang tahap  infeksi HIV untuk tidak berkembang menjadi AIDS terjadi pada 1 di  antara 300 orang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Penelitian itu dimulai ketika Walker mengetahui  manfaat klinis yang  dimiliki oleh pasien-pasein yang memiliki  kekebalan terhadap HIV lewat program  HIV Controller Study.&amp;nbsp; "Saya  pikir, kita dapat membentuk kelompok untuk  menganalisa hal itu. Kita  harus menemukan keunikan genetik dari  seseorang yang memiliki kekebalan  itu," ujar Walker.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Walker  bersama timnya lalu mengambil sampel  DNA dari 900 pasien HIV Controller  atau orang-orang yang punya  kekebalan terhadap HIV tadi. Mereka  membandingkannya dengan kode  genetik yang terdapat pada 2.600 orang yang  memberi respons normal  terhadap HIV. Untuk membandingkannya, ia  menggunakan Genetic Wide  Association Study (GWAS).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; GWAS akan  menganalisa &lt;em&gt;single nucleotide polymorphism&lt;/em&gt;  atau perubahan satu kode  genetik yang memunculkan variasi pada  individu tertentu. Melalui kajian  itu, Walker menemukan, ada sekitar  300 lokasi yang secara statistik  berkaitan dengan kekebalan terhadap  HIV tersebut. Lokasi-lokasi itu  diketahui berkaitan dengan bagian  genetik yang mengode protein  kekebalan yang disebut protein HLA. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  Menggunakan pemetaan detail  dari daerah HLA itu, Walker menemukan  adanya asam amino pada protein  HLA-B yang berbeda antara individu  normal dan HIV Controller. Ia  mengatakan, asam amino itulah yang  mungkin bertanggung jawab terhadap  kekebalan HIV. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; "Dari 3 juta nukleotida yang terdapat dalam &lt;em&gt;genome&lt;/em&gt;  manusia, saya menemukan asam amino yang membuat individu normal dan HIV  Controller berbeda," kata Walker.&lt;/div&gt;ng harus  dilakukan," ujar Walker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  Pemahaman tentang mekanisme kerja  protein tersebut sangat mungkin  mendasari pengembangan vaksin. "Masih butuh waktu lama untuk  memahaminya. Tetapi, kabar baiknya adalah adanya  pengetahuan tentang  sistem kekebalan ini. Hal itu berarti ada kabar  bagus untuk vaksin  karena prinsip vaksin adalah memanipulasi kekebalan,"  kata Walker yang  mempublikasikan risetnya dalam situs &lt;em&gt;Jurnal Nature,&lt;/em&gt; 4 November lalu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span title=""&gt;Why stage of HIV infection in some people do not progress to AIDS? &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;A  recent genetic studies show, it is related to the presence of certain  amino acids in the body that can destroy cells infected with HIV.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span title=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Thus  disclosed Bruce Walker, director of Ragon imunolog and the Institute of  the Massachusetts General Hospital, Massachusetts Institute of  Technology and Harvard University in Charlestown. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;According to the findings, the opportunity to stage of HIV infection did not develop into AIDS occurs in 1 in 300 people.&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;The  study began when Walker know the clinical benefit that is owned by  patients-patients who have immunity to HIV through the HIV Controllers  Study. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;"I think we can form a group to analyze it. We have to find the genetic uniqueness of a person who has immunity," said Walker.&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Walker and his team took DNA samples from 900 HIV patients Controller or persons who have immunity to HIV earlier. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;They compare it with the genetic code contained in the 2600 people who give a normal response to HIV. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;For comparison, he uses the Genetic Wide Association Study (GWAS).&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;GWAS  will analyze single nucleotide polymorphism or changes in the genetic  code that gave rise to a variation in certain individuals. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Through  the study, Walker found, there are about 300 locations that are  statistically associated with the immune response to HIV. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;The locations were found associated with the genetic mengode immune protein called HLA proteins.&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Using  detailed mapping of the HLA region, Walker found an amino acid in HLA-B  proteins are different between normal individuals and HIV Controller. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;He said that amino acids may be responsible for immunity to HIV.&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;"Of  the 3 million nucleotides contained in the human genome, I found the  amino acids that make normal individuals and HIV Controller different,"  said Walker.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span title=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;HLA-B protein is a type of protein that is responsible for fighting the virus. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;However, so far unknown mechanism of these proteins to build immunity against HIV. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;"We're trying to figure out what these proteins do and defense mechanisms. There is still much work to do," said Walker.&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;An understanding of the mechanism of action of these proteins is likely to underlie the development of vaccines. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;"It  takes a long time to understand it. But the good news is there is  knowledge about the immune system. That means there is good news for the  vaccine because the vaccine is to manipulate the principle of  immunity," said Walker who published his research in Nature journal  sites, 4 November.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;ng harus  dilakukan," ujar Walker.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  Pemahaman tentang mekanisme kerja  protein tersebut sangat mungkin  mendasari pengembangan vaksin. "Masih butuh waktu lama untuk  memahaminya. Tetapi, kabar baiknya adalah adanya  pengetahuan tentang  sistem kekebalan ini. Hal itu berarti ada kabar  bagus untuk vaksin  karena prinsip vaksin adalah memanipulasi kekebalan,"  kata Walker yang  mempublikasikan risetnya dalam situs &lt;em&gt;Jurnal Nature,&lt;/em&gt; 4 November lalu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-954223518794265531?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://health.kompas.com/read/2010/11/09/08330626/Asam.Amino.Kunci.Kebal.HIV' title='Asam Amino, Kunci Kebal HIV'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/954223518794265531/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/04/asam-amino-kunci-kebal-hiv.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/954223518794265531'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/954223518794265531'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/04/asam-amino-kunci-kebal-hiv.html' title='Asam Amino, Kunci Kebal HIV'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-8524951252793182542</id><published>2011-04-24T18:33:00.000+07:00</published><updated>2011-04-24T18:33:45.473+07:00</updated><title type='text'>Ada Kaitan HIV dengan Resistensi Insulin</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Para  ilmuwan dari Fakultas Kedokteran Universitas Washington menemukan  penyebab mengapa begitu banyak orang yang terserang virus HIV mengalami  resistensi insulin yang memicu diabetes dan penyakit jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut  mereka, masalahnya terletak pada obat yang mencegah perkembangan AIDS  dan memperpanjang umur pasien HIV. Para ilmuwan berharap, penemuan itu  akan membuka jalan bagi pengembangan obat antiviral yang lebih aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riset, yang dipublikasikan bulan ini dalam &lt;em&gt;Journal of Biological Chemistry&lt;/em&gt;,  menunjukkan, obat inhibitor protease HIV secara langsung mengganggu  pengendalian kadar gula darah dalam tubuh. Hal ini memicu resistensi  insulin, kondisi yang terjadi saat tubuh memproduksi insulin dalam  jumlah cukup tetapi tidak digunakan dengan tepat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paul Hruz,  guru besar pediatrik dan biologi pada Fakultas Kedokteran itu, memimpin  sebuah tim yang menemukan inhibitor protease generasi pertama, termasuk  obat ritonavir, sebuah protein yang mengangkut glukosa dari darah ke  dalam sel yang memerlukan. Hal itu menaikkan kadar gula darah, sebuah  pertanda dari diabetes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Laboratorium kami menemukan bahwa salah  satu efek dari obat ini akan menghambat transportasi glukosa, salah satu  langkah paling penting dalam cara kerja insulin. Kini kami menemukan  mekanisme utamanya, kami akan mencoba untuk mengembangkan obat baru yang  mengobati HIV tapi tidak menyebabkan diabetes," katanya.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hruz  mengatakan sekitar 25 persen pasien HIV mengalami diabetes. Tim  tersebut bekerja dengan sebuah pengembang obat untuk menciptakan sebuah  obat baru HIV yang juga tidak menyebabkan virus itu menjadi resisten. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Human  Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menyerang bagian utama  sistem kekebalan tubuh, yang menyebabkan tubuh terbuka terhadap serangan  infeksi dan penyakit termasuk AIDS, yang merupakan tahap akhir dari  penyakit tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah AS memperkirakan terdapat lebih  dari 56.000 kasus baru HIV setiap tahun dan lebih dari 25 juta orang  meninggal akibat AIDS sejak penyakit itu pertama kali ditemukan oleh  Pusat untuk Kendali Penyakit AS pada 1981.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="left" style="text-align: justify;"&gt;         &lt;div class="left pr_5 pt_5 font11 c_abu"&gt;&lt;strong&gt;Sumber :&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="left pt_5 c_abu01_kompas2011 font12"&gt;RTR,ANT&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Scientists from the Faculty of Medicine, University of Washington found the cause of why somany people are stricken with the HIV virus that triggers insulin resistant diabetes and heart disease.&lt;/div&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span title=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span title=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;According to them, the problem lies in drugs that prevent the development of AIDS and prolong the life of HIV patients. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Scientists hope the finding will pave the way for the development of antiviral drugs that are safer.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span title=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span title=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;The  research, published this month in the Journal of Biological Chemistry,  shows, HIV protease inhibitor drugs directly interfere with control of  blood sugar levels in the body. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;This  triggers insulin resistance, a condition that occurs when the body to  produce insulin in sufficient quantities but not used properly.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span title=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span title=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Paul  Hruz, professor of pediatrics and biology at the Faculty of Medicine,  led a team that discovered the first-generation protease inhibitors,  including ritonavir drug, a protein that transports glucose from the  blood into the cells that need. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;It was to raise blood sugar levels, a sign of diabetes.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span title=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span title=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;"Our  laboratory found that one effect of this drug would inhibit the  transport of glucose, one of the most important steps in the workings of  insulin. Now we find the main mechanism, we will try to develop new  drugs that treat HIV, but does not cause diabetes," he said.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span title=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span title=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Hruz said about 25 percent of HIV patients have diabetes. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;The team is working with a developer of drugs to create a new HIV drug that also does not cause the virus becoming resistant.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span title=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span title=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Human  Immunodeficiency Virus (HIV) is a virus that attacks the immune  system's main part, which causes the body open to infection and diseases  including AIDS, which is the final stage of the disease.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span title=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span title=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;The  U.S. government estimates there are more than 56,000 new cases of HIV  each year and more than 25 million people died from AIDS since the  disease was first discovered by the Center for Disease Control United  States in 1981.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="left" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="right"&gt;                                          &lt;div class="left pr_5"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php?u=http%3A%2F%2Fhealth.kompas.com%2Fread%2F2010%2F11%2F24%2F15121281%2FAda.Kaitan.HIV.dengan.Resistensi.Insulin&amp;amp;t=Ada%20Kaitan%20HIV%20dengan%20Resistensi%20Insulin%20-%20KOMPAS.com&amp;amp;src=sp" name="fb_share" style="text-decoration: none;" type="button_count"&gt;&lt;span class="fb_share_size_Small "&gt;&lt;span class="FBConnectButton FBConnectButton_Small" style="cursor: pointer;"&gt;&lt;span class="FBConnectButton_Text"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-8524951252793182542?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://health.kompas.com/read/2010/11/24/15121281/Ada.Kaitan.HIV.dengan.Resistensi.Insulin' title='Ada Kaitan HIV dengan Resistensi Insulin'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/8524951252793182542/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/04/ada-kaitan-hiv-dengan-resistensi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/8524951252793182542'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/8524951252793182542'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/04/ada-kaitan-hiv-dengan-resistensi.html' title='Ada Kaitan HIV dengan Resistensi Insulin'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-4429504864303060561</id><published>2011-04-24T18:21:00.000+07:00</published><updated>2011-04-24T18:21:05.976+07:00</updated><title type='text'>9 Mitos Seputar HIV/AIDS</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari  waktu ke waktu, kesalahpahaman tentang penyakit HIV/AIDS masih saja  terjadi. Banyak mitos seputar HIV/AIDS yang tidak kunjung hilang dan  masih saja melekat di benak masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Padahal, mitos  menyesatkan ini kerap merugikan, bukan hanya bagi individu atau pasien,  melainkan juga masyarakat secara umum. Berikut ini adalah 9 mitos paling  sering ditemukan seputar penyakit HIV/AIDS:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;1. Mengidap HIV berarti menderita AIDS&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mungkin ini adalah mitos paling populer. Banyak orang menganggap terinfeksi HIV berarti menderita AIDS. &lt;em&gt;Human immunodeficiency virus &lt;/em&gt;(HIV)  adalah virus yang menghancurkan sel-sel kekebalan tubuh seperti sel CD4  yang berperan membantu melawan penyakit. Dengan pengobatan yang tepat,  Anda bisa mengidap HIVselama bertahun-tahun, tetapi tidak berkembang  menjadi AIDS. Untuk bisa sampai ke tahap AIDS (&lt;em&gt;acquired immunodeficiency syndrome&lt;/em&gt;), Anda harus mengalami infeksi oportunistik atau jumlah sel CD4-nya di bawah 200 per milimeter kubik .&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;strong&gt;2. HIV dapat menular melalui kontak biasa&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Faktanya, seseorang tidak akan tertular atau menyebarkan HIV hanya  dengan memeluk orang lain, memakai handuk, atau memakai alat makan yang  sama. HIV dapat menyebar melalui kebiasaan atau perilaku seks tidak  aman, memakai jarum suntik bersama-sama, atau menato tubuh dengan alat  yang tidak steril.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;strong&gt;3. Pengidap HIV&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;berumur pendek&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setiap pengidap HIV akan mengalami hal yang berbeda-beda. Beberapa  pasien mungkin akan sampai pada tahap AIDS hanya dalam beberapa bulan  saja karena virus HIV dengan cepat melemahkan sistem kekebalan tubuhnya.  Namun, ada pula pasien yang bisa bertahan selama bertahun-tahun walau  tubuhnya mengidap HIV. Jadi, mereka sebenarnya mempunyai harapan hidup  yang sama. Pasien dapat melakukan pencegahan agar HIV tak berkembang  menjadi AIDS dengan selalu berkonsultasi dengan dokter dan mengikuti  rekomendasi medis.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;strong&gt;4. Anda tahu positif HIV karena merasakan gejalanya&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Beberapa pasien tidak menunjukkan gejala apa pun setelah selama  bertahun-tahun terinfeksi HIV. Namun, sebagian lagi mengalami gejala  hanya dalam kurun waktu 10 hari hingga beberapa pekan setelah  terinfeksi. Gejala yang muncul pertama kali mirip dengan flu atau &lt;em&gt;mononucleosis&lt;/em&gt;  disertai demam, kelelahan, ruam, dan sakit tenggorokan. Gejala-gejala  tersebut biasanya menghilang setelah beberapa pekan dan mungkin tidak  akan mengalami lagi gejala itu selama beberapa tahun. Satu-satunya cara  memastikan apakah Anda terinfeksi HIV adalah menjalani tes atau &lt;em&gt;screening&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;strong&gt;5. HIV dapat disembuhkan&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hingga saat ini belum ada obat yang mampu menyembuhkan HIV. Pengobatan  hanya sebatas untuk menjaga agar kadar virus tetap rendah dan membantu  mempertahankan sistem kekebalan tubuh.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;strong&gt;6. HIV hanya menginfeksi kelompok berisiko&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Faktanya HIV dapat menginfeksi siapa saja. Pria, wanita, anak-anak, baik yang &lt;em&gt;gay &lt;/em&gt;maupun &lt;em&gt;straight&lt;/em&gt;.  Data di Amerika Serikat, misalnya, kalangan pria yang melakukan  hubungan seks dengan sesama jenis berisiko hingga 53% terinfeksi HIV.  Kaum wanita menyumbang 27 persen infeksi baru, sedangkan anak-anak  menyumbang 13 persen infeksi baru. Sekitar 50 persen kasus baru HIV  setiap tahunnya di AS disumbangkan oleh kaum Afro-Amerika.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;strong&gt;7. Seks menjadi aman&amp;nbsp; untuk sesama pengidap HIV&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika Anda dan pasangan sama-sama terinfeksi HIV, bukan berarti Anda  tidak perlu lagi memerhatikan faktor keamanan saat berhubungan intim.  Menggunakan kondom atau karet pengaman lain dapat membantu melindungi  Anda dari penyakit menular seksual lainnya, selain juga mencegah  penularan &lt;em&gt;strain virus&lt;/em&gt; HIV lain, yang mungkin resisten terhadap  obat anti-HIV. Meskipun Anda sedang menjalani pengobatan atau merasa  sehat, Anda tetap berisiko terinfeksi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;strong&gt;8. Bayi dari ibu yang terinfeksi sudah pasti positif &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;HIV&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Ibu yang terinfeksi bisa menularkan HIV kepada bayi yang dilahirkannya  ketika proses kehamilan ataupun persalinan. Tetapi, risiko ini dapat  ditekan dengan cara bimbingan dokter dan mendapatkan perawatan dan  pengobatan yang tepat dari dokter. Wanita hamil yang mengidap HIV dapat  menjalani pengobatan untuk mengendalikan infeksi&amp;nbsp; an melindungi sang  bayi dalam rahim dari risiko tertular virus.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;strong&gt;9. Anda dapat mencegah infeksi lain terkait dengan HIV&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Karena melemahnya sistem kekebalan tubuh, mereka yang terinfeksi HIV&amp;nbsp;  menjadi sangat rentan terhadap beragam jenis infeksi, seperti &lt;em&gt;pneumocystis pneumonia&lt;/em&gt;,&lt;em&gt; tuberculosis, candidiasis, cytomegalovirus&lt;/em&gt;, dan &lt;em&gt;toxoplasmosis&lt;/em&gt;.  Cara terbaik untuk menekan risiko adalah menjalani pengobatan HIV  dengan disiplin.&amp;nbsp; Sejumlah&amp;nbsp; infeksi dapat dicegah dengan obat-obat  tertentu. Anda juga dapat menekan risiko dengan menghindari kontak  dengan kuman melalui sejumlah perilaku, seperti tidak memakan daging  setengah matang dan tidak meminum air yang terkontaminasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="left" style="text-align: justify;"&gt;         &lt;div class="left pr_5 pt_5 font11 c_abu"&gt;&lt;strong&gt;Sumber :&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="left pt_5 c_abu01_kompas2011 font12"&gt;&lt;a href="http://www.webmd.com/" target="_blank"&gt;WebMD&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="right" style="text-align: justify;"&gt;                                          &lt;div class="left pr_5"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/sharer.php?u=http%3A%2F%2Fhealth.kompas.com%2Fread%2F2010%2F12%2F01%2F09021789%2FInilah.9.Mitos.Seputar.HIV%2FAIDS&amp;amp;t=Inilah%209%20Mitos%20Seputar%20HIV%2FAIDS%20-%20KOMPAS.com&amp;amp;src=sp" name="fb_share" style="text-decoration: none;" type="button_count"&gt;&lt;span class="fb_share_size_Small "&gt;&lt;span class="FBConnectButton FBConnectButton_Small" style="cursor: pointer;"&gt;&lt;span class="FBConnectButton_Text"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fb_share_count  fb_share_count_right"&gt;&lt;span class="fb_share_count_inner"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div class="left pr_5" style="cursor: pointer;"&gt;&lt;a href="" rel="article_share" title="Share Tools"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="left pr_5"&gt;&lt;a href="" rel="article_email" title="Email this article"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;                    &lt;/div&gt;&lt;div class="list_share" id="share" style="display: run-in;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-4429504864303060561?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://health.kompas.com/read/2010/12/01/09021789/Inilah.9.Mitos.Seputar.HIV/AIDS' title='9 Mitos Seputar HIV/AIDS'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/4429504864303060561/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/04/9-mitos-seputar-hivaids.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/4429504864303060561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/4429504864303060561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/04/9-mitos-seputar-hivaids.html' title='9 Mitos Seputar HIV/AIDS'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-9114057029118904628</id><published>2011-04-24T18:17:00.000+07:00</published><updated>2011-04-24T18:17:09.914+07:00</updated><title type='text'>Kemungkinan Cara Baru Cegah HIV</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/11/09/0832308620X310.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="123" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/11/09/0832308620X310.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Peneliti dari University of Minnesota AS menemukan bahwa &lt;em&gt;human immunodeficiency virus&lt;/em&gt;  (HIV) mengikat dan menghancurkan protein antivirus khusus dalam tubuh  manusia yang disebut APOBEC3F. Hasil penelitian ini membuka kemungkinan  hadirnya pendekatan baru untuk memerangi HIV/AIDS dengan memanfaatkan  aktivitas antivirus di protein tertentu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sel manusia memproduksi proten antivirus &lt;em&gt;apolipoprotein B mRNA editing enzyme, catalytic polypeptide&lt;/em&gt;  (APOBEC) yang memiliki kemampuan unik dan alami untuk menghancurkan  HIV. Namun, HIV mengembangkan cara mengatasi hambatan dengan menggunakan  protein yang disebut &lt;em&gt;virion infectivity factor&lt;/em&gt; (Vif) untuk menurunkan protein APOBEC dan membuat virus menyebar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut John Albin, penulis riset yang dipublikasikan dalam&lt;em&gt; Journal of Biological Chemistry &lt;/em&gt;ini,  protein Vif juga berinteraksi dengan satu protein antiviral, yakni  APOBEC3F. Mereka juga menemukan bahwa interaksi tersebut dapat diganggu  dengan perubahan kecil kimia di permukaan APOBEC3F.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Ini  menunjukkan interaksi antara Vif dan protein antivirus APOBEC dapat  diblok dengan obat yang akan membentengi wilayah interaksi Vif.  Intervensi semacam itu memiliki potensi membuat sebanyak tujuh obat  antivirus alami berkembang dan mencegah HIV menyebar," kata Albin.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Studi  lebih lanjut diperlukan untuk melibatkan pemetaan lebih detail atas  interaksi fisik antara Vif dan protein APOBEC3, penyelidikan potensi HIV  menolak perubahan yang menstabilkan protein APOBEC3, dan komponen  seperti obat yang dapat membantu APOBEC menghancurkan HIV.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/logo/logo_ngi.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/logo/logo_ngi.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-9114057029118904628?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://health.kompas.com/read/2010/12/28/11201022/Kemungkinan.Cara.Baru.Cegah.HIV' title='Kemungkinan Cara Baru Cegah HIV'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/9114057029118904628/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/04/kemungkinan-cara-baru-cegah-hiv.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/9114057029118904628'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/9114057029118904628'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/04/kemungkinan-cara-baru-cegah-hiv.html' title='Kemungkinan Cara Baru Cegah HIV'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-6588462336417175340</id><published>2011-04-24T17:54:00.000+07:00</published><updated>2011-04-24T17:54:48.612+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='terapi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aids'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kesehatan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hiv'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='darah'/><title type='text'>Pengidap AIDS Sembuh berkat Transplantasi Sel Darah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Sebuah transplantasi sel darah yang cukup langka kemungkinan besar  menyembuhkan pria pengidap AIDS di Berlin, Jerman. Meski demikian, tim  dokter menyatakan, metode ini tidak bisa dipraktikkan secara luas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pria  berusia 40 tahun pengidap AIDS ini mendapatkan transplantasi darah sel  punca tahun 2007 untuk mengobati leukimia yang dideritanya. Ternyata  donor itu bukan cuma sama jenis darahnya, melainkan juga berdampak pada  mutasi genetik yang memberikan ketahanan alami terhadap HIV (virus yang  menurunkan sistem kekebalan manusia). Kini, tiga tahun  pasca-transplantasi, pengidap AIDS itu tidak menunjukkan gejala penyakit  leukimia atau infeksi HIV.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Terapi tersebut cukup menarik dan  memberi bukti penyembuhan HIV, namun metode itu terlalu berisiko untuk  menjadi terapi standar, bahkan bila donor yang sejenis bisa didapatkan,"  kata Dr Michael Saag, mantan ketua HIV Medicine Association, organisasi  kedokteran yang secara khusus menangani terapi AIDS.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pencangkokan  sumsum tulang atau sel punca, yang akhir-akhir ini banyak dilakukan,  sudah banyak dipakai dalam terapi kanker, tetapi jika dilakukan pada  orang sehat, dokter belum mengetahui risikonya. Terapi tersebut akan  menghancurkan sistem imun alamiah tubuh dengan obat-obatan dan radiasi  lalu menggantinya dengan sel donor untuk menumbuhkan sistem imun yang  baru. "Kegagalan atau risiko komplikasi dari metode ini mencapai 5  persen atau lebih," kata Saag.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena itulah penggunaan metode  tersebut pada orang yang sehat tidak menjadi pilihan utama mengingat  risikonya yang besar, terutama jika obat-obatan masih mampu menjaga  kondisi orang dengan HIV. "Bisa menjadi pengecualian jika orang dengan  HIV juga menderita kanker. Transplantasi bisa dipertimbangkan," katanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;A&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;blood&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;cell&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;transplantation&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;which&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;is&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;rare&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;most likely&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;to cure&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;men&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;with AIDS&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;in&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;Berlin&lt;/span&gt;&lt;span class="" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;,&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;Germany&lt;/span&gt;&lt;span class="" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;.&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;However&lt;/span&gt;&lt;span class="" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;,&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;team&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;doctors&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;said&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;this method&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;can not be&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;practiced&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;widely&lt;/span&gt;&lt;span class="" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;40-year&lt;/span&gt;&lt;span class="" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;-old man&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;with AIDS&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;is&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;getting&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;blood&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;stem cell&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;transplant&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;to&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;treat&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;leukemia&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;in&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;2007&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;he suffered&lt;/span&gt;&lt;span class="" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;.&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;Apparently&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;it&lt;/span&gt;&lt;span class="" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;'s not just&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;the same&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;donor&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;blood type&lt;/span&gt;&lt;span class="" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;,&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;but&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;also&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;affects&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;the&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;genetic&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;mutation&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;that&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;provides&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;natural&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;resistance&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;to&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;HIV&lt;/span&gt; &lt;span class="hps atn" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span class="" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;the virus that&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;reduce&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;the human&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;immune&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;system&lt;/span&gt;&lt;span class="" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;span class="" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;.&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;Now&lt;/span&gt;&lt;span class="" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;,&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;three&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;years&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;post&lt;/span&gt;&lt;span class="atn" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span class="" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;transplant&lt;/span&gt;&lt;span class="" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;,&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;people with&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;AIDS&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;showed no&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;symptoms&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;of leukemia&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;or&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;HIV&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;infection&lt;/span&gt;&lt;span class="" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt; &lt;span class="hps atn" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;"&lt;/span&gt;&lt;span class="" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;Therapy&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;is&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;fairly &lt;/span&gt;&lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;exciting &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;and&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;provide&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;evidence of&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;cure&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;HIV&lt;/span&gt;&lt;span class="" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;,&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;but&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;the method&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;is&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;too&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;risky&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;to&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;be a&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;standard&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;therapy&lt;/span&gt;&lt;span class="" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;,&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;even&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;if&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;a&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;similar&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;donor&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;can be found&lt;/span&gt;&lt;span class="" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span class="" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;"&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;said&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;Dr.&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;Michael&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;Saag&lt;/span&gt;&lt;span class="" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;,&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;former chairman of the&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;HIV&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;Medicine&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;Association, a&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;medical&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;organization&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;that&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;specifically&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;deal with&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;AIDS&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;therapy&lt;/span&gt;&lt;span class="" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;Transplantation&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;of bone&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;marrow&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;or&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;stem cells&lt;/span&gt;&lt;span class="" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;,&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;which&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;lately&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;is mostly done&lt;/span&gt;&lt;span class="" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;,&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;has been&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;widely used&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;in&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;cancer therapy&lt;/span&gt;&lt;span class="" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;,&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;but&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;if&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;done&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;on&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;healthy people&lt;/span&gt;&lt;span class="" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;,&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;doctors&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;do not yet know&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;the risks.&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;The&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;therapy&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;will&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;destroy&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;the body's natural&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;immune&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;system&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;with&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;drugs&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;and&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;radiation&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;and then&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;replace it&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;with&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;donor&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;cells&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;to&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;grow&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;new&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;immune&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;system&lt;/span&gt;&lt;span class="" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;.&lt;/span&gt; &lt;span class="hps atn" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;"&lt;/span&gt;&lt;span class="" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;The failure&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;or&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;risk&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;of complications&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;of&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;this&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;method&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;reaches&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;5&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;percent&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;or&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;more&lt;/span&gt;&lt;span class="" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span class="" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;"&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;says&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;Saag&lt;/span&gt;&lt;span class="" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;That's why&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;the use of&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;such methods&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;in&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;a healthy person&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;does not&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;become&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;the primary&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;choice&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;considering&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;the risks&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;are great,&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;especially&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;if the&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;drugs&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;are still&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;able to&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;maintain the&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;condition of&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;people&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;with&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;HIV&lt;/span&gt;&lt;span class="" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;.&lt;/span&gt; &lt;span class="hps atn" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;"&lt;/span&gt;&lt;span class="" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;It could&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;be&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;an exception&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;if&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;a person with&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;HIV&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;also&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;suffer from&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;cancer&lt;/span&gt;&lt;span class="" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;.&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;Transplantation&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;could&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;be considered&lt;/span&gt;&lt;span class="" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span class="" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;"&lt;/span&gt; &lt;span class="hps" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;he said&lt;/span&gt;&lt;span class="" title="Klik untuk terjemahan alternatif"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-6588462336417175340?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://health.kompas.com/read/2010/12/15/10454057/Pengidap.AIDS.Sembuh.berkat.Transplantasi.Sel.Darah' title='Pengidap AIDS Sembuh berkat Transplantasi Sel Darah'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/6588462336417175340/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/04/pengidap-aids-sembuh-berkat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/6588462336417175340'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/6588462336417175340'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/04/pengidap-aids-sembuh-berkat.html' title='Pengidap AIDS Sembuh berkat Transplantasi Sel Darah'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-1882848339861139410</id><published>2011-04-24T17:45:00.000+07:00</published><updated>2011-04-24T17:45:20.446+07:00</updated><title type='text'>HIV in Children the more Issues</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span title=""&gt;The challenge of HIV / AIDS increasingly heavy. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Along with the increasing number of women infected with HIV, children were at risk of contracting. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Children with HIV and a very heavy burden.&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;It  was revealed among other year-end reflections on the show with the  topic "Can We Maintain Every Child Indonesia Avoided from HIV", Thursday  (30/12).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Based on data from the  Ministry of Health by 30 September 2010, the percentage of cumulative  AIDS cases by age group for less than 1 year of age as much as 1  percent, ages 1-4 years at 1.2 percent, and ages 5-14 years of 0.7  percent. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;While children aged 15-19 years by 2.9 percent. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;In addition, cumulative AIDS cases of all ages total 22 726 carrying case. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;The estimate by the UN Agency to issue AIDS (UNAIDS), in 2005 estimated 3,000 infants born with HIV every year in Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Implementation  of prevention programs of mother to child transmission of HIV (PMTCT),  which aims to save mothers and babies from HIV infection has not been  addressed. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;PMTCT complete at least  include providing antiretrovirals to HIV positive pregnant mothers, the  birth of the operation, and provision of food for infants.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;A  pediatrician from the Faculty of Medicine, University of Indonesia /  National Center for Public Hospital (RSUPN) Dr Cipto Mangunkusumo, Prof.  Dr. Arwin Akib KAI SpA, said today at Cipto Mangunkusumo there are  about 400 children with HIV / AIDS. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;If the cases were traced, about 50 percent of pregnant women who receive PMTCT services.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span title=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;"Prevention of HIV transmission from mother to infant is very important and can not do half-half," he said.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;The more complex&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Physician  mental health specialist from the Faculty of medicine / Cipto  Mangunkusumo, Kristina systematic, say, the problem of HIV in children  is very complex so that the necessary physical and mental health  services are integrated.&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;The  children need physical care because children with HIV are more  susceptible to opportunistic infections due to weak immune system. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;In addition, the psychological aspects also need attention. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;These children face the negative stigma of society towards them. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;On the other hand the children often live without parents or with parents who are also infected with HIV.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;"Most children with HIV are living as orphans, strays, or have lost both parents so that was raised by guardians," he said.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Guardians and parents are very prone to experiencing depression. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Kristina  said, according to a study the Department of Psychiatry Cipto  Mangunkusumo, about 40 percent of guardians or parents are HIV-positive  children in the hospital having a psychiatric disorder, in this case the  depression of having to bear the problems of life in the community that  are less supportive.&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Separately,  the Public Relations AIDS Commission (NAC) of West Java, Tri Irwanda, in  Bandung on Sunday (2 / 1), said that, based on data KPA Jabar, 1989 to  June 2010, recorded 108 cases of HIV / AIDS among children under five. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;As for the children aged 5-14 years recorded 47 cases of transmission in the same period.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Other  data show, the risk of most infections occur during labor by 18  percent, within the content of 6 percent, and postpartum at 4 percent.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-1882848339861139410?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://health.kompas.com/read/2011/01/03/06215012/HIV.pada.Anak.Makin.Jadi.Masalah' title='HIV in Children the more Issues'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/1882848339861139410/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/04/hiv-in-children-more-issues.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/1882848339861139410'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/1882848339861139410'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/04/hiv-in-children-more-issues.html' title='HIV in Children the more Issues'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-490025832683968332</id><published>2011-04-24T17:32:00.000+07:00</published><updated>2011-04-24T17:32:42.548+07:00</updated><title type='text'>Vulnerable Teenage Girls Infected of HIV</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span title=""&gt;Women and girls were more vulnerable to contracting HIV. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;The study shows, the chances of women and girls infected with HIV 2.5 times higher than boys and young men.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span title=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span title=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;UN  Agency to Fight AIDS (UNAIDS) report, 67 percent of new cases of HIV  and AIDS in developing countries exist at young ages (15-24 years). &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Of these, 64 percent are women and girls.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span title=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span title=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;As  stated by Deputy Head of Gender Mainstreaming for Political, Social,  and Legal Empowerment of Women and Child Protection drg. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Ida  Suselo Wulan, MM in a keynote speech read out to replace the Minister  of Women Empowerment and Child Protection Linda Amalia Sari Gumelar here  on Tuesday (18/01/2011).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span title=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span title=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;The notion of society that HIV / AIDS is only experienced by women sex workers are untrue. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;That's because today women are not doing a lot of risky behavior with HIV infection from their permanent partner (husband).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span title=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span title=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;"The  vulnerability of women to HIV is caused more gender imbalance resulting  in the inability of women to control the sexual behavior of husbands  and lack of medical care of HIV / AIDS," said Ida.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span title=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span title=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Lack of understanding "the concept of gender" in the family makes the bargaining position of women is very low. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Inequality of gender relations, both socially and economically, is the main driver of the spread of the HIV epidemic. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;That is, if gender equality happen, women could make their own decisions about sexuality activity.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span title=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span title=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;"Gender  equality in family and society to eliminate the vulnerability of women  to HIV / AIDS," said Secretary of the National AIDS Commission Dr.  Nafsiah Mboi, MPH, who is one of the speakers at the National Seminar on  "Accelerating Achievement of Objective 6 MDG's to Realize Women &amp;amp;  Children Free of HIV-AIDS &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;".&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span title=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span title=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;According to latest reports NAC, the number of AIDS cases in Indonesia based on sex in 2010 as many as 22,726 cases. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;A total of 16,731 cases or 73.62 percent are male, while 5911 cases or 26.01 percent are female. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;A total of 84 cases or 0.37 percent of unknown gender. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;The ratio of AIDS cases between men and women is 2.83 to 1.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span title=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span title=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span title=""&gt;The problem of HIV / AIDS surfaced in Indonesia, beginning with the discovery of first case in 1987 in Bali. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;By the year 2000, an accelerated accretion People With HIV and AIDS (PLWHA) by leaps and bounds. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Even entering the year 2000, there are locations where HIV transmission is high (a concentrated epidemic level.)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-490025832683968332?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://health.kompas.com/index.php/read/2011/01/18/14375047/Remaja.Putri.Rentan.Tertular.HIV' title='Vulnerable Teenage Girls Infected of HIV'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/490025832683968332/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/04/vulnerable-teenage-girls-infected-of.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/490025832683968332'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/490025832683968332'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/04/vulnerable-teenage-girls-infected-of.html' title='Vulnerable Teenage Girls Infected of HIV'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-4648648525790043246</id><published>2011-04-24T15:36:00.000+07:00</published><updated>2011-04-24T15:36:35.535+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="google-site-verification:%20google1b48f487d6c49a26.html"&gt;google-site-verification: google1b48f487d6c49a26.html&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-4648648525790043246?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/4648648525790043246/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/04/google-site-verification.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/4648648525790043246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/4648648525790043246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/04/google-site-verification.html' title=''/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-2729109770440806650</id><published>2011-04-24T15:15:00.002+07:00</published><updated>2011-04-24T15:15:18.942+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://google1b48f487d6c49a26.html/"&gt;google1b48f487d6c49a26.html&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-2729109770440806650?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/2729109770440806650/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/04/google1b48f487d6c49a26.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/2729109770440806650'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/2729109770440806650'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/04/google1b48f487d6c49a26.html' title=''/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-32162273377060471</id><published>2011-03-18T02:44:00.002+07:00</published><updated>2011-03-18T02:44:15.980+07:00</updated><title type='text'>Cheese</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh4.googleusercontent.com/-4-7rgx5bf7c/TYJkeaeUoOI/AAAAAAAAAFY/7GTSCLyuqDM/s1600/my+son2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="https://lh4.googleusercontent.com/-4-7rgx5bf7c/TYJkeaeUoOI/AAAAAAAAAFY/7GTSCLyuqDM/s320/my+son2.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-32162273377060471?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/32162273377060471/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/cheese.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/32162273377060471'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/32162273377060471'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/cheese.html' title='Cheese'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='https://lh4.googleusercontent.com/-4-7rgx5bf7c/TYJkeaeUoOI/AAAAAAAAAFY/7GTSCLyuqDM/s72-c/my+son2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-5020999779968583405</id><published>2011-03-16T15:34:00.001+07:00</published><updated>2011-03-16T17:23:29.801+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aids'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kesehatan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hiv'/><title type='text'>New tool tracks HIV epidemics in Indonesia</title><content type='html'>&lt;div style="color: #274e13; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small; line-height: 15px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;A team of Indonesian and Australian researchers has developed a new computerised tool to help authorities reduce HIV infection and track disease burden across the Indonesian archipelago.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Until now, tracking the HIV epidemic and collecting the information necessary to design HIV control measures in Indonesia has relied on models developed for other countries.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #274e13; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small; line-height: 15px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;The HIV in Indonesia Model, customised to the unique epidemic, behavioural and geographical variations of the archipelago, was launched in Jakarta.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #274e13; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small; line-height: 15px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;"HIV has had considerable negative impact in Indonesia," said lead researcher Associate Professor David Wilson, from Australia's National Centre in HIV Epidemiology and Clinical Research at the University of New South Wales. "Last year almost 485,000 Indonesians were living with HIV. This number is estimated to grow to 744,000 by 2020, with around 50,000 new infections each year."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #274e13; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small; line-height: 15px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;"The HIV in Indonesia Model, known as HIM, is based on world best practice and is the most customised and sophisticated computer model to be developed for the region," A/Professor Wilson said. "It uses all available data to match behaviours and trends with outcomes and should open a new era for the design of optimal public health prevention strategies."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #274e13; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small; line-height: 15px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;HIM is flexible for users to assess different possible combinations of past and future epidemic patters and programs. It can be used to look at unique populations, such as injecting drug users, sex workers, waria (transgenders) and men who have sex with men, as well as the general population.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #274e13; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small; line-height: 15px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;"HIM will allow Indonesia to understand the drivers for their epidemic and project the future course, both under current conditions and under scenarios where targeted interventions might be used," A/Professor Wilson said.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #274e13; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small; line-height: 15px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Dr Pandu Riono, lead partner from the Faculty of Public Health at the University of Indonesia, said: "The HIM tool will allow us for the first time to track past chains of transmission and to assess the effectiveness of different interventions, so that we are sure we are doing the best we can. This will allow us to implement the most effective public health control measures."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #274e13; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large; line-height: 15px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #274e13; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small; line-height: 15px;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Original news release can be found here:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #274e13; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small; line-height: 15px;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a class="smarterwiki-linkify" href="http://www.sciencealert.com.au/news/20111603-21956.html" style="line-height: 1.22em;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;www.sciencealert.com.au/news/20111603-21956.html&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-5020999779968583405?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.sciencealert.com.au/news/20111603-21956.html' title='New tool tracks HIV epidemics in Indonesia'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/5020999779968583405/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/new-tool-tracks-hiv-epidemics-in.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/5020999779968583405'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/5020999779968583405'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/new-tool-tracks-hiv-epidemics-in.html' title='New tool tracks HIV epidemics in Indonesia'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-1789538700793929834</id><published>2011-03-16T12:23:00.000+07:00</published><updated>2011-03-16T12:23:33.253+07:00</updated><title type='text'>Sandrova's Blog: 14 Ramuan Jambu Biji Berkhasiat</title><content type='html'>&lt;a href="http://shintasandrova.blogspot.com/2011/03/14-ramuan-jambu-biji-berkhasiat.html?spref=bl"&gt;Sandrova's Blog: 14 Ramuan Jambu Biji Berkhasiat&lt;/a&gt;: "Jambu biji (Psidium guajava L.) mengandung berbagai zat gizi yang dapat digunakan sebagai obat. Menurut catatan Parimin S.P. dalam Jambu Bij..."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-1789538700793929834?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://shintasandrova.blogspot.com/2011/03/14-ramuan-jambu-biji-berkhasiat.html?spref=bl' title='Sandrova&apos;s Blog: 14 Ramuan Jambu Biji Berkhasiat'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/1789538700793929834/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/sandrovas-blog-14-ramuan-jambu-biji.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/1789538700793929834'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/1789538700793929834'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/sandrovas-blog-14-ramuan-jambu-biji.html' title='Sandrova&apos;s Blog: 14 Ramuan Jambu Biji Berkhasiat'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-299618152385190407</id><published>2011-03-15T23:23:00.000+07:00</published><updated>2011-03-15T23:23:51.981+07:00</updated><title type='text'>Born HIV Free: Inside - Don't Let AIDS Destroy Their Future</title><content type='html'>&lt;iframe src="http://www.youtube.com/embed/sfQ9aMpoXvQ?fs=1" allowfullscreen="" width="480" frameborder="0" height="295"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-299618152385190407?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.youtube.com/watch?v=sfQ9aMpoXvQ' title='Born HIV Free: Inside - Don&apos;t Let AIDS Destroy Their Future'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/299618152385190407/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/born-hiv-free-inside-dont-let-aids.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/299618152385190407'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/299618152385190407'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/born-hiv-free-inside-dont-let-aids.html' title='Born HIV Free: Inside - Don&apos;t Let AIDS Destroy Their Future'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://img.youtube.com/vi/sfQ9aMpoXvQ/default.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-2896949329999206060</id><published>2011-03-15T23:06:00.000+07:00</published><updated>2011-03-15T23:06:51.219+07:00</updated><title type='text'>Grace's Story (Part One)</title><content type='html'>&lt;iframe src="http://www.youtube.com/embed/ZEfLPWisPJA?fs=1" allowfullscreen="" width="480" frameborder="0" height="295"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-2896949329999206060?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.youtube.com/watch?v=ZEfLPWisPJA' title='Grace&apos;s Story (Part One)'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/2896949329999206060/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/graces-story-part-one.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/2896949329999206060'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/2896949329999206060'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/graces-story-part-one.html' title='Grace&apos;s Story (Part One)'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://img.youtube.com/vi/ZEfLPWisPJA/default.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-7130929965478820444</id><published>2011-03-15T22:52:00.000+07:00</published><updated>2011-03-15T22:52:04.401+07:00</updated><title type='text'>Born HIV Free: Achievements of the Campaign to Move us Toward an HIV fre...</title><content type='html'>&lt;iframe src="http://www.youtube.com/embed/-ULXX3qOi3g?fs=1" allowfullscreen="" width="480" frameborder="0" height="295"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-7130929965478820444?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.youtube.com/watch?v=-ULXX3qOi3g' title='Born HIV Free: Achievements of the Campaign to Move us Toward an HIV fre...'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/7130929965478820444/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/born-hiv-free-achievements-of-campaign.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/7130929965478820444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/7130929965478820444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/born-hiv-free-achievements-of-campaign.html' title='Born HIV Free: Achievements of the Campaign to Move us Toward an HIV fre...'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://img.youtube.com/vi/-ULXX3qOi3g/default.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-470781271302272929</id><published>2011-03-15T22:36:00.000+07:00</published><updated>2011-03-15T22:36:21.369+07:00</updated><title type='text'>The Global Fund: Together We Can Do Great Things</title><content type='html'>&lt;iframe src="http://www.youtube.com/embed/uAGLJn9tSto?fs=1" allowfullscreen="" width="480" frameborder="0" height="295"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-470781271302272929?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.youtube.com/watch?v=uAGLJn9tSto' title='The Global Fund: Together We Can Do Great Things'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/470781271302272929/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/global-fund-together-we-can-do-great.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/470781271302272929'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/470781271302272929'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/global-fund-together-we-can-do-great.html' title='The Global Fund: Together We Can Do Great Things'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://img.youtube.com/vi/uAGLJn9tSto/default.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-7122744375656393893</id><published>2011-03-15T19:42:00.000+07:00</published><updated>2011-03-15T19:42:28.410+07:00</updated><title type='text'>Bakteri Susu Formula Bersifat Akut</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menteri Kesehatan, Endang Rahayu Sedyaningsih, mengatakan bakteri &lt;em&gt;Enterobacter Sakazakii &lt;/em&gt;bersifat akut atau menjangkiti segera. Karena itu, gejala penyakit akan segera muncul setelah susu formula berbakteri &lt;em&gt;Enterobacter Sakazakii&lt;/em&gt; dikonsumsi. "Jadi kalau yang mengkonsumsi susu saat itu tidak sakit, maka ia  tidak sakit," kata Endang dalam konferensi pers Rakorkesnas 2011 di  Batam, Selasa (8/3).&lt;br /&gt;Menkes menjelaskan bahwa bakteri &lt;em&gt;Enterobacter Sakazakii &lt;/em&gt;juga tidak bersifat &lt;em&gt;carrier &lt;/em&gt;(pembawa) atau &lt;em&gt;dormant &lt;/em&gt;(tidur  di tubuh penderita) sehingga masyarakat tidak perlu khawatir dengan  dampak bakteri tersebut. Selain itu, Kementerian Kesehatan juga belum  pernah mendapatkan laporan mengenai bayi atau balita yang sakit akibat  terjangkit &lt;em&gt;Enterobacter Sakazakii&lt;/em&gt; lewat konsumsi susu formula.&lt;br /&gt;Pemerintah melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah  melakukan pengujian terhadap sampel susu formula yang beredar di pasar  sejak 2008. Pemerintah tidak menemukan adanya susu yang tercemar bakteri  &lt;em&gt;Enterobacter Sakazakii&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;Untuk meyakinkan masyarakat, Badan Litbang Kemenkes bersama BPOM akan  melakukan pengujian kembali seluruh sampel susu di pasaran untuk  mencari cemaran seluruh bakteri, bukan hanya Enterobacter Sakazakii.&lt;br /&gt;"Pengujian membutuhkan waktu sekitar enam bulan. Hasilnya nanti akan kita umumkan ke masyarakat," janji Menkes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="abu-tebal"&gt;Red:&lt;/span&gt; &lt;span class="abu-tipis"&gt;Didi Purwadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="abu-tebal"&gt;Sumber:&lt;/span&gt; &lt;span class="abu-tipis"&gt;Antara&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-7122744375656393893?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/kesehatan/11/03/08/167975-menkes-bakteri-susu-formula-bersifat-akut' title='Bakteri Susu Formula Bersifat Akut'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/7122744375656393893/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/bakteri-susu-formula-bersifat-akut.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/7122744375656393893'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/7122744375656393893'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/bakteri-susu-formula-bersifat-akut.html' title='Bakteri Susu Formula Bersifat Akut'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-5284523173899864503</id><published>2011-03-15T19:37:00.000+07:00</published><updated>2011-03-15T19:37:15.033+07:00</updated><title type='text'>PNS di Jambi akan Jalani Tes AIDS</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Komisi Penanggulangan  Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) Kabupaten Tanjung Jabung  Barat, Jambi berencana akan mengecek darah seluruh pegawai negeri sipil  di daerah itu. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dihubungi di Kualatungkal, ibu kota Kabupaten Tanjung Jabung Barat  (Tanjabbar), Minggu, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA)  Kabupaten Tanjabbar, Dwikora Sulaksono mengatakan, tujuan pengecekan  tersebut untuk mengetahui dan mendeteksi sejauh mana pengaruh penyakit  AIDS di masyarakat khususnya kalangan pegawai di lingkup Pemkab  Tanjabbar.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Kami sudah membahasnya dengan Dinas Kesehatan setempat. Jika memang  tidak ada itu lebih baik, namun apabila terbukti ada pegawai yang  terkena penyakit itu naka bisa ditindaklanjuti sejak dini," ujarnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rencana pengambilan sampel darah seluruh pegawai di Tanjabbar sudah  dirancang sejak lama, namun baru tahun ini akan direlaisasikan. "Kami  tinggal menentukan kapan waktu pelaksanaannya saja," katanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ia menjelaskan, jika virus tersebut terdeteksi sejak dini maka  perkembangan virus paling ditakuti di dunia itu bisa ditekan, sebab  tidak banyak orang yang tahu gejala-gejala yang ditimbulkan. Tidak hanya  para pegawai di Tanjabbar, KPA Tanjabbar juga berencana melakukan hal  yang sama bagi seluruh remaja di daerah itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Kami berharap ada kerja sama yang baik di masyarakat. Bukan untuk  mencari siapa yang terkena penyakit, namun semata-mata demi kesehatan  seluruh masyarakat," ujarnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berdasarkan data di KPA Tanjabbar, jumlah pengidan HIV maupun AIDS di  Jambi tercatat sudah mencapai 600 orang lebih. Khusus di Tanjabbar  diperkirakan mencapai angka 130 orang lebih. "Angka tepatnya cukup sulit  terdata, mengingat banyak masyarakat yang enggan melapor. Angka yang  ada hanya data dari Dinas Kesehatan yang bersumber dari tiap rumah  sakit," tambahnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;             &lt;span class="abu-tebal"&gt;Red:&lt;/span&gt; &lt;span class="abu-tipis"&gt;Stevy Maradona&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="abu-tebal"&gt;Sumber:&lt;/span&gt; &lt;span class="abu-tipis"&gt;Antara&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-5284523173899864503?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/kesehatan/11/03/13/169084-pns-di-jambi-akan-jalani-tes-aids' title='PNS di Jambi akan Jalani Tes AIDS'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/5284523173899864503/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/pns-di-jambi-akan-jalani-tes-aids.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/5284523173899864503'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/5284523173899864503'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/pns-di-jambi-akan-jalani-tes-aids.html' title='PNS di Jambi akan Jalani Tes AIDS'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-8222342342360063274</id><published>2011-03-15T19:34:00.000+07:00</published><updated>2011-03-15T19:34:37.794+07:00</updated><title type='text'>Menkes Kritik Kinerja Perhimpunan Konselor HIV</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pembukaan Musyawarah Nasional kedua Perhimpunan Konselor VCT HIV  Indonesia (PKVHI) di Nusa Dua, Bali, Kamis, disambut kritik dari Menteri  Kesehatan Endang R Sedyaningsih terkait kinerja organisasi tersebut.  Kritikan tersebut muncul setelah Menkes mendengarkan laporan panitia  yang disampaikan dr Diah Setia Utami, Sp.KJ, MARS selaku Ketua Umum  PKVHI terkait dengan data penderita HIV yang telah melakukan konseling  dan tes (VCT) pada 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Diah, selama 2010 hanya ada  192.076 orang yang melakukan tes HIV di layanan VCT. Data tersebut jauh  dari yang ditargetkan Kemenkes 300.000 orang. Padahal, PKHVI telah  memiliki lebih dari 2.000 orang yang terlatih untuk menjadi konselor VCT  HIV dan sudah tersedia 388 klinik VCT aktif yang tersebar di seluruh  provinsi di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritik dari Menkes muncul, mengingat  permasalahan HIV/AIDS di Indonesia sejak 10 tahun terakhir menunjukkan  peningkatan yang signifikan. Menurut Menkes Endang R Sedyaningsih,  berdasarkan estimasi ODHA (orang dengan HIV/AIDS), jumlah populasi rawan  tertular HIV mencapai 6,3 juta orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dari jumlah tersebut  sampai Desember 2010 yang melakukan konseling dan tes sebanyak 535.943  orang dengan hasil HIV positif tercatat 55.848 orang. Berdasarkan data  tersebut, cakupan konseling dan tes HIV yang dilakukan pada populasi  rawan secara kumulatif di bawah 10 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, PKVHI  sebagai organisasi yang menaungi para konselor HIV di Indonesia diminta  membantu optimalisasi layanan konseling dan tes serta berkontribusi  dalam perubahan perilaku masyarakat untuk dapat mengendalikan penyebaran  HIV/AIDS. Penanganan HIV di Indonesia, katanya, telah tertuang dalam  RPJMN, Renstra Kemkes dan MDG?s, terutama dalam "goal" yang keenam,  yakni terkait dengan pengendalikan penularan HIV, malaria, TB dan  penyakit menular lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan hal itu, menurut Menkes,  pemerintah juga telah menjabarkan dalam Inpres No.1 tahun 2010 yang  disusul dengan Inpres No.3 tahun 2010 dengan salah satu indikatornya  adalah jumlah orang yang dikonseling dan dites HIV. Untuk membantu  pencapaian Millenium Development Goals (MDGs) tersebut, maka sesuai  dengan AD/ART organisasi, PKVHI menggelar munas kedua, 9-12 Maret 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan  tersebut mengagendakan restrukturisasi pengurus 2011-2014, evaluasi  kerja dan perbaikan AD/ART sehingga ke depan PKVHI diharapkan dapat  memenuhi target pemerintah dalam menangani HIV.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="submenu"&gt;         &lt;/div&gt;&lt;div class="sub-title"&gt;    &lt;a href="http://www.republika.co.id/"&gt;Republika OnLine&lt;/a&gt; »        &lt;a href="http://www.republika.co.id/kanal/breaking-news"&gt;Breaking News&lt;/a&gt; »     &lt;a href="http://www.republika.co.id/kanal/breaking-news/kesehatan"&gt;Kesehatan&lt;/a&gt;      &lt;/div&gt;&lt;span class="abu-tebal"&gt;Red:&lt;/span&gt; &lt;span class="abu-tipis"&gt;Krisman Purwoko&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="abu-tebal"&gt;Sumber:&lt;/span&gt; &lt;span class="abu-tipis"&gt;antara&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-8222342342360063274?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/kesehatan/11/03/10/168585-menkes-kritik-kinerja-perhimpunan-konselor-hiv' title='Menkes Kritik Kinerja Perhimpunan Konselor HIV'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/8222342342360063274/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/menkes-kritik-kinerja-perhimpunan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/8222342342360063274'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/8222342342360063274'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/menkes-kritik-kinerja-perhimpunan.html' title='Menkes Kritik Kinerja Perhimpunan Konselor HIV'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-6816184203013048754</id><published>2011-03-14T02:14:00.000+07:00</published><updated>2011-03-14T02:20:42.649+07:00</updated><title type='text'>googlehostedservice</title><content type='html'>&lt;a href="google483ed4b555014b47.html"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-6816184203013048754?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/6816184203013048754/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/googlehostedservice.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/6816184203013048754'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/6816184203013048754'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/googlehostedservice.html' title='googlehostedservice'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-6899100853386001093</id><published>2011-03-11T22:02:00.001+07:00</published><updated>2011-03-14T23:19:37.335+07:00</updated><title type='text'>Perawat RSU Pirngadi Tolak Penderita AIDS</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Peristiwa ini terjadi di RSU Pirngadi Medan. Seorang penderita AIDS sempat terlantar dua jam karena ditolak perawat dengan alasan tidak ada ruangan khusus ICU menampung penderita AIDS.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Insiden itu terjadi pekan lalu, namun hingga Selasa (1/2) menuai kritik kalangan aktivis dan DPRD Medan. Pasien malang itu BS (38). Saat datang ke Pirngadi, dia dalam kondisi kritis karena tidak makan selama tiga hari. Namun sempat ditolak paramedis dengan alasan pasien HIV/AIDS harus ditempatkan di tempat khusus, isolasi yang tidak tersedia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untunglah Direktur RSU Pirngadi Medan, Dewi Syahnan cepat mengetahuinya, dan memberikan izin bagi pasien tersebut untuk dirawat di ruang ICU.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Ini bukti sosialisasi penanganan AIDS belum terlaksana dengan baik termasuk di kalangan para medis. Ini sangat memprihatinkan. Masa iya tim medis tidak mengetahui seperti apa penanganan penyakit tersebut," kata aktivis HIV/AIDS dari Medan Plus, Maria sembari menambahkan, tim medis tidak seharusnya lagi meminta agar pasien tersebut dirujuk, melainkan segera ditangani.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Secara terpisah, Wakil Ketua Fraksi PDIP DPRD Medan, Hasyim mengingatkan, perlu adanya sosialisasi yang dilakukan pemerintah secara maksimal, mengingat kasus HIV/AIDS semakin mengkhawatirkan di Medan. "Selain tidak hanya orang dewasa, kini anak-anak yang tidak berdosa juga telah banyak yang terjangkit," katanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hasyim menambahkan, sosialisasi AIDS harus menyentuh masyarakat awam. Sebab banyak masyarakat yang kurang memahaminya bagaimana penularannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Vice Presiden Lions Club Medan Vioner Diamond yang intens melakukan aksi donor darah mengatakan, saat ini belum ada untuk tahapan pemeriksaan darah penderita HIV/AIDS. Dia berharap, ke depan semua rumah sakit yang ada di Medan memiliki Voluntary Counseling Test (VCT), agar masyarakat dapat memeriksakan diri semakin mudah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan, Edwin membantah kurang melakukan sosialisasi HIV/AIDS. Sebaliknya, pihaknya selalu intens melakukan sosialisasi lintas sektoral."Kita tetap lakukan sosialisasi AIDS," tandasnya. (Ledi)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Sumber :harian-global.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-6899100853386001093?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=3900' title='Perawat RSU Pirngadi Tolak Penderita AIDS'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/6899100853386001093/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/perawat-rsu-pirngadi-tolak-penderita.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/6899100853386001093'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/6899100853386001093'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/perawat-rsu-pirngadi-tolak-penderita.html' title='Perawat RSU Pirngadi Tolak Penderita AIDS'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-1145491796296457461</id><published>2011-03-11T21:57:00.001+07:00</published><updated>2011-03-14T23:21:02.256+07:00</updated><title type='text'>2% Penderita TB Terjangkit HIV</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertumbuhan penderita Tuberclosis (TB) yang terjangkit HIV/AIDS di Indonesia mencapai 2%. Jumlah ini setara dengan 4.200 penderita dari 21.000 estimasi penderita TB positif di Sumatera Utara. Dengan estimasi 160 per 100.000 penduduk TB A positif.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kabid Pemberantasan Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumut dr Suryantini didampingi Kasi Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit menular Langsung Sukarni mengungkapkan, prevalensi atau perkiraan tersebut berdasarkan survei yang dilakukan di Yogyakarta. Didaerah tersebut ditemukan satu hingga dua persen yang terinfeksi HIV. Selain itu, sekira 60% penderita HIV dengan penyakit penyerta TB Positif.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Kebanyakan penderita HIV infeksi opportunistiknya atau penyakit penyertanya itu TB positif dan setiap penderita yang terjangkit HIV,tidak lagi memiliki gejala khusus terhadap penyakitTB positifnya,”jelasnya. Orang yang mengalami TB, kata Suryantini, gejalanya demam tidak terlalu tinggi tapi berlangsung lama.Biasanya dirasakan malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul, penurunan nafsu makan dan berat badan. Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah), perasaan tidak enak (malaise),lemah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagi penderita HIV dengan penyakit penyertanya TB Positif dapat diberikan pertolongan tergantung kondisi tubuh si pasien. “Jika kedua penyakit pada satu orang ditangani oleh karenanya bagi penderita resiko tinggi HIV,perlu dilakukan deteksi dini,”sebut Suhartini. Kasi Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit menular Langsung Sukarni menambahkan, tahun 2010 dari estimasi TB positif tersebut ditemukan 75,1% dari target 70% dengan tingkat kesembuhan 85%.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk penanggulangannya, Dinas Kesehatan memberikan pelatihan bagi 20 petugas VCT dari kabupaten yang ada di Sumut.“Ini secara bertahap, dengan pelatihan tersebut akan memberikan pengetahuan dan wawasan untuk penangani kasus HIV ini,”ujarnya. Ketua Perhimpunan Pasien dan Masyarakat Peduli TB (Tuberculosis) Dr Delyuzar SpPA menambahkan, sepanjang 2010 sebutnya, ada sekitar 69 penderita TB positif yang ditangani pihaknya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hingga kini dari jumlah tersebut, belum ada kasus yang meninggal.Hanya ada yang diperiksa ulang, ada yang sedang dalam pengobatan, ada yang sudah sembuh da belum ada kasus meninggal. “Begitupun,TB ini penyakit yang berbahaya.Kalau terlambat ditangani, maka tidak bisa diganti parunya, bahkan bisa cacat pada parunya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penderita TB itu butuh proses penyembuhan minimal enam bulan dengan terus-terusan meminum obat yang kita beri,”jelasnya. Karena itu, kata dia,penderita TB harus diobati supaya tidak menularkan virus ke orang lain.Sebab,sering ditemui di lapangan penderita TB mengeluh hanya batuk biasa, sehingga merasa tidak perlu diobati. (eko agustyo fb)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Sumber : seputar-indonesia.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-1145491796296457461?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=3917' title='2% Penderita TB Terjangkit HIV'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/1145491796296457461/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/2-penderita-tb-terjangkit-hiv.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/1145491796296457461'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/1145491796296457461'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/2-penderita-tb-terjangkit-hiv.html' title='2% Penderita TB Terjangkit HIV'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-7137278886474251332</id><published>2011-03-11T21:53:00.002+07:00</published><updated>2011-03-15T00:07:58.708+07:00</updated><title type='text'>Diperbaharui – Undangan Pengajuan Proposal – PMTS secara Komprehensif di Jawa Timur, Jawa Tengah, DIY, Jawa Barat dan Banten 2011-2012</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;UNDANGAN PENGAJUAN PROPOSAL&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Komisi Penanggulangan AIDS Nasional membuka kesempatan pengajuan proposal kepada ORGANISASI MASYARAKAT SIPIL untuk mendukung upaya penanggulangan HIV dan AIDS, dalam rangka mewujudkan manusia pembangunan yang sehat dan produktif, melalui&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;PENCEGAHAN HIV MELALUI TRANSMISI SEKSUAL (PMTS) SECARA KOMPREHENSIF DI JAWA TIMUR, JAWA TENGAH,  DIY, JAWA BARAT DAN BANTEN 2011 – 2012.&lt;/div&gt;Kegiatan                                 Tanggal&lt;br /&gt;Periode Pengajuan Proposal  14 – 28 Maret 2011, Pukul 17:00 WIB&lt;br /&gt;Pengumuman Hasil Penerima Hibah  14 April 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan dan Persyaratan Pendaftaran adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Berbadan hukum dan dapat bekerja sama dengan KPA Provinsi, Kabupaten/ Kota, Dinas Kesehatan serta pemangku kepentingan lainnya.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Mempunyai pengalaman melaksanakan Program PMTS dan Bersedia melaksanakan 4 komponen PMTS di Kabupaten/ Kota dengan indikator dan target yang telah ditetapkan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proposal hard-copy di kirim ke&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komisi Penanggulangan AIDS Nasional&lt;br /&gt;Menara Eksekutif Lt.9,&lt;br /&gt;Jl. MH Thamrin Kav.9,&lt;br /&gt;Jakarta 10330,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;atau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam soft copy, maksimal 2 MB&lt;br /&gt;file terkompresi dalam format zip/rar&lt;br /&gt;ke ipf.proposal@aidsindonesia.or.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;*Catatan pembaharuan (10-Mar-2011):  Jawa Timur:  Kab.Tulungagung diganti Kota Jepara (DOKUMEN -2)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagi yang sudah mendownload sebelumnya silahkan download ulang dokumen tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;http://www.aidsindonesia.or.id/download/dok17.zip&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-7137278886474251332?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.aidsindonesia.or.id/undangan-pengajuan-proposal-pmts-secara-komprehensif-di-jawa-timur-jawa-tengah-diy-jawa-barat-dan-banten-2011-2012.html' title='Diperbaharui – Undangan Pengajuan Proposal – PMTS secara Komprehensif di Jawa Timur, Jawa Tengah, DIY, Jawa Barat dan Banten 2011-2012'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/7137278886474251332/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/diperbaharui-undangan-pengajuan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/7137278886474251332'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/7137278886474251332'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/diperbaharui-undangan-pengajuan.html' title='Diperbaharui – Undangan Pengajuan Proposal – PMTS secara Komprehensif di Jawa Timur, Jawa Tengah, DIY, Jawa Barat dan Banten 2011-2012'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-3730510216753188838</id><published>2011-03-11T21:49:00.001+07:00</published><updated>2011-03-14T23:23:52.082+07:00</updated><title type='text'>Gubernur Jateng dan DIY Raih AIDS Award</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo dan Gubernur DIY Sri Sultan Hemangku Buwono X kemarin menerima penghargaan dari Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Agung Laksono karena komitmen dan kepedulian yang tinggi dalam penanggulangan AIDS.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain Jateng dan DIY, penghargaan juga diberikan kepada delapan kepala daerah lain yakni dari Provinsi Kepulauan Riau, Riau, Bangka Belitung,DKI Jakarta, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Timur. Menko Kesra mengatakan, penghargaan ini diberikan atas dasar kriteria kepemimpinan,pemihakan kepada kelompok populasi kunci, dan dukungan kepada sekretariat Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) provinsi, kabupaten, dan kota.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Saya tahu, kita semua bekerja untuk kepentingan kesejahteraan rakyat, bukan karena mengharapkan penghargaan.Namun, penghargaan ini diharapkan dapat memacu semangat semua gubernur di 33 provinsi untuk terus berupaya meningkatkan program penanggulangan AIDS di daerahnya secara lebih intensif, menyeluruh, terpadu, dan terkoordinasi,” tegas Agung di Jakarta kemarin. Agung mengungkapkan,hingga Desember 2010, berdasarkan data yang diperoleh dari 32 provinsi dan 300 kabupaten/kota,tercatat jumlah kumulatif pasien AIDS mencapai 24.131 orang dan 55.848 orang terkena HIV, serta sepertiga dari penularan HIV secara keseluruhan ditemukan pada 2010.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berdasarkan jenis kelamin, 73% pasien berjenis kelamin lakilaki dan 26,6% lainnya perempuan. Daerah yang melaporkan angka AIDS tertinggi yaitu DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat,Papua, Bali, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara,dan DI Yogyakarta. (andi setiawan)&lt;/div&gt;Sumber: Seputar Indonesia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-3730510216753188838?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.aidsindonesia.or.id/gubernur-jateng-dan-diy-raih-aids-award.html' title='Gubernur Jateng dan DIY Raih AIDS Award'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/3730510216753188838/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/gubernur-jateng-dan-diy-raih-aids-award.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/3730510216753188838'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/3730510216753188838'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/gubernur-jateng-dan-diy-raih-aids-award.html' title='Gubernur Jateng dan DIY Raih AIDS Award'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-9165520512501078244</id><published>2011-03-11T21:43:00.002+07:00</published><updated>2011-03-15T00:03:54.956+07:00</updated><title type='text'>Lupus Causes HIV Positive Results</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;HIV tests come up positive for everything. Here researchers find that ‘specific’ HIV test proteins are…yes, non-specific. Again. And again. And again. But, they note, anyone with an ‘autoimmune disease’ should always be tested for “HIV!”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;What about the ‘false’ results? They declare using a Western Blot should sort it out. Never mind that Western Blots contain precisely the same proteins as ELISA tests. Never mind that they have no standards for interpretation from lab to lab, country to country; or that some countries, like the UK, won’t use them because they consider them so awful!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;But because the tests are so awful, they ‘suggest’ using PCR. Which work just as well. Ehm…badly. You can read about the wonders of PCR Here – these tests also have no standard, give no reproducible results, and come up positive and negative in the same sample from lab to lab, hour to hour, minute to minute. It’s a real ‘wheel of fortune’ with “HIV Testing.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;False positive results were obtained for HIV tests in two men with active systemic lupus erythematosus (SLE) who were suspected of being infected with HIV because of fever, weight loss, lymphadenopathy, and inflammatory myopathy. Enzyme linked immuno sorbent assays (ELISAs) for HIV were twice positive when tested three times over a period of six months.Western blot analysis showed reactivity against the gp4l band in patient 1. False positive results for HIV tests can occur in patients with SLE, potentially leading to an erroneous diagnosis of HIV infection.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Interestingly Golding et al’2 showed cross reacting antibodies recognising the HIV gp41 protein and the 13 domain of human major histocompatibility complex class II molecules in serum samples from patients with AIDS. Okudaira et all’ have reported the presence of antibodies to HLADR molecules in serum from patients with SLE. It is possible that serum samples from patient 1 had this pattern of cross reacting antibodies in the absence of HIV infection. Antibodies to the p24 gag protein of HIV1 have also been reported in patients with SLE.’4 Whether these antibodies arise by molecular mimicry to homologous host proteins or reflect viral infection remains to be established.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;The diagnosis of HIV infection should always be considered in patients presenting with clinical symptoms suggestive of asystemic autoimmune disease. The use of rigorous confirmatory testing by western blot analysis or immuno fluorescence assay is therefore mandatory. More sensitive assays such as gene amplification by the polymerase chain reaction may be necessary to confirm the presence of HIV infection in patients with unclear serological reactions.&lt;/div&gt;(reducetheburden.org)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-9165520512501078244?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://reducetheburden.org/?p=3936' title='Lupus Causes HIV Positive Results'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/9165520512501078244/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/lupus-causes-hiv-positive-results.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/9165520512501078244'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/9165520512501078244'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/lupus-causes-hiv-positive-results.html' title='Lupus Causes HIV Positive Results'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-590811992465755022</id><published>2011-03-04T00:42:00.003+07:00</published><updated>2011-03-15T00:06:03.223+07:00</updated><title type='text'>Mouth Problems and HIV</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Your Mouth, Your Health&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;When you are focused on your overall health and well-being—and especially when you are dealing with illness—it can be easy to overlook dental issues and oral healthcare.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;But good dental hygiene is an important part of managing your HIV disease. If you wait until you are having problems with your teeth and gums to see a dentist, you can end up dealing with infection, pain, and tooth loss.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Poor oral health can even lead to malnutrition. If you can’t chew or swallow because your mouth hurts, you may not eat enough to keep yourself healthy.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;HIV and Oral Health&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Your mouth may be the first part of your body to show signs of HIV infection. Oral opportunistic infections, such as candidiasis (thrush), are sometimes the first indicator that your immune system is not working properly—and oral health can be an important indicator of how HIV is affecting your body.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Anyone can have oral health problems, but HIV disease can make you more susceptible to:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Oral warts&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Fever blisters&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Oral hairy leukoplakia&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4. Thrush&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5. Canker sores&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;6. Cavities&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;7. Gum disease (periodontitis and gingivitis)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;People with HIV/AIDS may also experience dry mouth, which increases the risk of tooth decay and can make chewing, eating, swallowing, and even talking difficult. Some HIV medications can cause dry mouth.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;The best ways to avoid these problems include:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. See your dentist regularly and ask about the best way to care for your mouth and teeth.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Brush your teeth at least twice a day. (After every meal is better!)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Floss every day. Flossing cleans parts of your teeth that your toothbrush can’t reach.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4. Take all your HIV medications on schedule—this will protect your immune system and prevent oral    opportunistic infections.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5. Let your doctor know if your HIV meds are causing you to have dry mouth. There are remedies.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;6. Examine your mouth often and tell your primary care provider if you notice any unusual changes in the way your mouth looks or feels.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;7. If you do not have a dentist, ask your regular clinic or provider to refer you to one.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-590811992465755022?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.nidcr.nih.gov/OralHealth/Topics/HIV/MouthProblemsHIV/' title='Mouth Problems and HIV'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/590811992465755022/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/mouth-problems-and-hiv.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/590811992465755022'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/590811992465755022'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/mouth-problems-and-hiv.html' title='Mouth Problems and HIV'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-7656532871690912675</id><published>2011-03-04T00:35:00.003+07:00</published><updated>2011-03-15T00:13:07.380+07:00</updated><title type='text'>Opportunistic Infections</title><content type='html'>Opportunistic Infections and Their Relationship to HIV/AIDS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;People with healthy immune systems can be exposed to certain viruses, bacteria, or parasites and have no reaction to them—but people living with HIV/AIDS can face serious health threats from what are known as “opportunistic” infections (OIs). These infections are called “opportunistic” because they take advantage of your weakened immune system, and they can cause devastating illnesses.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;OIs are signs of a declining immune system. Most life-threatening OIs occur when your CD4 count is below 200 cells/mm3. OIs are the most common cause of death for people with HIV/AIDS.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;The CDC developed a list of more than 20 OIs that are considered AIDS-defining conditions—if you have HIV and one or more of these OIs, you will be diagnosed with AIDS, no matter what your CD4 count happens to be:&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Candidiasis of bronchi, trachea, esophagus, or lungs&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Invasive cervical cancer&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Coccidioidomycosis&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Cryptococcosis&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Cryptosporidiosis, chronic intestinal (greater than 1 month's duration)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Cytomegalovirus disease (particularly CMV retinitis)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Encephalopathy, HIV-related&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Herpes simplex: chronic ulcer(s) (greater than 1 month's duration); or bronchitis, pneumonitis, or esophagitis&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Histoplasmosis&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Isosporiasis, chronic intestinal (greater than 1 month's duration)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kaposi's sarcomav&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lymphoma, multiple forms&lt;/li&gt;&lt;li&gt;12.Mycobacterium avium complex&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tuberculosis&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pneumocystis carinii pneumonia&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pneumonia, recurrent&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Progressive multifocal leukoencephalopathy&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Salmonella septicemia, recurrent&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Toxoplasmosis of brain&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Wasting syndrome due to&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;/div&gt;Because they can be so dangerous to your health, it is essential that you understand the signs, symptoms, prevention, and management of OIs.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Can I Prevent Opportunistic Infections?&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;One of the goals of HIV treatment is to lower your risk of getting OIs. Antiretroviral therapy can help by increasing your number of CD4 cells, which will help protect you from OIs. You may also take medications used to prevent disease from occurring (this is known as prophylaxis).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;The Basics of Opportunistic Infections&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;OIs can occur all over the body and be relatively localized (meaning they affect only one part of the body) or systemic or disseminated (meaning they spread to other parts of the body and other body systems). Whether and when you become susceptible to OIs is often related to your CD4 count.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Greater than 500 cells/mm3&lt;br /&gt;500 cells/mm3 to 200 cells/mm3&lt;br /&gt;200 cells/mm3 to 100 cells/mm3&lt;br /&gt;100 cells/mm3 to 50 cells/mm3&lt;br /&gt;50-100 Cells/mm3&lt;br /&gt;Less than 50 Cells/mm3&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-7656532871690912675?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.aids.gov/' title='Opportunistic Infections'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/7656532871690912675/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/opportunistic-infections.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/7656532871690912675'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/7656532871690912675'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/opportunistic-infections.html' title='Opportunistic Infections'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-8707433409944397347</id><published>2011-03-04T00:30:00.001+07:00</published><updated>2011-03-15T00:14:56.534+07:00</updated><title type='text'>CD4 Count</title><content type='html'>What is a CD4 cell or T-cell?&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;CD4 cells or T-cells are the “generals” of the human immune system. These are the cells that send signals to activate your body’s immune response when they detect “intruders,” like viruses or bacteria.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Because of the important role these cells play in how your body fights off infections, it’s important to keep their numbers up in the normal ranges. This helps to prevent HIV-related complications and opportunistic infections. For more information, see the National Cancer Institute’s The Human Immune System.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;The name game&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;You may have noticed that your healthcare providers often use the terms “T-cell” and “CD4 cell” interchangeably. When talking in terms of HIV, these two names mean the same thing. They both refer to the same type of cell. While there are many different types of T-cells, these particular cells have a specific receptor site on their surface called the CD4 receptor site. HIV uses this particular receptor to latch on to the T-cell, making it a prime target for infection.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;It’s all about the numbers!&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ok, it’s not all about the numbers—but your CD4 count is one of the most important things to consider when you and your healthcare provider are deciding the best way—and time—to treat your HIV disease.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;A normal CD4 count can range from 500 cells/mm3 to 1,000 cells/mm3. So if your CD4 count is within that range, the CDC does not generally recommend that you start treatment for your HIV disease, unless there are other concerns (pregnancy, young age, constitutional symptoms, acute retroviral syndrome, etc.).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;The guidelines from the U.S. Department of Health and Human Services suggest starting treatment when your CD4 count falls to 350 cells/mm3 or below. T This is because opportunistic infections typically begin to affect people whose CD4 counts are below that level. (This is why a CD4 count is often used to determine the stages of HIV disease.)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Recent research has indicated that it may be easier to maintain higher CD4 counts if you start HIV treatment before your CD4 counts drop below 350 cells/mm3. You should discuss when to begin treatment with your healthcare provider and choose the approach that is best for you.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;The Basics&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;A normal CD4 count ranges from 500–1,000 cells/mm3.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;When your CD4 count is 350 cells/mm3 or less, it’s time to consider treatment.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;A CD4 count of fewer than 200 cells/mm3 is one of the qualifications for a diagnosis of AIDS.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Your CD4 count can vary from day to day. It can also vary depending on the time of day your blood is drawn and on whether you have other infections or illnesses, like the flu or STDs.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Typically, your healthcare provider will check your CD4 counts every 3-6 months.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-8707433409944397347?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='enclosure' type='' href='http://www.aids.gov/' length='0'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/8707433409944397347/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/cd4-count.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/8707433409944397347'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/8707433409944397347'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/cd4-count.html' title='CD4 Count'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-2335069528427186293</id><published>2011-03-04T00:23:00.001+07:00</published><updated>2011-03-15T00:15:47.297+07:00</updated><title type='text'>HIV Lifecycle</title><content type='html'>What HIV does in your body&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;When you are infected with HIV, there are multiple things happening in your immune system at the cellular level.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Transmission&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;When HIV enters your body through sexual contact, transfusions with infected blood, or by injection with a needle that has infected blood in or on it, researchers believe that the virus attaches to a specific type of immune system cell called a dendritic cell. These cells are found in mucocutaneous (mucosal membranes) areas that line the mouth, the vagina, rectum, penis, and the upper gastrointestinal tract. Scientists think that these dendritic cells transport the virus from the site of the infection to your lymph nodes where HIV can infect other immune system cells.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;The life-cycle of HIV in your cells&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;HIV can infect multiple cells in your body, including brain cells, but its main target is the CD4 lymphocyte, also called a T-cell or CD4 cell. When a CD4 cell is infected with HIV, the virus goes through multiple steps to reproduce itself and create many more virus particles.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;The process is broken up into the following steps:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Binding and Fusion: This is the process by which HIV binds to a specific type of CD4 receptor and a co-receptor on the surface of the CD4 cell. This is similar to a key entering a lock. Once unlocked, HIV can fuse with the host cell (CD4 cell) and release its genetic material into the cell.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Reverse Transcription: A special enzyme called reverse transcriptase changes the genetic material of the virus, so it can be integrated into the host DNA.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Integration: The virus’ new genetic material enters the nucleus of the CD4 cell and uses an enzyme called integrase to integrate itself into your own genetic material, where it may “hide” and stay inactive for several years.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Transcription: When the host cell becomes activated, and the virus uses your own enzymes to create more of its genetic material—along with a more specialized genetic material which allows it make longer proteins.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Assembly: A special enzyme called protease cuts the longer HIV proteins into individual proteins. When these come together with the virus’ genetic material, a new virus has been assembled.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Budding: This is the final stage of the virus’ life cycle. In this stage, the virus pushes itself out of the host cell, taking with it part of the membrane of the cell. This outer part covers the virus and contains all of the structures necessary to bind to a new CD4 cell and receptors and begin the process again.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;These steps of the life-cycle of HIV are important to know because the medications used to control HIV infection act to interrupt this replication cycle.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-2335069528427186293?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.aids.gov/' title='HIV Lifecycle'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/2335069528427186293/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/hiv-lifecycle.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/2335069528427186293'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/2335069528427186293'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/hiv-lifecycle.html' title='HIV Lifecycle'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-1889579958901615468</id><published>2011-03-04T00:15:00.003+07:00</published><updated>2011-03-15T00:17:21.904+07:00</updated><title type='text'>Cara Menggunakan Kondom</title><content type='html'>CARA MENGGUNAKAN KONDOM&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Buka kemasan dengan hati-hati, jangan sampai kondom rusak.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tekan ujung kondom tersebut sehingga tidak bergelembung udara dan buka gulungan kondom kebawah kearah penis. ( bagi anda yang belum disunat, tarik ujung kulit kedalam sebelum kondom dipakai ).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Oleskan pelicin berbahan dasar air setelah kondom terpakai.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pegang kondom bagian bawah pada waktu ditarik dari vagina atau anus, agar cairan sperma tidak keluar dari kondom.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Buang kondom yang telah dipakai.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jangan memakai kondom bekas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENYUNTIKKAN OBAT-OBATAN,&amp;nbsp;BODY PIERCING ATAU TATO&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Virus HIV dapat ditularkan melalui penggunaan jarum suntik bersama, body piercing, dan tato dari jarum bekas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk menghindari penularan virus HIV pada waktu penyuntikkan jarum, jangan memakai jarum suntik yang telah dipakai.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk menghindari penularan virus HIV pada waktu body piercing dan tato,  kunjungilah studio yang terdaftar dimana jarum yang digunakan selalu baru atau telah di steril.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan menjalankan langkahlangkah tersebut diatas, virus lainnya seperti hepatitis B dan C juga dapat dihindari.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-1889579958901615468?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/1889579958901615468/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/cara-menggunakan-kondom.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/1889579958901615468'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/1889579958901615468'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/cara-menggunakan-kondom.html' title='Cara Menggunakan Kondom'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-7799683134613828490</id><published>2011-03-04T00:13:00.001+07:00</published><updated>2011-03-15T00:17:58.083+07:00</updated><title type='text'>2011 UN High-Level Meeting on AIDS</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Thirty years into the AIDS epidemic, and 10 years since the landmark UN General Assembly Special Session on HIV/AIDS, the world will come together to review progress and chart the future course of the global AIDS response at the 2011 UN General Assembly High Level Meeting on AIDS from 8–10 June 2011 in New York. The High-Level Meeting is being held at a critical time to move from universal access agenda to the achievement of the Millennium Development Goals by 2015.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-7799683134613828490?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.who.int/entity/hiv/events/un/en/index.html' title='2011 UN High-Level Meeting on AIDS'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/7799683134613828490/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/2011-un-high-level-meeting-on-aids.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/7799683134613828490'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/7799683134613828490'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/2011-un-high-level-meeting-on-aids.html' title='2011 UN High-Level Meeting on AIDS'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-4432850043535741974</id><published>2011-03-03T23:59:00.004+07:00</published><updated>2011-03-15T00:19:16.139+07:00</updated><title type='text'>World Health Day on antimicrobial resistance to highlight strategies on HIV drug resistance</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-sGiXNAQkh8Q/TW_Jy1vKR5I/AAAAAAAAAC8/YfAxdWdaAKI/s1600/CDR.gif" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" height="129" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5579900338590861202" src="http://3.bp.blogspot.com/-sGiXNAQkh8Q/TW_Jy1vKR5I/AAAAAAAAAC8/YfAxdWdaAKI/s200/CDR.gif" style="float: right; height: 200px; margin-bottom: 10px; margin-left: 10px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; width: 310px;" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Antimicrobial resistance is not a new problem but one that is becoming more dangerous; urgent and consolidated efforts are needed to avoid regressing to the pre-antibiotic era.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;On World Health Day 2011, WHO will introduce a six-point policy package to combat the spread of antimicrobial resistance.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;The World Health Day 2011 will be marked on 7 April 2011 focusing on antimicrobial resistance, including drug resistance issues related to HIV/AIDS. Antiretroviral treatment has been rapidly scaled up in many developing countries in the past decade without major emergence of HIV drug resistance as initially feared. WHO recommends a minimum-resource strategy for prevention and assessment of HIV drug resistance in resource-limited countries and works with a global network of individuals, institutions and countries to implement the strategy. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Antimicrobial resistance and its global spread&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;We live in an era in which we depend on antibiotics, and other antimicrobial medicines to treat conditions that decades ago, or even a few years ago in the case of HIV/AIDS, would have proved fatal. When antimicrobial resistance - also known as drug resistance - occurs, it renders these medicines ineffective. For World Health Day 2011, WHO will be calling for intensified global commitment to safeguard these medicines for future generations. Antimicrobial resistance - the theme of World Health Day 2011 - and its global spread, threatens the continued effectiveness of many medicines used today to treat infectious diseases.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;For World Health Day 2011, WHO will call on governments and stakeholders to implement the policies and practices needed to prevent and counter the emergence of highly resistant microorganisms.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;What are antimicrobial agents?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Antimicrobial agents are medicines  used to treat infections caused by micro organisms, including bacteria, fungi, parasites and viruses. The discovery of antimicrobials is one of the most important advances in health in human history – alleviating suffering from disease and saving billions of lives over the past 70 years. Antimicrobials include antibiotics, chemotherapeutic agents, antifungals, antiparasitic medicines and antivirals.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;What is antimicrobial resistance?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Antimicrobial resistance – also known as drug resistance – occurs when microorganisms such as bacteria, viruses, fungi and parasites change in ways that render the medications used to cure the infections they cause ineffective. When the microorganisms become resistant to most antimicrobials they are often referred to as “superbugs”. This is a major concern because a resistant infection may kill, can spread to others, and imposes huge costs to individuals and society.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Antimicrobial resistance is facilitated by the inappropriate use of medicines, for example, when taking substandard doses or not finishing a prescribed course of treatment. Low-quality medicines, wrong prescriptions and poor infection prevention and control also encourage the development and spread of drug resistance. Lack of government commitment to address these issues, poor surveillance and a diminishing arsenal of tools to diagnose, treat and prevent also hinder the control of drug resistance.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-4432850043535741974?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.who.int/en/' title='World Health Day on antimicrobial resistance to highlight strategies on HIV drug resistance'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/4432850043535741974/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/world-health-day-on-antimicrobial.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/4432850043535741974'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/4432850043535741974'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/world-health-day-on-antimicrobial.html' title='World Health Day on antimicrobial resistance to highlight strategies on HIV drug resistance'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-sGiXNAQkh8Q/TW_Jy1vKR5I/AAAAAAAAAC8/YfAxdWdaAKI/s72-c/CDR.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-8684188472681090558</id><published>2011-03-03T23:55:00.003+07:00</published><updated>2011-03-15T00:20:03.399+07:00</updated><title type='text'>CDC/ Center for Disease Control and Prevention</title><content type='html'>CDC's Role in Global HIV Care and Treatment&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;The Centers for Disease Control and Prevention (CDC) collaborates with U.S. Government partners, Ministries of Health (MOHs), non-governmental organizations, international organizations, U.S.-based universities, and the private sector to:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Build Capacity for HIV Care and Treatment ─ CDC assists countries in planning, implementing, and evaluating effective strategies for HIV care and treatment; provides HIV care and treatment expertise to partners on management, standard operating procedures, human resources, physical infrastructure, training, laboratory services, monitoring and evaluation, community services, linkage with HIV and other programs, promotion of prevention, and sustainability; and develops, disseminates, and provides training on global palliative care and ART tools, guidelines, and policies.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Strengthen TB/HIV Programs ─ CDC provides technical assistance for scale-up of TB/HIV activities, including HIV testing and counseling, referral, and care and treatment among TB patients; helps countries develop national and regional guidelines for HIV-related TB diagnosis, treatment, and prevention; and supports implementation of basic TB infection control in HIV care and treatment settings.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bolster Prevention of Mother-to-Child Transmission Programs and Pediatric Services ─ CDC helps to scale-up prevention of mother-to-child HIV transmission (PMTCT) and pediatric HIV care and treatment activities, and to link PMTCT and pediatric HIV programs with other health services. CDC also contributes to the scientific body of knowledge on global PMTCT and pediatrics by developing and disseminating tools, guidelines, and policies to translate research for improved program implementation in resource-poor countries, as well as conducts public health evaluations to promote best practices, address barriers, and respond to emerging scientific issues for PMTCT and pediatric HIV service delivery.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-8684188472681090558?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.cdc.gov/' title='CDC/ Center for Disease Control and Prevention'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/8684188472681090558/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/cdc-center-for-disease-control-and.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/8684188472681090558'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/8684188472681090558'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2011/03/cdc-center-for-disease-control-and.html' title='CDC/ Center for Disease Control and Prevention'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-1089411925527454108</id><published>2010-07-26T12:18:00.004+07:00</published><updated>2011-03-15T00:28:04.030+07:00</updated><title type='text'>Tuberkulosis</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_bWM7YztkSBc/TE0bAD4kQLI/AAAAAAAAACk/ZcOHzlFgfCA/s1600/Penyakit+TBC.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5498080407945756850" src="http://4.bp.blogspot.com/_bWM7YztkSBc/TE0bAD4kQLI/AAAAAAAAACk/ZcOHzlFgfCA/s320/Penyakit+TBC.jpg" style="cursor: hand; cursor: pointer; float: left; height: 320px; margin: 0 10px 10px 0; width: 295px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penyakit TBC adalah merupakan suatu penyakit yang tergolong dalam infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mikobakterium tuberkulosa. Penyakit TBC dapat menyerang pada siapa saja tak terkecuali pria, wanita, tua, muda, kaya dan miskin serta dimana saja. Di Indonesia khususnya, Penyakit ini terus berkembang setiap tahunnya dan saat ini mencapai angka 250 juta kasus baru diantaranya 140.000 menyebabkan kematian. Bahkan Indonesia menduduki negara terbesar ketiga didunia dalam masalah penyakit TBC ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penyebab Penyakit (TBC)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penyakit TBC disebabkan oleh bakteri Mikobakterium tuberkulosa, Bakteri ini berbentuk batang dan bersifat tahan asam sehingga dikenal juga sebagai Batang Tahan Asam (BTA). Jenis bakteri ini pertama kali ditemukan oleh seseorang yang bernama Robert Koch pada tanggal 24 Maret 1882, Untuk mengenang jasa beliau maka bakteri tersebut diberi nama baksil Koch. Bahkan penyakit TBCpada paru-paru pun dikenal juga sebagai Koch Pulmonum (KP).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cara Penularan Penyakit TBC&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penularan penyakit TBC adalah melalui udara yang tercemar oleh Mikobakterium tuberkulosa yang dilepaskan/dikeluarkan oleh si penderita TBC saat batuk, dimana pada anak-anak umumnya sumber infeksi adalah berasal dari orang dewasa yang menderita TBC. Bakteri ini masuk kedalam paru-paru dan berkumpul hingga berkembang menjadi banyak (terutama pada orang yang memiliki daya tahan tubuh rendah), Bahkan bakteri ini pula dapat mengalami penyebaran melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening sehingga menyebabkan terinfeksinya organ tubuh yang lain seperti otak, ginjal, saluran cerna, tulang, kelenjar getah bening dan lainnya meski yang paling banyak adalah organ paru.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masuknya Mikobakterium tuberkulosa kedalam organ paru menyebabkan infeksi pada paru-paru, dimana segeralah terjadi pertumbuhan koloni bakteri yang berbentuk bulat (globular). Dengan reaksi imunologis, sel-sel pada dinding paru berusaha menghambat bakteri TBC ini melalui mekanisme alamianya membentuk jaringan parut. Akibatnya bakteri TBC tersebut akan berdiam/istirahat (dormant) seperti yang tampak sebagai tuberkel pada pemeriksaan X-ray atau photo rontgen.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seseorang dengan kondisi daya tahan tubuh (Imun) yang baik, bentuk tuberkel ini akan tetap dormant sepanjang hidupnya. Lain hal pada orang yang memilki sistem kekebelan tubuh rendah atau kurang, bakteri ini akan mengalami perkembangbiakan sehingga tuberkel bertambah banyak. Sehingga tuberkel yang banyak ini berkumpul membentuk sebuah ruang didalam rongga paru, Ruang inilah yang nantinya menjadi sumber produksi sputum (riak/dahak). Maka orang yang rongga parunya memproduksi sputum dan didapati mikroba tuberkulosa disebut sedang mengalami pertumbuhan tuberkel dan positif terinfeksi TBC.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berkembangnya penyakit TBC di Indonesia ini tidak lain berkaitan dengan memburuknya kondisi sosial ekonomi, belum optimalnya fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat, meningkatnya jumlah penduduk yang tidak mempunyai tempat tinggal dan adanya epidemi dari infeksi HIV. Hal ini juga tentunya mendapat pengaruh besar dari daya tahan tubuh yang lemah/menurun, virulensi dan jumlah kuman yang memegang peranan penting dalam terjadinya infeksi TBC.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gejala Penyakit TBC&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gejala penyakit TBC digolongkan menjadi dua bagian, yaitu gejala umum dan gejala khusus. Sulitnya mendeteksi dan menegakkan diagnosa TBC adalah disebabkan gambaran secara klinis dari si penderita yang tidak khas, terutama pada kasus-kasus baru.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Gejala umum (Sistemik)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penurunan nafsu makan dan berat badan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Perasaan tidak enak (malaise), lemah.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Gejala khusus (Khas)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar, akan menimbulkan suara "mengi", suara nafas melemah yang disertai sesak.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai dengan keluhan sakit dada.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang pada suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di atasnya, pada muara ini akan keluar cairan nanah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan disebut sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demam tinggi, adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada penderita usia anak-anak apabila tidak menimbulkan gejala, Maka TBC dapat terdeteksi kalau diketahui adanya kontak dengan pasien TBC dewasa. Sekitar 30-50% anak-anak yang terjadi kontak dengan penderita TBC paru dewasa memberikan hasil uji tuberkulin positif. Pada anak usia 3 bulan – 5 tahun yang tinggal serumah dengan penderita TBC paru dewasa dengan BTA positif, dilaporkan 30% terinfeksi berdasarkan pemeriksaan serologi/darah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penegakan Diagnosis pada TBC&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apabila seseorang dicurigai menderita atau tertular penyakit TBC, Maka ada beberapa hal pemeriksaan yang perlu dilakukan untuk memeberikan diagnosa yang tepat antara lain :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;- Anamnesa baik terhadap pasien maupun keluarganya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;- Pemeriksaan fisik secara langsung.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;- Pemeriksaan laboratorium (darah, dahak, cairan otak).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;- Pemeriksaan patologi anatomi (PA).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;- Rontgen dada (thorax photo).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;- dan Uji tuberkulin.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengobatan Penyakit TBC&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengobatan bagi penderita penyakit TBC akan menjalani proses yang cukup lama, yaitu berkisar dari 6 bulan sampai 9 bulan atau bahkan bisa lebih. Penyakit TBC dapat disembuhkan secara total apabila penderita secara rutin mengkonsumsi obat-obatan yang diberikan dokter dan memperbaiki daya tahan tubuhnya dengan gizi yang cukup baik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selama proses pengobatan, untuk mengetahui perkembangannya yang lebih baik maka disarankan pada penderita untuk menjalani pemeriksaan baik darah, sputum, urine dan X-ray atau rontgen setiap 3 bulannya. Adapun obat-obtan yang umumnya diberikan adalah Isoniazid dan rifampin sebagai pengobatan dasar bagi penderita TBC, namun karena adanya kemungkinan resistensi dengan kedua obat tersebut maka dokter akan memutuskan memberikan tambahan obat seperti pyrazinamide dan streptomycin sulfate atau ethambutol HCL sebagai satu kesatuan yang dikenal 'Triple Drug'&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengobatan TBC Kriteria I (Tidak pernah terinfeksi, ada riwayat kontak, tidak menderita TBC) dan II (Terinfeksi TBC/test tuberkulin (+), tetapi tidak menderita TBC (gejala TBC tidak ada, radiologi tidak mendukung dan bakteriologi negatif) memerlukan pencegahan dengan pemberian INH 5–10 mg/kgbb/hari.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pencegahan (profilaksis) primer&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Anak yang kontak erat dengan penderita TBC BTA (+).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;INH minimal 3 bulan walaupun uji tuberkulin (-).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terapi profilaksis dihentikan bila hasil uji tuberkulin ulang menjadi (-) atau sumber penularan TB aktif sudah tidak ada.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pencegahan (profilaksis) sekunder&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Anak dengan infeksi TBC yaitu uji tuberkulin (+) tetapi tidak ada gejala sakit TBC.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Profilaksis diberikan selama 6-9 bulan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Obat yang digunakan untuk TBC digolongkan atas dua kelompok yaitu :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Obat primer : INH (isoniazid), Rifampisin, Etambutol, Streptomisin, Pirazinamid.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Memperlihatkan efektifitas yang tinggi dengan toksisitas yang masih dapat ditolerir, sebagian besar penderita dapat disembuhkan dengan obat-obat ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Obat sekunder : Exionamid, Paraaminosalisilat, Sikloserin, Amikasin, Kapreomisin dan Kanamisin.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dosis obat antituberkulosis (OAT)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Obat &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Dosis harian &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Dosis 2x/minggu &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Dosis 3x/minggu &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;(mg/kgbb/hari) &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;(mg/kgbb/hari) &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;(mg/kgbb/hari)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;INH &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; 5-15 (maks 300 mg) &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; 15-40 (maks. 900 mg) &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;15-40 (maks. 900 mg)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rifampisin &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;10-20 (maks. 600 mg) &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;10-20 (maks. 600 mg) &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;15-20 (maks. 600 mg)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pirazinamid &amp;nbsp; 15-40 (maks. 2 g) &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;50-70 (maks. 4 g) &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; 15-30 (maks. 3 g)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Etambutol &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;15-25 (maks. 2,5 g) &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;50 (maks. 2,5 g) &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;15-25 (maks. 2,5 g)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Streptomisin &amp;nbsp;15-40 (maks. 1 g) &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; 25-40 (maks. 1,5 g) &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; 25-40 (maks. 1,5 g)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejak 1995, program Pemberantasan Penyakit TBC di Indonesia mengalami perubahan manajemen operasional, disesuaikan dengan strategi global yanng direkomendasikan oleh WHO. Langkah ini dilakukan untuk menindaklanjuti Indonesia – WHO joint Evaluation dan National Tuberkulosis Program in Indonesia pada April 1994. Dalam program ini, prioritas ditujukan pada peningkatan mutu pelayanan dan penggunaan obat yang rasional untuk memutuskan rantai penularan serta mencegah meluasnya resistensi kuman TBC di masyarakat. Program ini dilakukan dengan cara mengawasi pasien dalam menelan obat setiap hari,terutama pada fase awal pengobatan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-course) pertama kali diperkenalkan pada tahun 1996 dan telah diimplementasikan secara meluas dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat. Sampai dengan tahun 2001, 98% dari populasi penduduk dapat mengakses pelayanan DOTS di puskesmas. Strategi ini diartikan sebagai "pengawasan langsung menelan obat jangka pendek oleh pengawas pengobatan" setiap hari.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Indonesia adalah negara high burden, dan sedang memperluas strategi DOTS dengan cepat, karenanya baseline drug susceptibility data (DST) akan menjadi alat pemantau dan indikator program yang amat penting. Berdasarkan data dari beberapa wilayah, identifikasi dan pengobatan TBC melalui Rumah Sakit mencapai 20-50% dari kasus BTA positif, dan lebih banyak lagi untuk kasus BTA negatif. Jika tidak bekerja sama dengan Puskesmas, maka banyak pasien yang didiagnosis oleh RS memiliki risiko tinggi dalam kegagalan pengobatan, dan mungkin menimbulkan kekebalan obat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akibat kurang baiknya penanganan pengobatan penderita TBC dan lemahnya implementasi strategi DOTS. Penderita yang mengidap BTA yang resisten terhadap OAT akan menyebarkan infeksi TBC dengan kuman yang bersifat MDR (Multi-drugs Resistant). Untuk kasus MDR-TB dibutuhkan obat lain selain obat standard pengobatan TBC yaitu obat fluorokuinolon seperti siprofloksasin, ofloxacin, levofloxacin (hanya sangat disayangkan bahwa obat ini tidak dianjurkan pada anak dalam masa pertumbuhan).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengobatan TBC pada orang dewasa&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kategori 1 : 2HRZE/4H3R3&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selama 2 bulan minum obat INH, rifampisin, pirazinamid, dan etambutol setiap hari (tahap intensif), dan 4 bulan selanjutnya minum obat INH dan rifampisin tiga kali dalam seminggu (tahap lanjutan).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Diberikan kepada:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penderita baru TBC paru BTA positif.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penderita TBC ekstra paru (TBC di luar paru-paru) berat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kategori 2 : HRZE/5H3R3E3&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Diberikan kepada:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penderita kambuh.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penderita gagal terapi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penderita dengan pengobatan setelah lalai minum obat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kategori 3 : 2HRZ/4H3R3&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Diberikan kepada:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penderita BTA (+) dan rontgen paru mendukung aktif.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengobatan TBC pada anak&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adapun dosis untuk pengobatan TBC jangka pendek selama 6 atau 9 bulan, yaitu:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2HR/7H2R2 : INH+Rifampisin setiap hari selama 2 bulan pertama, kemudian INH +Rifampisin setiap hari atau 2 kali seminggu selama 7 bulan (ditambahkan Etambutol bila diduga ada resistensi terhadap INH).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2HRZ/4H2R2 : INH+Rifampisin+Pirazinamid: setiap hari selama 2 bulan pertama, kemudian INH+Rifampisin setiap hari atau 2 kali seminggu selama 4 bulan (ditambahkan Etambutol bila diduga ada resistensi terhadap INH).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengobatan TBC pada anak-anak jika INH dan rifampisin diberikan bersamaan, dosis maksimal perhari INH 10 mg/kgbb dan rifampisin 15 mg/kgbb.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dosis anak INH dan rifampisin yang diberikan untuk kasus:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;TB tidak berat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;INH  : 5 mg/kgbb/hari&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rifampisin  : 10 mg/kgbb/hari&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;TB berat (milier dan meningitis TBC)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;INH  : 10 mg/kgbb/hari&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rifampisin  : 15 mg/kgbb/hari&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dosis prednison  : 1-2 mg/kgbb/hari (maks. 60 mg)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Uji Tuberkulin TBC&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada anak, uji tuberkulin merupakan pemeriksaan paling bermanfaat untuk menunjukkan sedang/pernah terinfeksi Mikobakterium tuberkulosa dan sering digunakan dalam "Screening TBC". Efektifitas dalam menemukan infeksi TBC dengan uji tuberkulin adalah lebih dari 90%.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penderita anak umur kurang dari 1 tahun yang menderita TBC aktif uji tuberkulin positif 100%, umur 1–2 tahun 92%, 2–4 tahun 78%, 4–6 tahun 75%, dan umur 6–12 tahun 51%. Dari persentase tersebut dapat dilihat bahwa semakin besar usia anak maka hasil uji tuberkulin semakin kurang spesifik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada beberapa cara melakukan uji tuberkulin, namun sampai sekarang cara mantoux lebih sering digunakan. Lokasi penyuntikan uji mantoux umumnya pada ½ bagian atas lengan bawah kiri bagian depan, disuntikkan intrakutan (ke dalam kulit). Penilaian uji tuberkulin dilakukan 48–72 jam setelah penyuntikan dan diukur diameter dari pembengkakan (indurasi) yang terjadi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penyakit TBC biasanya menular melalui udara yang tercemar dengan bakteri Mikobakterium tuberkulosa yang dilepaskan pada saat penderita TBC batuk, dan pada anak-anak sumber infeksi umumnya berasal dari penderita TBC dewasa. Bakteri ini bila sering masuk dan terkumpul di dalam paru-paru akan berkembang biak menjadi banyak (terutama pada orang dengan daya tahan tubuh yang rendah), dan dapat menyebar melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening. Oleh sebab itulah infeksi TBC dapat menginfeksi hampir seluruh organ tubuh seperti: paru-paru, otak, ginjal, saluran pencernaan, tulang, kelenjar getah bening, dan lain-lain, meskipun demikian organ tubuh yang paling sering terkena yaitu paru-paru.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Pembengkakan (Indurasi) :  0–4mm,uji mantoux negatif.&amp;nbsp;Arti klinis : tidak ada infeksi Mikobakterium tuberkulosa.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Pembengkakan (Indurasi) : 3–9mm,uji mantoux meragukan.&amp;nbsp;Hal ini bisa karena kesalahan teknik, reaksi silang dgn Mikobakterium atipik /setelah vaksinasi BCG.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pembengkakan (Indurasi) : ≥ 10mm,uji mantoux positif.&amp;nbsp;Arti klinis : sedang atau pernah terinfeksi Mikobakterium tuberkulosa.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemeriksaan radiologis dapat memperkuat diagnosis, karena lebih 95% infeksi primer terjadi di paru-paru maka secara rutin foto thorax harus dilakukan. Ditemukannya kuman Mikobakterium tuberkulosa dari kultur merupakan diagnostik TBC yang positif, namun tidak mudah untuk menemukannya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-1089411925527454108?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/1089411925527454108/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/07/tuberkulosis.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/1089411925527454108'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/1089411925527454108'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/07/tuberkulosis.html' title='Tuberkulosis'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_bWM7YztkSBc/TE0bAD4kQLI/AAAAAAAAACk/ZcOHzlFgfCA/s72-c/Penyakit+TBC.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-344497121220414246</id><published>2010-07-26T12:16:00.001+07:00</published><updated>2011-03-15T00:31:16.632+07:00</updated><title type='text'>Resistensi Terhadap Obat</title><content type='html'>Resistansi&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;HIV dianggap ‘resistan (kebal)’ pada obat antiretroviral (ARV) tertentu bila virus itu terus menggandakan diri (bereplikasi) sementara kita memakai obat tersebut. Waktu HIV bereplikasi, sering kali hasilnya tidak persis sama dengan aslinya – ada sedikit perubahan. Sebagian virus yang dibuat ini, yang disebut mutan, dapat menyebabkan resistansi. Tipe virus yang ‘liar’ adalah bentuk HIV yang paling umum. Virus yang berbeda dari tipe liar dianggap mutasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;ARV tidak mampu mengendalikan virus yang resistan terhadapnya. Virus yang resistan dapat kebal terhadap obat. Jika kita tetap memakai obat itu, virus yang resistan akan bereplikasi lebih cepat dibanding virus liar. Ini disebut ‘tekanan pilihan’, dengan akibat virus yang resistan akan berkuasa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bila kita berhenti memakai ARV, tidak ada tekanan pilihan. Virus tipe liar (asli) akan bereplikasi lebih cepat dibanding virus yang resistan. Namun virus yang resistan masih tersembunyi di kelenjar getah bening, dan akan cepat muncul kembali jika kita mulai kembali memakai obat yang sama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tes resistansi membantu dokter untuk memberi informasi tepat pada pasien agar pasien dapat mengambil keputusan terbaik tentang pengobatan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;HIV biasanya menjadi resistan waktu virus tidak dikendali secara keseluruhan oleh obat yang dipakai oleh kita. Namun, sekarang semakin banyak orang tertular dengan HIV yang sudah resistan terhadap satu atau lebih ARV.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semakin cepat HIV bereplikasi, semakin banyak mutan muncul. Mutasi terjadi secara tidak sengaja. HIV tidak ‘mengetahui’ mutasi mana yang akan kebal terhadap obat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;HIV menjadi resistan terhadap beberapa jenis obat akibat hanya satu mutasi. Ini benar dengan 3TC dan obat golongan NNRTI. Dari sisi lain, HIV harus melalui serangkaian mutasi untuk mengembangkan resistansi pada obat lain, termasuk kebanyakan obat golongan protease inhibitor (PI).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cara terbaik untuk mencegah resistansi adalah untuk mengendalikan HIV dengan memakai ARV yang manjur. Bila kita melupakan dosis obat, HIV akan lebih mudah bereplikasi. Makin banyak mutan akan muncul. Beberapa di antaranya dapat menyebabkan resistansi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bila kita harus berhenti memakai ARV apa pun, bicara dengan dokter. Kita mungkin harus berhenti memakai satu jenis obat sebelum berhenti yang lain. Jika kita berhenti memakai ARV dengan cara yang benar waktu virus dikendalikan, kemungkinan kita dapat mulai memakainya lagi kemudian tanpa masalah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tipe Resistansi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada tiga tipe resistansi:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* Resistansi klinis: HIV menggandakan diri dalam tubuh kita walaupun kita memakai ARV.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* Resistansi fenotipe: HIV tetap menggandakan diri dalam tabung reaksi setelah ARV diberikan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* Resistansi genotipe: Kode genetik HIV mempunyai mutasi yang terkait dengan resistansi terhadap obat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Resistansi klinis dapat dilihat dalam peningkatan pada viral load, penurunan pada jumlah CD4, kehilangan berat badan, dan kejadian baru atau kambuhan infeksi oportunistik. Tes laboratorium dibutuhkan untuk mengukur resistansi fenotipe dan genotipe.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tes Resistansi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada tiga jenis tes resistansi:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Tes fenotipe: Contoh HIV dibiakkan dalam laboratorium. Kemudian satu jenis ARV diberikan. Kecepatan pertumbuhan virus dibandingkan dengan virus liar. Jika HIV dalam contoh menggandakan diri lebih cepat, maka virus tersebut dianggap resistan pada obat yang bersangkutan. Tes fenotipe lebih terpilih untuk orang dengan resistansi yang diketahui atau dicurigai, terutama terhadap PI.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tes genotipe: Kode genetik virus dalam contoh dibaca untuk menentukan apakah ada mutasi tertentu yang diketahui menimbulkan resistansi terhadap ARV apa pun. Tes genotipe lebih terpilih untuk orang yang mengalami masalah dengan rejimen terapi ARV (ART) lini pertama atau kedua.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tes fenotipe virtual: Sebetulnya tes ini adalah cara menafsirkan hasil tes genotipe. Tes ini lebih cepat dan murah dibandingkan tes fenotipe.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Resistansi Silang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kadang kala HIV yang bermutasi menjadi resistan terhadap lebih dari satu jenis obat. Bila ini terjadi, obat disebut resistan silang (cross-resistant). Misalnya, sebagian besar HIV yang resistan terhadap efavirenz (sejenis NNRTI) juga resistan terhadap nevirapine (sejenis NNRTI lain).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Resistansi silang adalah penting bila kita harus mengganti ARV akibat kegagalan terapi karena resistansi. Kita harus memilih obat baru yang tidak resistan silang dengan obat yang kita pernah pakai.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ilmuwan belum sepenuhnya memahami resistansi silang. Namun banyak jenis ARV sedikitnya sebagian resistan silang. Sebagaimana HIV mengembangkan lebih banyak mutasi, virus menjadi lebih sulit dikendalikan. Memakai semua dosis ARV persis sesuai dengan anjuran. Ini mengurangi risiko resistansi dan resistansi silang, dan juga mencadangkan lebih banyak pilihan jika kita harus menggantikan ARV pada masa depan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masalah dengan Tes Resistansi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tes resistansi belum tersedia di Indonesia. Harganya di negara maju masih sangat mahal.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tes ini kurang mampu mendeteksi mutan minoritas (di bawah 20% dari virus keseluruhan). Juga, tes resistansi lebih mampu bila viral load lumayan tinggi. Bila viral load kita sangat rendah, tes mungkin tidak berhasil. Tes biasanya tidak dapat dilakukan bila viral load kita di bawah 500-1000.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hasil tes resistansi dapat sulit ditafsirkan. Kadang kala hasil tes tidak menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Obat yang menurut tes seharusnya berhasil ternyata tidak, dan sebaliknya. Kadang-kadang tes fenotipe dan genotipe memberi hasil yang bertentangan. Beberapa mutasi dapat mengurangi keganasan HIV atau menyebabkan HIV menjadi lebih rentan terhadap obat tertentu lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penelitian baru-baru ini memberi kesan bahwa tes resistansi genotipe sebaiknya dilakukan pada semua pasien sebelum mereka mulai ART. Hal ini dapat menghemat biaya karena pasien tidak diberi obat yang tidak efektif akibat virusnya sudah resistan terhadap obat tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(Sumber: Spiritia)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-344497121220414246?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/344497121220414246/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/07/resistensi-terhadap-obat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/344497121220414246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/344497121220414246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/07/resistensi-terhadap-obat.html' title='Resistensi Terhadap Obat'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-6580648440052670879</id><published>2010-07-26T12:13:00.002+07:00</published><updated>2011-03-15T00:32:55.188+07:00</updated><title type='text'>Jumlah CD4 sebelum pengobatan menentukan jumlah CD4 setelah pengobatan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di antara pasien terinfeksi HIV yang memakai ART, hanya mereka dengan jumlah CD4 sebelum pengobatan di atas 350 mengalami peningkatan CD4 yang hampir mencapai angka normal.Semakin tinggi jumlah CD4 Odha ketika mulai pengobatan HIV semakin tinggi jumlah CD4 mereka, 60 bulan kemudian&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahkan di antara pasien yang sebelum pengobatan mempunyai jumlah CD4 yang rendah, ART dapat terus menekan viral load HIV, tetapi belum diketahui apakah akibat penekanan replikasi HIV dalam waktu lama maka jumlah CD4 akan kembali normal.Pasien yang memulai pengobatan dengan jumlah CD4 terendah, antara nol dan 100, mengalami peningkatan tertinggi hingga 379, sementara mereka yang mulai dengan jumlah tertinggi, 500 dan lebih, mengalami peningkatan terendah, kurang lebih 100.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tetapi, jumlah CD4 60 bulan setelah memulai pengobatan adalah 100 lebih rendah di antara mereka yang mulai pengobatan dengan jumlah CD4 antara 350 dan 499, dibandingkan dengan mereka yang mulai antara 500 dan 749.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lebih dari 90 persen pasien mengalami peningkatan jumlah CD4, dengan peningkatan CD4 rata-rata pada awal hingga penghitungan terakhir sebanyak 274.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hampir enam tahun setelah memulai ART, jumlah CD4 rata-rata telah mencapai 493 di antara pasien dengan jumlah pada awal 200 atau lebih rendah, 508 pada pasien dengan jumlah pada awal antara 201 dan 350, dan 829 di antara pasien dengan jumlah pada awal lebih dari 350.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hampir semua peningkatan ini terjadi dalam empat tahun pertama setelah pengobatan, dengan jumlah CD4 tetap stabil selama dua tahun terakhir pemantauan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jumlah CD4 pada awal merupakan prediktor penting terhadap dampak jumlah CD4 kemudian dalam analisis beragam penurunan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Data ini memberi kesan bahwa memulai ART pada jumlah CD4 yang lebih rendah tidak menghasilkan jumlah CD4 kembali ke tingkat normal.Untuk itu disarankan untuk mempertimbangkan memulai ART saat jumlah CD4 lebih dari 350 untuk mencapai penyembuhan kekebalan yang lebih baik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(Sumber: Spiritia)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-6580648440052670879?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/6580648440052670879/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/07/jumlah-cd4-sebelum-pengobatan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/6580648440052670879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/6580648440052670879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/07/jumlah-cd4-sebelum-pengobatan.html' title='Jumlah CD4 sebelum pengobatan menentukan jumlah CD4 setelah pengobatan'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-3274392439587526598</id><published>2010-07-26T12:12:00.001+07:00</published><updated>2011-03-15T00:34:23.504+07:00</updated><title type='text'>TB dan HIV</title><content type='html'>TB&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tuberkulosis (TB) adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri. TB biasanya mempengaruhi paru, tetapi juga dapat mempengaruhi organ lain, terutama pada Odha dengan jumlah CD4 di bawah 200.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;TB adalah penyakit yang sangat berat di seluruh dunia. Hampir sepertiga penduduk dunia, dan sepertiga Odha terinfeksi TB, tetapi sistem kekebalan tubuh yang sehat biasanya dapat mencegah penyakit aktif. Namun TB adalah penyebab kematian sampai separuh Odha di seluruh dunia, menurut WHO.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nama tuberkulosis berasal dari tuberkel. Tuberkel adalah tonjolan kecil dan keras yang terbentuk waktu sistem kekebalan membangun tembok mengelilingi bakteri TB dalam paru.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada dua jenis TB aktif. TB primer baru terjadi setelah kita pertama terinfeksi TB. TB keaktifan kembali terjadi pada orang yang sebelumnya terinfeksi TB. Jika sistem kekebalan tubuhnya melemah, TB dapat lolos dari tuberkel dan mengakibatkan penyakit aktif. Kebanyakan kasus TB pada orang dengan HIV diakibatkan keaktifan kembali infeksi TB sebelumnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;TB aktif dapat menyebabkan gejala berikut: batuk tiga minggu atau lebih; kehilangan berat badan; kelelahan terus-menerus; keringat basah kuyup pada malam; dan demam, terutama pada sore hari. Gejala ini mirip dengan gejala yang disebabkan PCP, tetapi TB dapat terjadi waktu jumlah CD4 tetap tinggi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;TB menular melalui udara, waktu seseorang dengan TB aktif batuk atau bersin. Kita dapat mengembangkan TB secara mudah jika kita pada tahap infeksi HIV lanjut. Kita dapat terinfeksi TB pada jumlah CD4 berapa pun.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;TB dan HIV: Pasangan yang Buruk&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyak jenis virus dan bakteri hidup di tubuh kita. Sistem kekebalan tubuh yang sehat dapat mengendalikan kuman ini agar mereka tidak menyebabkan penyakit. Jika HIV melemahkan sistem kekebalan, kuman ini dapat mengakibatkan infeksi oportunistik (IO).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Angka TB pada Odha sering kali 40 kali lebih tinggi dibanding angka untuk orang yang tidak terinfeksi HIV. Angka TB di seluruh dunia meningkat karena HIV.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;TB dapat merangsang HIV agar lebih cepat menggandakan diri, dan memburukkan infeksi HIV. Karena itu, penting agar orang dengan HIV mencegah dan mengobati TB.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Diagnosis TB&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada tes kulit yang sederhana untuk TB yg disebut Mantoux Tes. Sebuah protein yang ditemukan pada bakteri TB disuntik pada kulit lengan. Jika kulit kita bereaksi dengan bengkak, itu berarti kita kemungkinan terinfeksi bakteri TB.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika HIV atau penyakit lain sudah merusak sistem kekebalan kita, kita mungkin tidak menunjukkan reaksi pada tes kulit, walaupun kita terinfeksi TB. Kondisi ini disebut ‘anergi’. Oleh karena masalah ini, dan karena kebanyakan orang di Indonesia sudah terinfeksi TB, jadi tes kulit sekarang jarang dipakai di sini. Jika kita anergi, pembiakan bakteri dari dahak (lihat alinea berikut) adalah cara terbaik untuk diagnosis TB aktif.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bila kita mempunyai gejala yang mungkin disebabkan oleh TB, dokter akan minta kita menyediakan tiga contoh dahak untuk diperiksa, termasuk satu yang diminta dikeluarkan dari paru pada pagi hari. Dokter juga mungkin melakukan rontgen dada, dan coba membiakkan bakteri TB dari contoh dahak kita. Tes ini dapat memerlukan jangka waktu empat minggu. Sulit mendiagnosis TB aktif, terutama pada Odha, karena tampaknya mirip dengan pneumonia, masalah paru lain, atau infeksi lain. Namun tes baru yang lebih cepat sedang dikembangkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengobatan TB&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika kita terinfeksi TB, tetapi tidak mengalami penyakit aktif, kemungkinan kita diobati dengan isoniazid (INH) untuk sedikitnya enam bulan, atau dengan INH plus satu atau dua obat lain untuk tiga bulan. Sebuah penelitian yang diterbitkan pada 2001 menunjukkan bahwa terapi kombinasi lebih efektif dibandingkan INH sendiri. INH dapat menyebabkan masalah hati, terutama pada perempuan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika kita mengalami TB aktif, kita diobati dengan antibiotik. Karena bakteri TB dapat menjadi kebal (resistan) terhadap obat tunggal, kita akan diberi kombinasi antibiotik. TB sulit disembuhkan, dan obat tersebut harus dipakai untuk sedikitnya enam bulan. Jika kita tidak memakai semua obat, TB dalam tubuh kita mungkin jadi resistan dan obat tersebut akan menjadi tidak efektif lagi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada jenis TB yang resistan terhadap beberapa antibiotik. Ini disebut TB yang resistan terhadap beberapa obat atau MDR-TB, atau yang resistan terhadap semua obat lini pertama dan kedua (XDR-TB). Hingga saat ini, prevalensi MDR-TB dan XDR-TB (bila ada) di Indonesia belum jelas. Kendati ada masalah ini, kebanyakan kasus TB dapat disembuhkan dengan antibiotik yang ada.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masalah Obat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa antibiotik yang dipakai untuk mengobati TB dapat merusak hati atau ginjal. Begitu juga beberapa obat antiretroviral (ARV) yang dipakai untuk memerangi HIV. Bisa jadi sulit untuk memakai obat untuk TB dan HIV sekaligus. INH dapat menyebabkan neuropati perife, seperti juga beberapa ARV, jadi dapat terjadi masalah bila obat ini dipakai bersama. Pengobatan TB juga dapat menyebabkan sindrom pemulihan kekebalan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Juga, banyak ARV berinteraksi dengan obat yang dipakai untuk memerangi TB. Rifampisin atau rifabutin umumnya dipakai untuk mengobati TB. Obat ini dapat mengurangi tingkat ARV dalam darah kita di bawah tingkat yang diperlukan untuk mengendalikan HIV. ARV dapat meningkatkan tingkat obat TB ini sehingga mengakibatkan efek samping yang berat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rifampisin tidak boleh dipakai jika kita memakai kebanyakan protease inhibitor (PI). Rifabutin dapat dipakai dalam beberapa kasus, tetapi mungkin takarannya harus diubah. Ada pedoman khusus untuk dokter jika kita memakai obat untuk memerangi TB dan HIV sekaligus. Juga, jika jumlah CD4 kita di bawah 100, kita sebaiknya memakai rifabutin sedikitnya tiga kali seminggu. Ini mengurangi risiko TB menjadi resistan terhadap rifabutin.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk alasan ini, lebih baik TB diobati sebelum terapi ARV (ART) dimulai. Namun bila jumlah CD4 di bawah 200, ART sebaiknya dimulai setelah efek samping obat TB sudah hilang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;TB adalah penyakit berat dan membunuh lebih banyak Odha dibanding dengan semua penyakit lain. TB dan HIV saling memburukkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada pengobatan efektif untuk infeksi TB, dan untuk penyakit TB aktif. Jika kita pernah dekat dengan orang TB aktif, atau mempunyai gejala TB, sebaiknya kita segera dites dan diobati.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengobatan untuk TB perlu jangka waktu yang lama, dan dapat sulit dipakai sekaligus dengan ARV, tetapi obat tersebut dapat menyembuhkan TB. Beberapa obat TB dapat berinteraksi dengan ARV, jadi pengobatan harus direncanakan dengan hati-hati jika kita memiliki TB dan HIV sekaligus.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(Sumber: Spiritia)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-3274392439587526598?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/3274392439587526598/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/07/tb-dan-hiv.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/3274392439587526598'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/3274392439587526598'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/07/tb-dan-hiv.html' title='TB dan HIV'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-1126355802479737211</id><published>2010-07-26T12:08:00.001+07:00</published><updated>2011-03-15T00:35:03.116+07:00</updated><title type='text'>Keamanan Makanan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kita jarang menganggap dapur kita sebagai tempat yang berbahaya. Tetapi di sana ada musuh tersembunyi yang siap menyerang sistem kekebalan yang lemah. Bakteri yang bersembunyi dalam daging mentah, di atas meja atau talenan (papan pemotong) menempatkan orang yang terinfeksi HIV pada risiko infeksi berbahaya. Secara lebih rinci, makanan yang tidak disimpan atau dihidangkan secara benar dapat mengandung bakteri yang bisa berbahaya bagi sistem kekebalan tubuh yang lemah. Keamanan makanan adalah bagian yang sangat penting dari perawatan pencegahan untuk Odha. Perhatian pada hal-hal berikut ini akan membantu kita tetap aman dan sehat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cuci...cuci...cuci&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bakteri yang menyebabkan penyakit dapat hidup di mana saja di dapur. Di atas meja, perkakas, kain lap, talenan, dan bahkan tangan kita merupakan tempat tinggal yang tepat untuk bakteri. Sedikit praktek sederhana dapat membantu kita tetap aman.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cuci tangan dengan air hangat yang telah dibubuhi sabun sebelum dan sesudah memegang makanan. Juga pastikan bahwa tangan dicuci setelah memakai kamar mandi atau memegang hewan peliharaan. Cuci talenan, perabot, dan perkakas dengan air hangat bersabun setelah menyiapkan makanan dan di antara masing-masing makanan yang disiapkan. Pakai serbet kertas sekali pakai bila membersihkan dapur. Jika kita harus memakai serbet kain, cucilah sering-sering dalam air hangat. Jika kain kotor dan basah ditinggal di meja dapur kita atau digantung pada rak serbet, ini memungkinkan bakteri tumbuh dan apa saja yang berhubungan dengannya dapat terinfeksi. Akhirnya, gunakan talenan plastik atau yang tidak menyerap. Permukaan yang menyerap seperti kayu memungkinkan bakteri berpindah ke permukaan dan mencemarkan makanan yang berhubungan dengan permukaan itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tetap terpisah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bakteri dapat berpindah dari satu makanan ke makanan lain. Pencemaran silang ini paling mudah terjadi pada daging, unggas, dan makanan laut mentah. Sedikit petunjuk sederhana dapat memperkecil risiko pencemaran silang dan membebaskan makanan dari bakteri yang dapat membuat kita sakit.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jangan menyiapkan daging, unggas, atau makanan laut mentah pada talenan yang telah dipakai. Talenan harus dicuci dengan air hangat bersabun sebelum memotong makanan mentah yang berbeda. Idealnya, setiap jenis makanan yang disajikan memakai talenan yang berbeda-beda. Selalu cuci tangan, perkakas, permukaan meja, dan talenan setelah mereka berhubungan dengan daging, unggas atau makanan laut mentah. Dan akhirnya, jangan menaruh makanan yang sudah dimasak pada piring yang telah berhubungan dengan daging, unggas, atau makanan laut mentah tanpa mencucinya terlebih dahulu dengan air panas bersabun.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masak baik-baik hingga matang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Memasak makanan dengan baik merupakan langkah yang penting dalam keamanan makanan. Makanan disebut dimasak dengan baik jika dimasak pada suhu yang cukup panas selama waktu yang cukup lama untuk membunuh bakteri apa pun yang ada. Berikut akan membantu kita memasak secara aman.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pakai termometer memasak untuk memastikan makanan benar-benar masak. Jangan memakan daging yang berwarna merah jambu di bagian dalamnya. Resep yang memerlukan telor mentah sebaiknya dihindari. Bila memasak dalam microwave, pastikan tidak ada daerah yang dingin dalam makanan di mana bakteri dapat bertahan hidup. Dan akhirnya, jika memanaskan kembali sisa makanan pastikan kita memasaknya dengan suhu sedikitnya 75 derajat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tetap Dingin&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk menjaga agar bakteri tidak memperbanyak diri, penting untuk segera mendinginkan makanan. Kulkas kita sebaiknya disetel pada 4 derajat dan freezer pada –17 derajat. Menyimpan makanan dalam keadaan dingin akan mencegah bakteri. Berikut sedikit petunjuk untuk membantu kita mendinginkan makanan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dinginkan atau bekukan makanan yang disajikan dan sisa makanan dalam dua jam setelah waktu makan selesai. Jangan melunakkan makanan yang beku dengan suhu ruangan. Sebaiknya makanan yang beku dilunakkan dalam kulkas, di bawah air dingin atau dalam microwave. Akhirnya, bagilah sisa makanan menjadi porsi kecil-kecil sehingga mereka lebih cepat menjadi dingin.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bakteri tidak dapat dilihat, tidak dapat didengar tetapi dapat mematikan. Melakukan tindakan pencegahan yang tepat di dapur dan waktu menyiapkan makanan kita dapat membuat perbedaan antara sakit dan sehat. Mewaspadai keamanan makanan penting bagi setiap orang yang hidup dengan HIV.(spiritia)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-1126355802479737211?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/1126355802479737211/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/07/keamanan-makanan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/1126355802479737211'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/1126355802479737211'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/07/keamanan-makanan.html' title='Keamanan Makanan'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-3291722881197054794</id><published>2010-06-01T14:57:00.002+07:00</published><updated>2011-03-15T00:36:17.275+07:00</updated><title type='text'>Pedoman Nasional ART</title><content type='html'>Pedoman ART&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pedoman nasional terapi antiretroviral (ART) diterbitkan oleh Departemen Kesehatan RI sebagai standar untuk para dokter mengenai cara menatalaksanakan ART di Indonesia. Pedoman dirancang berdasarkan usulan dari WHO dengan kesepakatan antara beberapa pakar di Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena pengetahuan dan pengalaman mengenai ART berkembang terus-menerus, seharusnya pedoman sering diperbarui. Namun walau pedoman WHO diperbarui pada Agustus 2006, pedoman nasional belum diperbarui, dan masih berdasarkan pedoman WHO 2003. Oleh karena itu, beberapa hal baru tidak ditetapkan pada pedoman ART yang berlaku saat ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tujuan ART&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut pedoman, tujuan ART adalah:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* Mengurangi laju penularan HIV di masyarakat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* Menurunkan angka kesakitan dan kematian yang berhubungan dengan HIV&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* Memperbaiki kualitas hidup Odha&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* Memulihkan dan/atau memelihara fungsi kekebalan tubuh&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* Menekan replikasi virus secara maksimal dan terus-menerus&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Isi Pedoman ART&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pedoman ART terutama mengatur:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* kapan ART boleh dimulai&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* rejimen yang dipakai sebagai lini pertama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* pemantauan ART&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* alasan untuk mengganti ART&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* pilihan rejimen lini kedua&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pedoman juga memberi pengarahan mengenai penggunaan ART oleh kelompok tertentu, termasuk perempuan hamil, pengguna narkoba, anak, dan orang koinfeksi HIV dan TB.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Stadium Klinis&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;WHO menetapkan empat stadium klinis HIV, sebagaimana berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* Stadium 1: Tanpa gejala&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* Stadium 2: Penyakit ringan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* Stadium 3: Penyakit lanjut&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* Stadium 4: Penyakit berat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lihat pedoman atau situs web Spiritia untuk definisi masing-masing stadium klinis. Ada definisi untuk orang dewasa/remaja, dan definisi khusus buat anak. Catatan: pada saat pedoman Indonesia ditebitkan, penyakit HIV pada anak hanya dibagi dengan tiga stadium; sejak itu WHO menetapkan empat stadium untuk anak, serupa dengan orang dewasa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kapan Mulai ART&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berdasarkan pedoman yang berlaku saat ini, Odha dewasa dan remaja memenuhi kriteria untuk mulai ART bila:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* Penyakit stadium 4, tanpa memandang jumlah CD4; atau&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* Penyakit stadium 3, dengan CD4 (bila tersedia) di bawah 350; atau&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* Penyakit stadium 2 atau 1, dengan CD4 di bawah 200.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Harus ditekankan bahwa pedoman tidak mengharuskan tes CD4 sebelum mulai ART. Bila kita mengalami penyakit stadium 3 atau 4, kita boleh mulai ART walau tidak diketahui jumlah CD4. Lagi pula harus ditekankan bahwa tidak ada peraturan bahwa kita harus menunggu sampai jumlah CD4 di bawah 200. Bila kita mengalami penyakit stadium 3, kita boleh mulai dengan jumlah CD4 di bawah 350. Namun, Odha tanpa gejala hanya boleh mulai ART berdasarkan jumlah CD4 di bawah 200.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berdasarkan pedoman terbaru dari WHO, anak di bawah usia lima tahun yang HIV-positif boleh mulai ART bila:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* Penyakit stadium 4 atau 3, tanpa memandang jumlah CD4; atau&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* Penyakit stadium 2 atau 1, dengan CD4% (bila tersedia) di bawah 25% atau limfosit total (TLC) di bawah 4.000 (usia di bawah 1 tahun), 20%/3.000 bila usia 1-3 tahun, atau 25%/2.500 (usia 3-5 tahun).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada satu persyaratan lagi: kita harus siap mulai. Kita harus menunjukkan bahwa kita mampu tetap patuh terhadap ART setelah kita mulai. Untuk memastikan kesiapan untuk mulai, pedoman mengharuskan persiapan secara matang dengan konseling kepatuhan, sehingga kita faham benar akan manfaat, cara penggunaan, efek samping obat, tanda bahaya dan lain sebagainya yang terkait dengan ART.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mulai dengan Rejimen Apa?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kita mulai dengan rejimen lini pertama. Rejimen lini pertama terdiri dari tiga dari lima obat: (AZT atau d4T) + 3TC + (nevirapine atau efavirenz). Pilihan yang baku adalah AZT + 3TC + nevirapine. AZT + 3TC sering disediakan dalam satu pil yang mengandung kedua obat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada tiga pilihan rejimen lain berdasarkan kelima obat ini. Mungkin dokter kita akan menganjurkan rejimen lain berdasarkan infeksi atau gejala lain yang kita alami. Rejimen lini pertama mungkin juga diubah akibat efek samping yang kita alami dengan rejimen awal.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemantauan ART&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut pedoman, ada beberapa tes laboratorium yang seharusnya dilakukan sebelum dan/atau setelah kita mulai ART. Tes utama yang dibutuhkan adalah tes Hb sebelum kita mulai dan secara bekala dalam beberapa bulan setelah kita mulai bila kita memakai AZT. Selain itu, perempuan seharus melakukan tes kehamilan sebelum mulai rejimen yang mengandung efavirenz. Hal ini diatur karena efavirenz dapat menyebabkan cacat janin, terutama bila dipakai pada triwulan pertama kehamilan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pedoman mengusulkan dilakukan tes CD4 sebelum mulai ART dan setiap 6-12 bulan setelah mulai untuk memantau keberhasilan. Namun tes ini tidak diharuskan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pedoman ART di Indonesia tidak menganjurkan dilakukan tes viral load atau tes resistansi sebagai persyaratan sebelum mulai atau sebagai tes pemantauan ART.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Alasan untuk Mengganti ART&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada dua alasan untuk mengganti ART: efek samping yang tidak tertahan; dan kegagalan terapi. Kalau kita mengalami efek samping, mungkin kita harus mengganti satu obat dalam rejimen lini pertama dengan obat lain juga dari lini pertama. Dalam keadaan yang luar biasa, kita mungkin harus mengganti satu obat dari rejimen lini pertama dengan satu obat dari lini kedua.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bila dokter menentukan bahwa terapi kita gagal, ditunjukkan oleh viral load menjadi terdeteksi, jumlah CD4 turun, atau kita mengalami infeksi oportunistik, kita harus berhenti memakai semua obat dalam rejimen lini pertama, dan akan dialihkan pada rejimen lini kedua dengan semua obat yang baru.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pilihan Rejimen Lini Kedua&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saat ini, rejimen lini kedua terdiri dari tenofovir, ddI dan Kaletra/Aluvia. Tidak ada pilihan lain.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-3291722881197054794?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/3291722881197054794/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/06/pedoman-nasional-art.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/3291722881197054794'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/3291722881197054794'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/06/pedoman-nasional-art.html' title='Pedoman Nasional ART'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-3797545751021661091</id><published>2010-06-01T14:54:00.003+07:00</published><updated>2011-03-15T00:40:08.830+07:00</updated><title type='text'>Viral Load Test</title><content type='html'>Tes Viral Load&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tes viral load adalah tes untuk mengukur jumlah virus HIV dalam darah. Ada beberapa cara untuk melakukan tes ini:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* Metode PCR (polymerase chain reaction) memakai suatu enzim untuk menggandakan HIV dalam contoh darah. Kemudian reaksi kimia menandai virus. Penanda diukur dan dipakai untuk menghitung jumlah virus. Tes jenis ini dibuat oleh Roche dan Abbott.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* Metode bDNA (branched DNA) menggabungkan bahan yang menimbulkan cahaya dengan contoh darah. Bahan ini mengikat pada bibit HIV. Jumlah cahaya diukur dan dijadikan jumlah virus. Tes jenis ini dibuat oleh Bayer.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* Metode NASBA (nucleic acid sequence based amplification) menggandakan protein virus agar dapat dihitung. Tes jenis ini dibuat oleh bioMerieux.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Metode tes yang berbeda menunjukkan hasil yang berbeda untuk contoh yang sama. Karena hasil tes berbeda, kita sebaiknya tetap memakai jenis tes yang sama untuk memantau kecenderungan viral load.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Viral load biasanya dilaporkan sebagai jumlah kopi HIV dalam satu mililiter darah (kopi/mm3). Batas atas tes kurang lebih 1 juta kopi, dan terus disempurnakan sehingga menjadi lebih peka. Batas bawah tes bDNA pertama adalah 10.000 kopi. Model tes generasi dua dapat mengukur hingga 500 kopi. Saat ini ada tes sangat peka yang mampu mendeteksi kurang dari lima kopi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hasil tes viral load yang terbaik adalah yang dilaporkan sebagai ‘tidak terdeteksi’. Ini bukan berarti tidak ada virus dalam darah; artinya hanya bahwa jumlah virus yang ada tidak cukup untuk ditemukan dan dihitung oleh tes. Dengan tes generasi yang dipakai secara umum di Indonesia, ‘tidak terdeteksi’ dapat berarti sampai dengan 399 kopi. Artinya hasil ‘tidak terdeteksi’ tergantung pada kepekaan tes yang dipakai.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semua tes viral load pertama memakai contoh darah yang dibekukan. Sekarang hasil yang baik dicapai dengan contoh yang dikeringkan. Cara ini akan mengurangi biaya untuk alat membekukan dan pengiriman.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Manfaat Tes Viral Load&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tes viral load membantu dalam beberapa bidang:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;* Dalam penelitian, tes ini membuktikan bahwa HIV tidak pernah ‘laten’ atau tidur, melainkan terus menggandakan diri. Banyak Odha tanpa gejala AIDS dengan jumlah CD4 yang tinggi juga mempunyai viral load yang tinggi. Seumpama virus benar laten, tes seharusnya tidak menemukan HIV dalam darah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;* Tes ini dapat dipakai untuk diagnosis, karena tes dapat menemukan virus beberapa hari setelah seseorang terinfeksi HIV. Ini lebih baik dibandingkan tes HIV baku (tes antibodi), yang bisa saja ‘negatif’ selama tiga bulan setelah infeksi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Untuk prognosis, viral load dapat membantu meramalkan berapa lama kita akan tetap sehat. Semakin tinggi viral load, semakin cepat penyakit HIV berkembang.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Untuk pencegahan, viral load menunjukkan daya menular pada orang lain. Semakin tinggi viral load, semakin mudah menularkan HIV.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Akhirnya, tes viral load bermanfaat untuk pemantauan terapi, untuk mengetahui apakah obat antiretroviral (ARV) mengendalikan virus.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;Panduan saat ini menganjurkan pengukuran viral load pada awal, sebelum mulai terapi.&amp;nbsp;&lt;/ul&gt;Suatu rejimen berhasil bila viral load diturunkan setidaknya 90% dalam waktu delapan minggu setelah terapi ARV (ART) mulai dipakai. Viral load seharusnya terus menurun menjadi kurang dari 50 kopi dalam enam bulan. Ada anggapan bahwa viral load sebaiknya diukur 2-8 minggu setelah ART dimulai atau diubah, dan kemudian setiap 3-4 bulan. Namun di negara berkembang seperti Indonesia, tes viral load sering tidak terjangkau, dan ART harus dipantau dengan cara lain (jumlah CD4 dan/atau gejala klinis).&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengukuran Perubahan Viral Load&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tes berulang pada satu contoh darah dapat memberikan hasil yang berbeda tiga kali lipat. Ini berarti bahwa perubahan yang bermakna adalah jika viral load menurun menjadi kurang dari satu per tiga atau meningkat menjadi lebih dari tiga kali dibanding tes sebelumnya. Misalnya, perubahan dari 200.000 menjadi 600.000 bisa dianggap tidak bermakna. Jika hasil turun dari 50.000 menjadi 10.000, ini dianggap bermakna. Yang terpenting adalah untuk mencapai viral load yang tidak terdeteksi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perubahan pada viral load kadang dilaporkan sebagai perubahan ‘log’. Hal ini mengacu pada catatan ilmiah, yang memakai pangkat sepuluh. Misalnya, penurunan 2-log adalah penurunan 102 atau 100 kali. Penurunan dari 60.000 menjadi 600 adalah penurunan 2-log.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Blip” Viral Load&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Baru-baru ini, para peneliti melihat bahwa viral load pada banyak pasien kadang kala naik dari tidak terdeteksi menjadi tingkat yang masih rendah (biasanya di bawah 400), dan kemudian kembali tidak terdeteksi. Penelitian secara teliti mengesankan bahwa “blip” (peningkatan sementara) ini tidak menunjukkan bahwa virus mulai mengembangkan resistansi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak ada angka viral load yang ‘ajaib’. Kita tidak tahu berapa lama kita dapat tetap sehat dengan viral load tertentu. Yang kita tahu hanyalah bahwa semakin rendah semakin baik, yaitu tampaknya berarti hidup yang lebih lama dan lebih sehat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pedoman AS mengusulkan ART dipertimbangkan jika viral load di atas 100.000.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa orang mungkin beranggapan bahwa mereka tidak dapat menularkan orang lain jika viral loadnya tidak terdeteksi. Ini tidak benar. Tidak ada viral load yang ‘aman’. Walaupun risiko lebih rendah, kita dapat menularkan HIV pada orang lain bahkan dengan viral load yang tidak terdeteksi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masalah dengan Tes Viral Load&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada beberapa masalah dengan tes viral load:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Hanya 2% HIV dalam tubuh kita adalah di darah. Tes viral load tidak mengukur jumlah HIV yang ada di jaringan tubuh misalnya kelenjar getah bening, empedu atau otak. Viral load dalam jaringan getah bening (limfa) dan air mani menurun bila tingkat dalam darah menurun, tetapi tidak pada waktu dan kecepatan yang sama.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hasil tes viral load dapat dipengaruhi jika tubuh kita menyerang infeksi, atau jika kita baru imunisasi (misalnya vaksinasi flu). Kita sebaiknya tidak mengambil darah untuk tes viral load dalam waktu empat minggu setelah infeksi atau imunisasi apa pun.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(Sumber: Spiritia)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-3797545751021661091?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/3797545751021661091/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/06/viral-load-test.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/3797545751021661091'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/3797545751021661091'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/06/viral-load-test.html' title='Viral Load Test'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-1280482749734149475</id><published>2010-06-01T14:50:00.004+07:00</published><updated>2011-03-15T00:42:43.814+07:00</updated><title type='text'>Tes CD4</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sel CD4&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sel CD4 adalah macam sel darah putih atau limfosit. Sel tersebut adalah bagian yang penting dari sistem kekebalan tubuh kita. Sel ini juga disebut sel T-4, sel pembantu atau kadang kala sel CD4+. Selain sel CD4 juga ada sel CD8, yang juga disebut sel T-8 atau sel pembunuh. Sel CD8 itu membunuh sel kanker atau sel yang terinfeksi virus.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sel CD4 dapat dibedakan dari sel CD8 berdasarkan protein tertentu yang ada di permukaan sel. Sel CD4 mempunyai protein CD4 pada permukaannya. Protein itu bekerja sebagai ‘reseptor’ untuk HIV. HIV mengikat pada reseptor CD4 itu seperti kunci dengan gembok.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sel CD4 Sehubungan dengan HIV&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Waktu HIV menulari manusia, sel yang paling sering terinfeksi adalah sel CD4. Kode genetik HIV menjadi bagian dari sel itu. Waktu sel CD4 menggandakan diri untuk melawan infeksi apa pun, sel tersebut juga membuat tiruan HIV.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah kita lama terinfeksi HIV, jumlah sel CD4 kita semakin menurun. Ini tanda bahwa sistem kekebalan tubuh kita semakin rusak. Semakin rendah jumlah CD4, semakin mungkin kita akan jatuh sakit.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada jutaan keluarga sel CD4. Setiap keluarga dirancang khusus untuk melawan kuman tertentu. Waktu HIV mengurangi jumlah sel CD4, beberapa keluarga dapat diberantas total. Kalau itu terjadi, kita kehilangan kemampuan untuk melawan kuman yang seharusnya dihadapi oleh keluarga tersebut. Jika ini terjadi, kita mungkin mengalami infeksi oportunistik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tes CD4&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Contoh darah kita yang kecil diambil. Darah ini dites untuk menghitung beberapa tipe sel. Jumlah sel CD4 tidak langsung diukur. Malahan, laboratorium membuat hitungan berdasarkan jumlah sel darah putih. Jumlah CD4 yang dilaporkan oleh tes CD4 tidak persis.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena jumlah CD4 penting untuk menunjukkan kekuatan sistem kekebalan tubuh, diusulkan kita melakukan tes CD4 setiap 3-4 bulan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Faktor yang Mempengaruhi Jumlah CD4&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hasil tes dapat berubah-ubah, tergantung pada jam berapa contoh darah diambil, kelelahan, dan stres. Sebaiknya contoh darah kita diambil pada jam yang sama setiap kali dites CD4, dan juga selalu memakai laboratorium yang sama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Infeksi lain dapat sangat mempengaruhi jumlah CD4. Jika tubuh kita menyerang infeksi, jumlah sel darah putih (limfosit) naik. Jumlah CD4 juga naik. Vaksinasi dapat berdampak serupa. Kalau akan melakukan tes CD4, sebaiknya kita menunggu dua minggu setelah pulih dari infeksi atau setelah vaksinasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hasil Tes CD4&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hasil tes CD4 biasanya dilaporkan sebagai jumlah sel CD4 yang ada dalam satu milimeter kubik darah (biasanya ditulis mm3). Jumlah CD4 yang normal biasanya berkisar antara 500 dan 1.600. Jumlah CD4 umumnya menurun perlahan-lahan pada Odha. Namun dalam beberapa kasus, jumlah CD4 dapat menurun lebih cepat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena jumlah CD4 begitu berubah-ubah, kadang lebih cocok kita lihat persentase sel CD4. Persentase ini adalah perbandingan dengan limfosit total. Jika hasil tes melaporkan CD4% = 34%, ini berarti 34% dari limfosit kita adalah sel CD4. Persentase ini lebih stabil dibandingkan jumlah sel CD4 mutlak. Angka normal berkisar antara 30-60%. Setiap laboratorium mempunyai kisaran yang berbeda. Belum ada pedoman untuk keputusan pengobatan berdasarkan CD4%, kecuali untuk anak berusia di bawah empat tahun.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jumlah CD4 mutlak di bawah 200 menunjukkan kerusakan yang berat pada sistem kekebalan tubuh. Hal ini adalah tanda AIDS pada orang terinfeksi HIV. Sebuah penelitian baru menunjukkan bahwa CD4% lebih baik meramalkan perkembangan penyakit HIV dibandingkan CD4 mutlak. Tetapi jumlah CD4 mutlak tetap dipakai untuk menentukan kapan terapi antiretroviral (ART) sebaiknya dimulai.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kadang kita juga diusulkan untuk melakukan tes CD8. Namun sama sekali tidak jelas bagaimana hasil tes CD8 dapat ditafsirkan. Oleh karena itu, tidak ada manfaat mengeluarkan biaya untuk tes CD8.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jumlah CD4 adalah ukuran kunci kesehatan sistem kekebalan tubuh. Semakin rendah jumlahnya, semakin besar kerusakan yang diakibatkan HIV. Jika kita mempunyai jumlah CD4 di bawah 200, atau persentase CD4 di bawah 14%, kita dianggap AIDS, berdasarkan definisi Depkes.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jumlah CD4 dipakai bersama dengan viral load untuk meramalkan berapa lama kita akan tetap sehat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jumlah CD4 juga dipakai untuk menunjukkan kapan beberapa macam pengobatan sebaiknya dimulai.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Memulai ART&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika jumlah CD4 menurun di bawah 350, sudah waktu mulai mempertimbangkan ART. Beberapa dokter memakai persentase CD4 di bawah 15% sebagai patokan untuk mulai terapi ini, sekali pun jumlah CD4 masih tinggi. Dokter yang lebih hati-hati mungkin akan menunggu sampai jumlah CD4 menjelang 200. Penelitian baru menemukan bahwa kegagalan ART lebih sering terjadi bila dimulai dengan CD4% di bawah 5%.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Memulai pengobatan untuk mencegah infeksi oportunistik&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagian besar dokter meresepkan obat untuk mencegah infeksi oportunistik pada jumlah CD4 yang berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* Di bawah 200: PCP (&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* Di bawah 100: tokso  dan kripto &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* Di bawah 50: MAC&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Memantau keberhasilan ART: Umumnya jumlah CD4 akan mulai naik segera setelah kita mulai ART. Namun kecepatan sangat beragam, dan kadang pelan. Bila jumlah CD4 di bawah 50 waktu kita mulai ART, jumlah CD4 kita mungkin tidak akan meningkat menjadi normal (di atas 500). Yang penting jumlah naik namun kita sebaiknya tidak terlalu berfokus pada angka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebaliknya, bila jumlah CD4 mulai menurun lagi setelah naik, mungkin itu adalah tanda bahwa ART kita mulai gagal, dan mungkin rejimen harus diganti.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jumlah Limfosit Total&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena tes CD4 tidak tersedia di banyak daerah di Indonesia, dan jika ada, mungkin harganya terlalu mahal, maka jumlah limfosit total kadang kala dipakai sebagai penggantinya. Tes ini jauh lebih murah dan dapat dilaksanakan di hampir semua laboratorium. Namun hasilnya tidak dapat persis disamakan dengan jumlah CD4, dan jumlah limfosit total ini hanya dapat dipakai sebagai tanda. Walaupun begitu, hasilnya dapat membantu mengambil keputusan tentang pengobatan. Biasanya dianggap bahwa jumlah limfosit total antara 1.000 dan 1.200 serupa dengan jumlah CD4 200, dan ini dapat dipakai sebagai tanda mulai ART atau pencegahan PCP. Namun TLC tidak dapat dipakai untuk memantau keberhasilan ART.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penyakit dan Kematian ‘Non-AIDS’&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekarang, karena Odha umumnya hidup lebih lama berkat ART, ada lebih banyak penelitian mengenai penyebab penyakit dan kematian lain. Penyebab kematian ‘non-AIDS’ ini termasuk penyakit hati, kanker tidak terkait AIDS dan penyakit jantung. Secara keseluruhan, kematian ini menurun. Namun penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan erat antara jumlah CD4 yang lebih rendah dan risiko kematian.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-1280482749734149475?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/1280482749734149475/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/06/tes-cd4.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/1280482749734149475'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/1280482749734149475'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/06/tes-cd4.html' title='Tes CD4'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-525384456835266470</id><published>2010-06-01T14:45:00.002+07:00</published><updated>2011-03-15T00:43:18.957+07:00</updated><title type='text'>Herpes Simpleks (HSV)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Herpes simpleks berkenaan dengan sekelompok virus yang menulari manusia. Serupa dengan herpes zoster, herpes simpleks menyebabkan luka-luka yang sangat sakit pada kulit. Gejala pertama biasanya gatal-gatal dan kesemutan/perasaan geli, diikuti dengan lepuh yang membuka dan menjadi sangat sakit. Infeksi ini dapat dorman (tidak aktif) dalam sel saraf selama beberapa waktu. Namun tiba-tiba infeksi menjadi aktif kembali. Herpes dapat aktif tanpa gejala.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Virus herpes simpleks tipe 1 (HSV-1) adalah penyebab umum untuk luka-luka demam (cold sore) di sekeliling mulut. HSV-2 biasanya menyebabkan herpes kelamin. Namun HSV-1 dapat menyebabkan infeksi pada kelamin dan HSV-2 dapat menginfeksikan daerah mulut melalui hubungan seks.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jangkitan HSV berulang dapat terjadi bahkan pada orang dengan sistem kekebalan yang sehat. Jangkitan HSV yang lama mungkin berarti sistem kekebalan tubuh sudah lemah. Ini termasuk orang terinfeksi HIV, terutama mereka yang berusia di atas 50 tahun. Untungnya, jarang ada jangkitan lama yang tidak menjadi pulih kecuali pada Odha dengan jumlah CD4 yang sangat rendah. Jangkitan lama ini juga sangat jarang terjadi setelah tersedianya terapi antiretroviral (ART).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;HSV tidak termasuk infeksi yang mendefinisikan AIDS. Namun orang yang terinfeksi dengan HIV dan HSV bersamaan lebih mungkin mengalami jangkitan herpes lebih sering. Jangkitan ini dapat lebih berat dan bertahan lebih lama dibandingkan dengan orang tidak terinfeksi HIV.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Luka herpes menyediakan jalur yang dimanfaatkan HIV untuk melewati pertahanan kekebalan tubuh, sehingga menjadi lebih mudah terinfeksi HIV. Sebuah penelitian baru menemukan risiko orang dengan HSV tertular HIV adalah tiga kali lebih tinggi dibandingkan orang tanpa HSV. Sebuah penelitian lain menemukan bahwa mengobati HSV dapat mengakibatkan penurunan yang bermakna pada viral load HIV. Namun penelitian lain menemukan bahwa mengobati herpes kelamin tidak mencegah infeksi HIV baru.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Orang dengan HIV dan HSV bersama juga sebaiknya sangat hati-hati waktu ada jangkitan HSV. Pada waktu itu, viral load HIV-nya biasanya meningkat, yang meningkatkan risiko penularan HIV-nya pada orang lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perawatan setempat untuk herpes zoster sebaiknya termasuk membersihkan lukanya dengan air garam dan menjaganya tetap kering. Gentian violet dapat dioleskan pada luka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengobatan baku untuk HSV adalah asiklovir dalam bentuk pil dua sampai lima kali sehari. Ada versi asiklovir lain dengan nama valasiklovir. Valasiklovir dapat diminum dua atau tiga kali sehari, tetapi harganya jauh lebih mahal dibandingkan asiklovir. Famsiklovir adalah obat lain yang dipakai untuk mengobati HSV.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Obat ini tidak menyembuhkan infeksi HSV. Namun obat ini dapat mengurangi lama dan beratnya jangkitan yang terjadi. Dokter mungkin meresepkan terapi “rumatan” – terapi antiherpes harian – untuk orang dengan HIV yang sering mengalami jangkitan HSV. Terapi ini dapat mencegah sebagian besar jangkitan. Terapi ini juga mengurangi secara bermakna jumlah hari dalam bulan waktu HSV dapat terdeteksi pada kulit atau selaput mukosa, bahkan tidak ada gejala.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penyebaran HSV sulit dicegah. Hal ini sebagian karena banyak orang dengan HSV tidak tahu dirinya terinfeksi dan dapat menularkannya. Orang yang tahu dirinya terinfeksi HSV pun mungkin tidak mengetahui mereka dapat menularkan infeksi walaupun mereka tidak mempunyai luka herpes yang terbuka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Angka penularan HSV dapat dikurangi dengan penggunaan kondom. Namun kondom tidak dapat mencegah semua penularan. Infeksi HSV dapat menular dan ditulari dari daerah kelamin yang agak luas – lebih luas daripada yang ditutup oleh celana dalam – dan juga di daerah mulut. Bila orang dengan herpes minum asiklovir setiap hari, mereka dapat mengurangi risiko menulari herpes pada orang lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Para peneliti sekarang mencari vaksin untuk mencegah HSV. Satu calon vaksin menunjukkan hasil yang baik terhadap HSV-2 pada perempuan, tetapi tidak pada laki-laki. Belum ada vaksin yang disetujui untuk mencegah infeksi HSV, tetapi penelitian terhadap vaksin untuk HSV berlanjut terus.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(Sumber: Spiritia)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-525384456835266470?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/525384456835266470/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/06/herpes-simpleks-hsv.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/525384456835266470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/525384456835266470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/06/herpes-simpleks-hsv.html' title='Herpes Simpleks (HSV)'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-5646370016380526523</id><published>2010-06-01T14:43:00.002+07:00</published><updated>2011-03-15T00:44:31.347+07:00</updated><title type='text'>Diagnosis HIV pada Bayi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Antibodi terhadap HIV diserahkan dari ibu ke janin melalui plasenta. Oleh karena itu, hasil tes HIV pada seorang bayi yang terlahir oleh ibu dengan HIV pasti reaktif (positif), walau kebanyakan bayi tersebut sebetulnya tidak terinfeksi HIV.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh karena itu, sementara diagnosis HIV pada orang dewasa relatif mudah, menentukan apakah seorang bayi terinfeksi atau tidak adalah jauh lebih rumit. Tes yang canggih dibutuhkan, tetapi tidak terjangkau di Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tes Antibodi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bayi yang terlahir oleh ibu terinfeksi HIV dapat tertular HIV selama kehamilan, saat lahir, dan bila disusui. Namun kemungkinan bayi terinfeksi dalam kandungan atau dalam persalinan hanya kurang lebih 20%. Antibodi yang diwarisi ibu mulai hilang setelah enam bulan, tetapi dapat bertahan dalam jumlah yang cukup untuk ditemukan dengan tes antibodi sampai usia 18 bulan. Bayi dapat dites dengan tes antibodi bila usia di atas sembilan bulan. Bila sebetulnya bayi tidak terinfeksi, umumnya hasil tes akan non-reaktif (artinya anak tidak terinfeksi) pada usia 12 bulan. Namun bila hasil reaktif pada saat itu, tes harus diulang lagi, dan bayi baru dapat dipastikan terinfeksi HIV bila hasil tes tetap reaktif pada usia 18 bulan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bayi yang tidak terinfeksi saat lahir dapat tertular melalui air susu ibu (ASI) dari ibu terinfeksi HIV. Bila terinfeksi melalui ASI, antibodi yang dicari oleh tes HIV baru terbentuk dengan jumlah yang cukup untuk dideteksi setelah beberapa minggu. Jadi hasil tes antibodi yang non-reaktif pada bayi yang disusui harus diulang sedikitnya enam minggu setelah penyusuan dihentikan total, untuk memastikan bayi tetap tidak terinfeksi HIV.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hasil tes HIV yang reaktif pada seorang anak berusia 18 bulan ke atas berarti anak tersebut terinfeksi HIV.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tes Virus&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berbeda dengan tes antibodi, tes virus dapat menentukan apakah bayi terinfeksi dalam bulan-bulan pertama hidupnya. Tes RNA HIV dengan alat PCR, yang biasanya dilakukan untuk mengukur viral load, dapat mendeteksi virus dalam darah, dan dapat dipakai untuk diagnosis HIV pada bayi. Namun tes ini masih sangat mahal (Rp 850 ribu) dan lebih sulit dilakukan dibandingkan tes antibodi, dan hanya dapat dilakukan di sedikit laboratorium di Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagian kecil (20-40%) bayi yang terinfeksi dalam kandungan atau saat lahir akan menunjukkan hasil positif pada tes PCR baru setelah lahir, sementara kebanyakan akan menunjukkan hasil positif pada usia 14 hari. Virus pada 98% bayi terinfeksi HIV terdeteksi setelah empat minggu, sehingga WHO mengusulkan tes viral load untuk mendiagnosis infeksi HIV pada bayi sebaiknya dilakukan pada usia enam minggu ke atas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hasil positif palsu dapat terjadi, terutama bila laboratorium tidak berpengalaman dengan alat PCR, dan semua hasil positif sebaiknya langsung dikonfirmasi dengan contoh darah baru. Hasil viral load yang rendah (di bawah 10.000) kemungkinan positif palsu, karena viral load pada bayi biasanya sangat tinggi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hasil negatif palsu juga dapat terjadi. Sebaiknya dua tes virus dilakukan untuk konfirmasi bahwa anak tidak terinfeksi. Sebaiknya juga tes antibodi dilakukan setelah anak berusia 18 bulan sebagai konfirmasi ulang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bila bayi disusui, hasil tes negatif melalui PCR harus diulang enam minggu setelah penyusuan dihentikan total.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Protokol Tes yang Diusulkan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penyakit yang diakibatkan HIV dapat berlanjut secara cepat pada bayi: angka kematian mendekati 50% pada anak terinfeksi HIV di bawah dua tahun bila HIV-nya tidak diobati. Jadi dengan semakin luasnya ketersediaan terapi antiretroviral (ART) untuk bayi dan anak, tujuan kita untuk menentukan apakah bayi terinfeksi secara dini terutama untuk bertemu bayi terinfeksi HIV yang membutuhkan perawatan dan pengobatan daripada sekadar untuk konfirmasi ketiadaan infeksi HIV.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sementara hasil tes PCR yang positif (bila dikonfirmasi) membuktikan bahwa bayi terinfeksi HIV, seperti dibahas di atas, tes PCR yang negatif tidak membuktikan bahwa bayi tidak terinfeksi bila tes dilakukan sebelum usia enam minggu. Namun, hasil PCR negatif menunjukkan bahwa bayi tersebut tidak berisiko tinggi terhadap kelanjutan penyakit yang diakibatkan HIV (karena viral loadnya rendah).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bayi dengan tes PCR negatif dan tetap tidak bergejala sebaiknya dites antibodinya setelah berusia 18 bulan atau enam minggu setelah penyusuan dihentikan. Sebaliknya seorang bayi dengan hasil tes PCR negatif tetapi bergejala sebaiknya mendapatkan tes diagnosis lanjutan. Walaupun gejala penyakit terkait HIV sering mirip dengan gejala penyakit umum pada masa kanak-kanak, dan harus dilakukan upaya untuk mengesampingkan diagnosis lain, tes PCR ulang diusulkan bila infeksi HIV dicurigai.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebelum dilakukan tes PCR pada bayi berusia di atas sembilan bulan, sebaiknya dilakukan tes antibodi. Bila hasil tes antibodi negatif, bayi tidak terinfeksi dan tes PCR tidak dibutuhkan. Bila bayi masih disusui, tes harus ditunda sampai enam minggu setelah penyusuan dihentikan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kesimpulan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hasil tes antibodi HIV yang reaktif pada anak berusia 18 bulan ke atas berarti anak terinfeksi HIV&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hasil tes antibodi HIV yang reaktif pada anak di bawah usia 18 bulan tidak membantu membedakan anak terinfeksi HIV dari anak yang tidak terinfeksi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hasil tes antibodi HIV yang non-reaktif enam minggu atau lebih setelah penyusuan dihentikan, atau kapan saja pada anak yang tidak disusui berarti anak tersebut tidak terinfeksi HIV&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kebanyakan anak yang tidak terinfeksi HIV akan menunjukkan hasil tes antibodi non-reaktif (berarti anak tidak terinfeksi HIV) pada usia 9-12 bulan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hasil tes antibodi HIV yang non-reaktif pada anak yang masih disusui atau dengan penyusuan baru saja dihentikan tidak cukup untuk mengesampingkan infeksi HIV. Tes harus diulang sedikitnya enam minggu setelah penyusuan dihentikan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hasil tes PCR HIV yang positif dan langsung dikonfirmasi dengan tes ulang pada anak berusia enam minggu atau lebih berarti anak tersebut terinfeksi HIV&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hasil tes PCR HIV yang negatif pada anak belum berusia enam minggu tidak memastikan bahwa anak tidak terinfeksi HIV&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Anak dengan hasil tes PCR HIV yang negatif dan mengembangkan gejala penyakit terkait HIV sebaiknya dites PCR HIV ulang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(Sumber: Spiritia)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-5646370016380526523?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/5646370016380526523/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/06/diagnosis-hiv-pada-bayi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/5646370016380526523'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/5646370016380526523'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/06/diagnosis-hiv-pada-bayi.html' title='Diagnosis HIV pada Bayi'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-7807335351245976794</id><published>2010-06-01T14:42:00.002+07:00</published><updated>2011-03-15T00:45:59.188+07:00</updated><title type='text'>Kehamilan dan HIV</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;HIV, virus penyebab AIDS, dapat menular dari ibu yang terinfeksi HIV ke bayinya yang baru lahir. Tanpa upaya untuk mencegahnya, dan bila ibu menyusui bayinya selama 18-24 bulan, kurang lebih 35% bayi dari ibu yang terinfeksi HIV menjadi tertular juga.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bayi dilahirkan oleh ibu dengan viral load HIV yang tinggi lebih mungkin tertular. Kebanyakan ahli menganggap bahwa risiko penularan pada bayi sangat amat rendah bila viral load ibu di bawah 1000 waktu melahirkan. Walaupun janin dalam kandungan dapat terinfeksi, sebagian besar penularan terjadi waktu melahirkan atau melalui menyusui. Bayi lebih mungkin tertular jika persalinan berlanjut lama. Selama proses kelahiran, bayi dalam keadaan berisiko tertular oleh darah ibunya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Air susu ibu (ASI) dari ibu yang terinfeksi HIV juga mengandung virus. Jadi jika bayi disusui oleh ibu HIV-positif, bayi bisa tertular.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pencegahan Penularan HIV dari Ibu-ke-Bayi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bila ayah terinfeksi HIV: Penelitian baru menunjukkan bahwa air mani dari seorang laki-laki terinfeksi HIV dapat ‘dicuci’, untuk memisahkan spermanya dari cairan yang mengandung HIV. Dengan cara ini, sperma dapat dipakai untuk membuahkan perempuan tanpa risiko dia akan terinfeksi, Tindakan ini efektif tetapi sangat mahal. Catatan: bila ibu tidak terinfeksi, pasti bayi tidak terinfeksi. Status HIV bayi tidak terpengaruh oleh status HIV ayahnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penggunaan ARV: Risiko penularan sangat rendah bila terapi ARV (ART) dipakai. Angka penularan hanya 1–2% bila ibu memakai ART.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bila ibu tidak memenuhi kriteria untuk mulai ART, pedoman di Indonesia mengusulkan dia mulai memakai AZT pada minggu ke-28 kehamilan, ditambah 3TC + nevirapine saat mau melahirkan, dan diteruskan AZT + 3TC selama satu minggu setelah melahirkan. Bayi diberi satu dosis nevirapine + AZT pas setelah lahir, dengan AZT diteruskan selama satu minggu. Dengan cara ini, angka penularan dapat ditekan menjadi kurang lebih 4%.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menjaga proses kelahiran tetap singkat waktunya: Semakin lama proses kelahiran, semakin besar risiko penularan. Bila si ibu memakai AZT dan mempunyai viral load di bawah 1000, risiko hampir nol. Ibu dengan viral load tinggi dapat mengurangi risiko dengan melahirkan melalui operasi Caesar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Makanan bayi: Kurang lebih 14% bayi terinfeksi HIV melalui ASI yang terinfeksi. Risiko ini dapat dihindari jika bayinya diberi pengganti ASI (PASI, atau formula).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun jika PASI tidak diberi secara benar, risiko lain pada bayinya menjadi semakin tinggi. Oleh karena itu, usulan di Indonesia adalah agar semua bayi disusui secara eksklusif (tidak campur dengan PASI) untuk enam bulan pertama, kemudian diganti dengan formula secara eksklusif. Namun, jika formula pasti dapat dilarutkan dengan air bersih, dan tidak ada masalah biaya yang menyebabkan jumlah formula yang diberikan tidak cukup, pilihan untuk memberi PASI eksklusif dapat dipertimbangkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang terburuk adalah campuran ASI dan PASI. Oleh karena itu, bila berencana untuk menyusui, harus ada kesepakatan dengan bidan sebelum lahir agar bayi langsung diberi pada ibunya untuk disusui, dan tidak diberi makanan atau minuman apa pun sebelumnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagaimana Mengetahui Jika Bayi Terinfeksi?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bayi diwarisi antibodi dari ibunya, untuk melindungi dia dalam bulan-bulan pertama kehidupannya, sebelum sistem kekebalan tubuh sudah berfungsi secara penuh. Hal itu berarti bayi yang terlahir oleh ibu HIV-positif pasti mempunyai antibodi terhadap HIV, apakah dia terinfeksi HIV atau tidak. Antibodi itu mulai hilang pada usia sembilan bulan, tetapi dapat tertahan sampai dengan usia 18 bulan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh karena itu, hasil tes HIV pada bayi tersebut pasti akan menunjukkan hasil positif, walau kemungkinan besar bayi ternyata tidak terinfeksi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kesehatan Ibu&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penelitian baru menunjukkan bahwa perempuan HIV-positif yang hamil tidak menjadi lebih sakit dibandingkan yang tidak hamil. Ini berarti menjadi hamil tidak mempengaruhi kesehatan perempuan HIV-positif. Justru ada bukti bahwa ibu HIV-positif menjadi lebih sehat setelah kehamilan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bila memenuhi kriteria untuk mulai ART, atau sudah memakai ART sebelum menjadi hamil, seorang ibu hamil sebaiknya mempertimbangkan beberapa masalah yang dapat terjadi terkait ART:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jangan memakai ddI bersama dengan d4T dalam ART-nya karena kombinasi ini dapat menimbulkan asidosis laktik dengan angka tinggi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jangan memakai efavirenz selama triwulan pertama kehamilan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bila jumlah CD4-nya lebih dari 250, jangan mulai memakai nevirapine.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa dokter mengusulkan perempuan berhenti pengobatannya pada triwulan pertama kehamilan. Ada tiga alasan:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Risiko dosis dilewatkan akibat mual dan muntah selama awal kehamilan, dengan risiko mengembangkan resistansi terhadap obat yang dipakai.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Risiko obat mengakibatkan anak cacat lahir, yang tertinggi pada triwulan pertama. Tidak ada bukti terjadi cacat lahir, kecuali dengan efavirenz.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;ART mungkin meningkatkan risiko kelahiran dini atau bayi lahir dengan berat badan rendah.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun pedoman saat ini tidak mendukung penghentian ART oleh ibu hamil.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika kita HIV-positif dan hamil, atau ingin hamil, sebaiknya kita bicara dengan dokter tentang pilihan menjagakan kesehatan sendiri, dan mengurangi risiko bayi kita terinfeksi HIV atau cacat lahir.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-7807335351245976794?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/7807335351245976794/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/06/kehamilan-dan-hiv.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/7807335351245976794'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/7807335351245976794'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/06/kehamilan-dan-hiv.html' title='Kehamilan dan HIV'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-2280982711835361315</id><published>2010-06-01T14:38:00.002+07:00</published><updated>2011-03-15T00:47:33.810+07:00</updated><title type='text'>Stadium WHO untuk Penyakit HIV pada Orang Dewasa dan Remaja</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_bWM7YztkSBc/TAS5oLQY_zI/AAAAAAAAACc/Wcz7GPC4Os0/s1600/hiv11.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5477707146656808754" src="http://3.bp.blogspot.com/_bWM7YztkSBc/TAS5oLQY_zI/AAAAAAAAACc/Wcz7GPC4Os0/s320/hiv11.jpg" style="cursor: hand; cursor: pointer; float: right; height: 130px; margin: 0 0 10px 10px; width: 143px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Stadium Klinis 1&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tanpa gejala (asimtomatis)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Limfadenopati generalisata persisten&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Stadium Klinis 2&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kehilangan berat badani yang sedang tanpa alasanii (&amp;lt;10% berat badan diperkirakan atau diukur) Infeksi saluran napas bagian atas yang berulang (sinusitis, tonsilitis, ototis media dan faringitis) Herpes zoster Kheilitis angularis Ulkus di mulut yang berulang Erupsi papular pruritis Dermatitis seboroik Infeksi jamur di kuku  Stadium Klinis 3 Kehilangan berat badan yang parah tanpa alasan (&amp;gt;10% berat badan diperkirakan atau diukur)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Diare kronis tanpa alasan yang berlangsung lebih dari 1 bulan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demam berkepanjangan tanpa alasan (di atas 37,5°C, sementara atau terus-menerus, lebih dari 1 bulan)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kandidiasis mulut berkepanjangan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oral hairy leukoplakia&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tuberkulosis paru&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Infeksi bakteri yang berat (mis. pnemonia, empiema, piomiositis, infeksi tulang atau sendi, meningitis atau bakteremia)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Stomatitis, gingivitis atau periodontitis nekrotising berulkus yang akut&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Anemia (&amp;lt;8g/dl), neutropenia (&amp;lt;0,5 × 109/l) dan/atau trombositopenia kronis (&amp;lt;50 × 109/l) tanpa alasan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Stadium Klinis 4iii&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sindrom wasting HIV&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pneumonia Pneumocystis&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pneumonia bakteri parah yang berulang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Infeksi herpes simplex kronis (orolabial, kelamin, atau rektum/anus lebih dari 1 bulan atau viskeral pada tempat apa pun)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kandidiasis esofagus (atau kandidiasis pada trakea, bronkus atau paru)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tuberkulosis di luar paru&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sarkoma Kaposi (KS)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Infeksi sitomegalovirus (retinitis atau infeksi organ lain)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Toksoplasmosis sistem saraf pusat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ensefalopati HIV&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kriptokokosis di luar paru termasuk meningitis&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Infeksi mikobakteri non-TB diseminata&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Progressive multifocal leukoencephalopathy (PML)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kriptosporidiosis kronis&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Isosporiasis kronis&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mikosis diseminata (histoplasmosis atau kokidiomikosis di luar paru)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Septisemia yang berulang (termasuk Salmonela nontifoid)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Limfoma (serebral atau non-Hodgkin sel-B)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karsinoma leher rahim invasif&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Leishmaniasis diseminata atipikal&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nefropati bergejala terkait HIV atau kardiomiopati bergejala terkait HIV&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;i. Penilaian berat badan pada perempuan hamil harus mempertimbangkan penambahan yang umum waktu hamil&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;ii ‘Tanpa alasan’ berarti keadaan tidak dapat diakibatkan oleh alasan lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;iii Beberapa penyakit khusus yang juga dapat dimasukkan pada klasifikasi wilayah (misalnya penisiliosis di Asia)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-2280982711835361315?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/2280982711835361315/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/06/stadium-who-untuk-penyakit-hiv-pada.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/2280982711835361315'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/2280982711835361315'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/06/stadium-who-untuk-penyakit-hiv-pada.html' title='Stadium WHO untuk Penyakit HIV pada Orang Dewasa dan Remaja'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_bWM7YztkSBc/TAS5oLQY_zI/AAAAAAAAACc/Wcz7GPC4Os0/s72-c/hiv11.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-7645631699976374269</id><published>2010-06-01T14:33:00.001+07:00</published><updated>2011-03-15T00:48:56.121+07:00</updated><title type='text'>Provider Initiated Testing and Counselling (PITC)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Provider Initiated Testing and Counselling (PITC)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Definisi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Fasilitas-fasilitas pelayanan kesehatan merupakan salah satu jalan dimana ODHA memerlukan pelayanan pencegahan, terapi dan dukungan. Hal tersebutlah yang mendasari terbentuknya Provider-Initiated Testing and Counselling (PITC) selain untuk menyempurnakan program lainnya, yaitu Client-Initiated Counselling and Testing (CICT) atau yang lebih dikenal sebagai VCT. PITC memberikan kesempatan individu untuk mengetahui status HIV secara sistematis di fasilitas pelayanan kesehatan dengan tujuan memfasilitasi klien untuk menggunakan akses yang dibutuhkan terkait dengan pencegahan, terapi, perawatan, dan pelayanan pendukung HIV. Keterlambatan seseorang didiagnosa terinfeksi HIV dikarenakan banyak orang tidak peduli terhadap status HIV masing-masing, dengan adanya program PITC ini diharapkan masyarakat lebih peduli tentang status HIV mereka dan mengurangi perilaku-perilaku beresiko yang dapat menyebabkan terinfeksi HIV.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Provider-Initiated Testing and Counselling (PITC) adalah konseling dan tes HIV yang disarankan oleh penyelenggara pelayanan kesehatan kepada seseorang yang datang ke fasilitas pelayanan kesehatan sebagai suatu komponen standard dari pelayanan medis. Seseorang yang datang ke pelayanan kesehatan dengan tanda dan gejala terinfeksi HIV, merupakan tanggung jawab penyelenggara pelayanan kesehatan untuk merekomendasikan kepada orang tersebut untuk melakukan tes dan konseling sebagai bagian dari standar rutin dari manajemen klinis, termasuk penyaranan konseling dan tes pada pasien TB dan seseorang yang dicurigai TB. PITC juga bertujuan untuk mengidentifikasi infeksi HIV terhadap klien yang tidak dikenali dan tidak dicurigai datang ke pelayanan kesehatan. Tes dan konseling HIV disarankan oleh penyelenggara pelayanan kesehatan sebagai bagian dari pelayanan yang diberikan kepada seluruh pasien selama interaksi-interaksi klinis yang dilakukan di pelayanan kesehatan. (WHO, 2007)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Implementasi PITC di Pelayanan Kesehatan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Provider-Initiated Testing and Counselling (PITC) sebaiknya diimplementasikan dengan memaksimalkan kesehatan dan kesejahteraan individu dengan penentuan waktu deteksi HIV yang tepat, pencegahan transmisi HIV, dan akses-akses fasilitas kesehatan terkait pencegahan, terapi, perawatan dan pelayanan pendukung HIV. Implementasi dari PITC harus meliputi pengukuran untuk mencegah tes yang dipaksakan, penyebaran status HIV tanpa ijin, dan kemungkinan hasil negatif lainnya terkait mengatahui status HIV seseorang. PITC harus disertai dengan satu paket pelayanan yang terdiri dari pencegahan, terapi, perawatan dan pelayanan pendukung yang ada pada tabel berikut,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Informasi Pre-tes kepada individu atau kelompok&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Pelayanan pencegahan dasar untuk klien didiagnosa HIV-negatif&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a. Konseling post-tes untuk individu atau pasangan yang berisi informasi pencegahan HIV&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;b. Promosi dan penjelesan penggunaan kondom pria dan wanita&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;c. Intervensi untuk mengurangi pengunaan IDU (Injecting Drug User)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;d. Profilaksis setelah paparan,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Pelayanan pencegahan dasar untuk klien didiagnosa HIV-positif&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a. Individual post-tes konseling oleh penyelenggara terlatih terdiri dari informasi tentang dan mengacu pada pencegahan, perawatan dan pelayanan terapi yang dibutuhkan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;b. Mendukung untuk membuka status HI pada pasangan dan menyarankan konseling untuk pasangan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;c. Konseling tentan seks aman dan penurunan perilaku beresiko dangan menggunakan kondom pria atau wanita&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;d. Intervensi untuk mengurangi pengunaan IDU (Injecting Drug User)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;e. Intervensi untuk mencegah transmisi ibu ke anak pada wanita hamil (PMTCT) termasuk profilaksis ARV&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;f. Pelayanan kesehatan reproduksi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4. Perawatan dasar dan pelayanan pendukung untuk klien didiagnosa HIV-positif&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a. Dukungan pendidikan, psikososial dan dukungan sebaya untuk manajemen HIV&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;b. Pengkajian klinis secara periodik dan stadium klinis&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;c. Manajemen dan terapi untuk infeksi oportunistik tersering&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;d. Profilaksis kontrimoxazole&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;e. Skrining TB dan terapi ketika terindikasi, terapi pencegahan ketika dibutuhkan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;f. Pencegahan dan terapi Malaria ketika dibutuhkan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;g. Manajemen kasus dan terapi STI (Sexual Transmitted Infection)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;h. Perawatan paliatif dan manajemen gejala&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;i. Menyarankan dan mendukung intervensi, seperti minum air yang sehat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;j. Peningkatan gizi, konseling pemberian makanan bayi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;k. ART, ketika diperlukan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sama dengan halnya model pelayanan VCT, PITC juga terdiri dari beberapa komponen untuk mendukung pelayanan pada program ini. Komponen PITC tersebut adalah,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a. Informasi-informasi pre-tes dan informed consent&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;PITC memberikan sesi pendidikan dan pengkajian resiko dengan fokus konseling pencegahan untuk klien sebelum dan sesudah menerima hasil tes. Informed consent seharusnya diberikan secara individual dan pribadi pada kehadiran klien di pelayanan kesehatan. Informasi minimum yang perlu klien ketahui sebelum informed consent adalah,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Alasan HIV konseling dan tes disarankan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Keuntungan klinis dan pencegahan tes dan potensial resiko, seperti diskriminasi, penelantaran dan kekerasan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pelayanan yang tersedia dengan hasil tes negativ atau positif HIV, termasuk ART&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Fakta tentang perlakuan hasil tes HIV akan diperlakukan secara rahasia dan tidak akan diberitahukan kepada orang lain&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Fakta bahwa pasien berhak menerima atau menolak konseling dan tes HIV&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kesempatan klien untuk bertanya kepada penyelenggara pelayanan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Post-tes konseling&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Isi dan inti dari post-test konseling dari PITC sama dengan post-test konseling pada VCT, yaitu penyampaian hasil test dan informasi yang dibutuhkan setelah mengetahui hasil tes.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-7645631699976374269?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/7645631699976374269/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/06/provider-initiated-testing-and.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/7645631699976374269'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/7645631699976374269'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/06/provider-initiated-testing-and.html' title='Provider Initiated Testing and Counselling (PITC)'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-1726003209823107046</id><published>2010-05-21T12:32:00.002+07:00</published><updated>2011-03-15T00:51:22.021+07:00</updated><title type='text'>Home Care pada ODHA</title><content type='html'>Perawatan di rumah (home care)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Melakukan pendidikan pada odha dan keluarga tentang pengertian, cara penularan, pencegahan, gejala-gejala, penanganan hiv/ aids, pemberian perawatan, pencarian bantuan dan motivasi hidup.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengajar keluarga ODHA tentang bertanya dan mendengarkan, memberikan informasi dan mendiskusikan, mengevaluasi pemahaman, mendengar dan menjawab pertanyaan, menunjukkan cara melakukan sesuatu dengan benar dan mandiri serta pemecahan masalah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mencegah penularan HIV di rumah dengan cara cuci tangan, menjaga kain sprei dan baju tetap bersih, jangan berbagi barang-barang tajam.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menghindari infeksi lain seperti dengan cuci tangan, menggunakan air bersih dan matang untuk konsumsi, jangan meludah sembarang tempat, tutup mulut/ hidung saat batuk/ bersin, buanglah sampah pada tempatnya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menghindari malaria dengan menggunakan kelambu saat tidur dan penggunaan obat nyamuk.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Merawat anak-anak dengan HIV/ AIDS, yaitu dengan memberikan makanan terbaik, memberikan imunisasi, pengobatan apabila si kecil sudah terinfeksi, serta memperlakukan anak secara normal.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengenal dan mengelola gejala yang timbul pada ODHA.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Perawatan paliatif (untuk memberikan perasaan nyaman dan menghindari keresahan,&amp;nbsp;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;membantu belajar mandiri, menghibur saat sedih,membangun motivasi diri).&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Gejala-gejalanya seperti demam, diare, masalah kulit, timbul bercak putih pada mulut dan tenggorokan, mual dan muntah,nyeri, kelelahan dan kecemasan serta kecemasan dan depresi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sumber:Spiritia)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-1726003209823107046?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/1726003209823107046/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/05/home-care-pada-odha.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/1726003209823107046'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/1726003209823107046'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/05/home-care-pada-odha.html' title='Home Care pada ODHA'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-84640176121346073</id><published>2010-05-21T12:22:00.001+07:00</published><updated>2011-03-15T00:54:04.013+07:00</updated><title type='text'>Pengobatan TB</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada tiga kategori pengobatan TB, dan kategori dipilih untuk kita berdasarkan beberapa kriteria, dengan pengobatan lebih manjur/lebih lama diberikan pada orang dengan TB kambuh atau setelah pengobatan yang gagal. Namun kebanyakan kasus, baik TB paru maupun di luar paru, diobati dengan kategori 1.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengobatan kategori ini dilakukan dengan dua tahap atau fase: pada fase intensif, kita harus minum empat jenis OAT selama sedikitnya dua bulan untuk mengubah infeksi menjadi tidak aktif dan tidak dapat menular lagi. Pengobatan pada fase intensif ini biasanya diberi kode yang berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2HRZE (dua bulan isoniazid + rifampisin + pirazinamid + etambutol, sekali sehari)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah fase ini berhasil, yang dibuktikan oleh pemeriksaan dahak dengan mikroskop, pengobatan masuk fase lanjutan dengan hanya dua jenis OAT dipakai tiga kali seminggu untuk empat bulan berikut. Pengobatan pada fase lanjutan ini diberi kode yang berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4H3R3 (empat bulan isoniazid + rifampisin, tiga kali seminggu)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kategori 2 adalah pengobatan yang lebih manjur dan lama untuk pasien kambuh atau setelah pengobatan kategori 1 gagal, atau pun yang mangkir atau ‘drop out’ (berhenti pengobatan sebelum selesai). Kategori 3 dipakai pasien BTA negatif dan dianggap sakit ringan, termasuk beberapa jenis TB luar paru; pengobatan ini hanya memakai tiga jenis obat pada fase intensif, tetapi jangka waktu tetap sama dengan kategori 1.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bila pengobatan awal gagal, terutama karena kurangnya kepatuhan terhadap obat, bakteri dapat menjadi resistan (kebal) terhadap beberapa jenis obat anti-TB. TB ini disebut sebagai MDR (multidrug resistant, atau resistan terhadap beberapa obat). MDR-TB juga dapat ditularkan kepada orang lain. MDR-TB ini sangat sulit diobati, dan sering kali harus memakai obat jenis lain. Saat ini belum jelas apakah MDR-TB adalah masalah besar di Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;DOT-S&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penggunaan obat yang benar sesuai dengan jadwal (kepatuhan) sangat penting untuk menghindari timbulnya jenis TB yang resistan. Agar memastikan kepatuhan, terutama pada fase lanjutan setelah kita merasa sembuh, WHO menerapkan strategi DOT-S (Directly Observed Therapy Short course atau pengobatan dengan pengawasan langsung). Pengawasan ini dilakukan oleh pengawas menelan obat atau PMO, yang bertugas untuk mendampingi pasien dalam menjalani pengobatan sampai tuntas. Seorang anggota keluarga atau petugas kesehatan yang mudah terjangkau oleh pasien TB dapat memain peranan sebagai PMO. Tujuan DOT-S adalah:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* Mencapai angka kesembuhan yang tinggi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* Mencegah putus berobat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* Mengatasi efek samping OAT&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* Mencegah timbulnya resistansi akibat ketidakpatuhan&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-84640176121346073?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.facebook.com/notes/peduli-hiv/pengobatan-tb/117151764986173' title='Pengobatan TB'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/84640176121346073/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/05/pengobatan-tb.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/84640176121346073'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/84640176121346073'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/05/pengobatan-tb.html' title='Pengobatan TB'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-7013958478455364429</id><published>2010-05-21T12:21:00.001+07:00</published><updated>2011-03-15T00:57:02.366+07:00</updated><title type='text'>Pemberian makanan pada bayi sehubungan dengan HIV</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Secara umum penggunaan ASI di Indonesia menurun dari 42,2% tahun 1997 turun menjadi 39,5% pada tahun 2002(berdasarkan SDKI)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sedangkan pemberian susu botol meningkat 3 kali lipat dari 10,8 % menjadi 32,4 %&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyak pelanggaran terhadap code of marketing ASI sehingga program menyusui eksklusif terkendala&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Resiko kematian bayi yang diberi ASI lebih rendah dibandingkan jika tidak diberikan ASI&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemberian makanan bayi dari ibu HIV positif kepada bayinya adalah susu formula dengan syarat AFASS dan ASI eksklusif selama 6 bulan dengan syarat teknik menyusui yang benar&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemberian makanan bayi bergantung pada situsasi, kondisi perorangan, situasi lokal, pelayanan kesehatan dan dukungan ibu&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bila setelah 6 bulan belum AFASS boleh menggunakan ASI dan PASI dengan selalu memantau kondisi ibu dan bayi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penghentian ASI sebelum 4 bulan meningkatkan angka kematian (terutama karena diare)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perlu disampaikan 10 langkah gerakan sayang bayi, termasuk konseling nya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Spill over dan pelanggaran terhadap code of marketing susu formula sangat tinggi. Seharusnya layanan kesehatan dilarang melakukan kerjasama dengan supplier tertentu, namun hal ini sudah sangat jamak terjadi, sehingga perlu dilakukan regulasi yang lebih mendalam tentang code of marketing susu formula.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-7013958478455364429?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.facebook.com/notes/peduli-hiv/pemberian-makanan-pada-bayi-sehubungan-dengan-hiv/118797751488241' title='Pemberian makanan pada bayi sehubungan dengan HIV'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/7013958478455364429/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/05/pemberian-makanan-pada-bayi-sehubungan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/7013958478455364429'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/7013958478455364429'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/05/pemberian-makanan-pada-bayi-sehubungan.html' title='Pemberian makanan pada bayi sehubungan dengan HIV'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-2868424922887618033</id><published>2010-05-21T12:20:00.002+07:00</published><updated>2011-03-15T00:59:52.000+07:00</updated><title type='text'>Demam dan Ruam Terkait HIV</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demam dan ruam adalah gejala masalah medis yang mendasar. Diperkirakan sampai 50% kita mengembangkan demam dan ruam beberapa minggu setelah terinfeksi HIV. Gejala ini muncul karena HIV menggandakan diri secara cepat di tubuh kita dan menulari sel kekebalan. Tahap ini (yang disebut sebagai masa infeksi akut atau primer) umumnya bertahan beberapa minggu. Penyebab lain munculnya demam dan ruam yang umum pada Odha termasuk reaksi alergi pada obat, infeksi, dan kanker kulit disebut sarkoma Kaposi (KS).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ruam adalah istilah umum yang menggambarkan perubahan pada warna dan susunan kulit. Ruam umumnya menyebabkan daerah-daerah kulit menjadi merah atau benjolan pada kulit, yang juga mungkin menjadi gatal dan/atau lunak. Kulit yang terpengaruh sering bengkak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demam adalah peningkatan pada suhu badan. Orang sehat umumnya mempunyai suhu badan kurang lebih 37,0 derajat Celcius (°C), bila diukur pada mulut. Angka yang diukur pada ketiak umumnya 0,3-0,6°C lebih rendah dibandingkan yang diukur di mulut. Suhu badan berubah-ubah sekitar 0,6°C sepanjang hari. Umumnya bila suhu badan kita (yang diukur di mulut) di atas 37,8°C, kita dianggap demam. Bayi berusia di bawah 12 bulan dengan suhu badan di atas 37,8°C sebaiknya langsung periksa ke dokter. Orang dewasa atau anak dengan suhu badan lebih dari 38,9°C, yang tidak menurun dengan penggunaan obat (misalnya ibuprofen, aspirin atau parasetamol), sebaiknya periksa ke dokter.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah penyebab dasar demam dan ruam diobati, gejala akan berangsur-angsur hilang. Reaksi alergi terhadap obat umumnya agak berat dan mungkin membutuhkan pengobatan langsung dengan epinefrin. Infeksi bakteri atau parasit umumnya diobati dengan antibiotik, sementara infeksi virus (misalnya flu) diobati dengan antiviral; tidak ada manfaat dan ada kerugian bila infeksi virus diobati dengan antibiotik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Komplikasi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Anafilaksis: Ruam dan demam dapat muncul sebagai gejala reaksi berat dan mungkin gawat yang disebut anafilaksis. Gejala anafilaksis yang paling gawat termasuk nyeri pada dada, sesak napas, syok, dan kehilangan kesadaran, semuanya yang dapat menyebabkan kematian. Kita sebaiknya segera mencari pengobatan bila gejala ini muncul.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kejang demam: Kejang demam terjadi bila bayi atau anak kecil mengalami kejang atau sawan dengan suhu badan di atas 38,9°C. Gejala dapat termasuk gelengan kepala atau guncangan pada lengan atau kaki, mata berputar ke belakang, napas dalam, pengeluaran air liur, dan kulit menjadi berwarna agak biru. Pasien yang mengalami gejala ini harus segera dibawa ke UGD.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Infeksi: Beberapa infeksi yang menyebabkan demam dan ruam dapat menyebar pada berbagai bagian tubuh dan menyebabkan kerusakan pada organ tertentu. Misalnya, infeksi hati yang disebut hepatitis dapat menyebabkan kegagalan hati. Oleh karena itu, Odha yang mengalami gejala demam dan ruam sebaiknya periksa ke dokter agar penyebab dasar dapat didiagnosis.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sindrom Stevens-Johnson: Ruam dan demam mungkin gejala reaksi alergi berat pada obat, yang disebut sindrom Stevens-Johnson (SJS). Penyakit ini dapat mematikan karena, dalam kasus yang gawat, lesi (luka) dapat menyebabkan parutan yang bermakna pada organ terkait, yang sering menyebabkan kehilangan fungsi organ tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Reaksi ini umumnya mulai dengan infeksi saluran napas atas yang tidak spesifik. Selama tahap awal SJS, pasien mungkin mengalami gejala mirip flu, termasuk demam, sakit tenggorokan, panas-dingin, sakit kepala, dan badan keseluruhan merasa tidak enak yang terjadi selama satu sampai 14 hari. Beberapa pasien juga mengalami diare dan muntah. Sebagaimana penyakit berkembang, lesi kulit cepat berkembang. Lesi ini dapat muncul di mana saja, tetapi paling lazim pada tapak kaki, telapak tangan, dan belakang tangan. Kulit menjadi merah, bengkak, atau lepuh, dan mungkin mengandung luka yang terbuka dan/atau lepuh. Kulit secara luas dapat lepas. Pasien yang mengalami gejala SJS sebaiknya segera periksa ke dokter.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penyebab&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Umum: Selain HIV sendiri, penyebab paling umum untuk ruam dan demam pada Odha adalah reaksi alergi terhadap obat dan infeksi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Infeksi HIV akut: Tahap awal HIV, juga disebut sebagai infeksi akut atau primer, dapat menyebabkan gejala demam dan ruam. Hal ini terjadi karena virus menggandakan diri secara cepat di dalam tubuh dan menulari sel kekebalan. Tahap ini umumnya bertahan beberapa minggu. Sampai 50% Odha mengalami gejala mirip flu, termasuk demam, ruam, sakit tenggorokan, pembengkakan pada kelenjar getah bening, dan batuk.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Reaksi terhadap obat: Beberapa Odha dapat mengembangkan reaksi alergi terhadap obat. Hal ini terjadi waktu tubuh kita bereaksi secara berlebihan pada satu kandungan atau lebih dalam obat. Selama reaksi alergi, tubuh kita salah mengira unsur dalam obat sebagai benda asing yang menyerang, misalnya bakteri, dan meluncurkan serangan. Walau setiap jenis obat dapat memicu reaksi alergi, antibiotik misalnya penisilin adalah pemicu yang paling umum. Obat antiretroviral (ARV) juga dapat menyebabkan reaksi alergi. Ruam dan demam adalah gejala reaksi alergi yang berpotensi gawat yang disebut anafilaksis. Bila tidak segera diobati, reaksi ini dapat menyebabkan syok, kehilangan kesadaran dan kematian.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa pasien dapat mengembangkan ruam berat yang disebut sindrom Stevens-Johnson (SJS) sebagai reaksi alergi terhadap obat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Infeksi: Odha adalah rentan terhadap infeksi karena HIV menulari dan merusakkan sistem kekebalan tubuh. Banyak jenis bakteri, virus, jamur dan parasit dapat menyebabkan penyakit dengan gejala ruam dan demam. Di antara infeksi yang paling lazim yang menyebabkan gejala itu adalah stafilokokus, gonore, sifilis, virus herpes simpleks, cacar air, meningitis bakteri (infeksi selaput yang melapisi otak dan urat saraf tulang belakang), human papillomavirus (HPV), virus hepatitis B, kriptokokus, histoplasmosis, pneumosistis, skabies, dan infeksi parasit yang disebut leishmaniasis.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gejala&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Umum: Lama dan beratnya demam dan ruam pada Odha berbeda-beda, tergantung pada penyebab. Gejala tambahan dapat muncul, tergantung juga pada penyebab.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demam: Pasien yang memiliki demam dapat mengalami panas-dingin, keringat, getaran, dan kulit yang hangat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ruam: Ada banyak bentuk ruam, yang berbeda-beda dalam tampak, posisi, berat, dan lamanya. Beberapa ruam dapat mengandung lepuh, benjolan yang rata atau bengkak, jerawat, atau kulit yang kering atau terkelupas. Kulit mungkin merah dan/atau gatal. Kulit gatal disebut pruritis. Jumlah kulit terpengaruh dapat terbatas pada satu daerah yang kecil, atau mungkin mempengaruhi berbagai daerah di tubuh.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Diagnosis&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Umum: Demam dan ruam mudah dilihat pada pemeriksaan fisik. Namun, karena demam dan ruam adalah gejala masalah medis yang mendasari, penyebab harus ditentukan agar pasien dapat diobati. Waktu pemeriksaan fisik, dokter akan melakukan anamnesis (mengambil riwayat medis dan sosial kita) untuk menentukan penyebab dasar. Tes laboratorium mungkin juga dibutuhkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemeriksaan fisik dan anamnesis: Dokter akan menilai berapa lama kita ruam, serta mengumpulkan informasi mengenai riwayat alergi, infeksi, atau penyakit kulit lain. Penting dokter diketahui mengenai perubahan dalam pengobatan, bila ada, terutama bila kita baru saja mulai memakai obat, jamu atau suplemen baru.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tes imunoglobulin khusus alergen (IgE): Tes IgE ini, juga sering disebut sebagai tes radioalergosorbent (RAST), dapat dipakai untuk menentukan apakah kita alergi terhadap senyawa tertentu, misalnya obat atau makanan. Saat ini, lebih dari 550 alergen tersedia untuk ditentukan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tes ini kurang akurat dibandingkan tes kulit. Tes ini umumnya dilakukan pada pasien dengan penyakit kulit yang berat (misalnya ekzema atau psoriasis) yang menghambat taksiran tes kulit. Untuk tes ini, contoh darah kita dikirim ke laboratorium untuk dites. Alergen digabung dengan darah untuk menentukan apakah kita mempunyai antibodi IgE terhadap alergen. Antibodi adalah unsur yang mencari dan mengikat pada benda asing di tubuh. Bila kita mempunyai antibodi IgE, alergi didiagnosis.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tes darah: Tes darah dapat dilakukan untuk menentukan apakah kita memiliki infeksi bakteri atau virus. Contoh darah kita dianalisis di bawah mikroskop untuk mencari bakteri atau virus.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tes buatan KOH (hidroksida kalium): Tes ini dipakai untuk menentukan apakah infeksi jamur menyebabkan gejala kita. Pada tes ini, dokter akan mengikis kulit kita untuk ambil contoh kulit. Contoh ini kemudian digabungkan dengan senyawa yang disebut hidroksida kalium (KOH). Larutan ini memungkinkan dokter melihat jamur (bila ada) di bawah mikroskop. Tindakan ini umumnya tidak sakit karena hanya sangat sedikit kulit dibutuhkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tes kulit: Tes kulit mungkin dipakai untuk menentukan apakah ruam disebabkan oleh reaksi alergi. Kulit kita dipajankan terhadap alergen yang terduga memicu reaksi alergi, dan mengamati reaksi. Bila alergen memicu reaksi alergi, kita akan mengembangkan pemerahan, pembengkakan atau benjolan berwarna merah yang gatal, mirip dengan gigitan nyamuk. Dokter akan mengukur ukuran benjolan dan mencatat hasil. Semakin besar benjolan itu, semakin berat alergi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tes Tzanck: Tes ini dipakai untuk menentukan apakah infeksi virus herpes menyebabkan gejala. Virus diduga ada bila kita mempunyai ruam yang mengandung lepuh. Daerah kecil di kulit kita menjadi mati rasa, dan lepuh dibuka. Dokter akan mengikis contoh kecil dari cairan dan kulit dari lepuh, dan contoh ini dianalisis untuk ada-tiada virus. Bila ada virus, diagnosis positif untuk herpes diambil.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengobatan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Umum: Kita sebaiknya memakai obat antiradang non-steroid (NSAID) dan minum banyak minuman sejuk untuk membantu mengurangi demam. Walau tidak mengobati penyebab dasar demam, tindakan ini akan mengurangi gejala sehingga pengobatan dimulai. Kita sebaiknya jangan mengeruk, meraba atau mengganggu ruam. Bila lepuh berisi cairan berkembang, jangan membukanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bila kita mengembangkan SJS sebagai efek samping obat, kita harus segera berhenti penggunaan obat penyebab. Tidak ada pengobatan khusus untuk SJS. Pemulihan mungkin membutuhkan dua sampai enam minggu. Kalau kita mengalami kasus berat, mungkin kita harus dirawat ini di ICU atau unit kebakaran untuk menerima cairan dan gizi secara infus.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Antimikroba: Obat yang disebut antimikroba dipakai untuk mengobati ruam yang disebabkan oleh infeksi. Antibiotik dipakai untuk infeksi bakteri (misalnya meningitis), antijamur dipakai untuk mengobati infeksi jamur (misalnya kriptokokus) dan antiviral dipakai untuk mengobati infeksi virus (misalnya herpes). Tergantung pada tipe dan beratnya gejala, obat ini mungkin dioleskan pada kulit, disuntik ke pembuluh darah, atau dipakai secara oral. Lama dan dosis pengobatan juga tergantung pada tipe dan beratnya infeksi, serta juga kesehatan umum kita.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cairan sejuk: Meminum minuman sejak dapat membantu meringankan gejala demam. Namun tindakan ini tidak mengobati penyebab dasarnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kompres dingin: Kompres dingin dapat ditempatkan pada daerah kulit yang terpengaruh untuk membantu meringankan gatal dan pembengkakan terkait dengan beberapa jenis ruam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Anestesi topikal: Anestesi (bius) yang ditempatkan pada kulit, misalnya tempelan liokain dapat meringankan nyeri terkait lesi SJS. Obat bius sebaiknya tidak ditempatkan pada daerah kulit yang berluka atau berlepuh.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Obat antiradang non-steroid (NSAID): Bila kita demam, kita dapat memakai ibuprofen, aspirin atau parasetamol untuk mengurangi demam sebelum pengobatan dimulai. Kalau kita memilik penyakit hati atau hepatitis, sebaiknya kita tidak memakai parasetamol. Menghindari penggunaan aspirin oleh anak karena obat ini dapat menyebabkan efek samping yang berat, termasuk sindrom Reye, masalah gawat yang menyebabkan peradangan pada otak dan muntah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pencegahan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Riwayat alergi: Sebaiknya kita catat semua obat (dengan atau tanpa resep), jamu atau suplemen yang menyebabkan alergi pada kita. Pastikan dokter tahu mengenai alergi kita. Jangan memakai obat, jamu atau suplemen yang pernah menyebabkan reaksi alergi pada kita.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(Sumber:Spiritia)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-2868424922887618033?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.facebook.com/notes/peduli-hiv/demam-dan-ruam-terkait-hiv/118796908154992' title='Demam dan Ruam Terkait HIV'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/2868424922887618033/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/05/demam-dan-ruam-terkait-hiv.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/2868424922887618033'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/2868424922887618033'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/05/demam-dan-ruam-terkait-hiv.html' title='Demam dan Ruam Terkait HIV'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-136330469803097494</id><published>2010-05-21T12:17:00.002+07:00</published><updated>2011-03-15T01:02:51.629+07:00</updated><title type='text'>Manfaat ARV</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kita sering mendengar bahwa ‘AIDS tidak dapat diobati.’ Ini sebetulnya salah! Sekarang sudah ada obat yang dapat menekan jumlah HIV, virus penyebab AIDS, di tubuh kita. Dengan penggunaan obat ini, ada harapan HIV tidak ditemukan lagi di dalam darah kita, walaupun masih ada virus di tempat persembunyian lain di tubuh kita. Tetapi, agar menjadi paling efektif, kita harus memakai sedikitnya tiga obat sekaligus, yang disebut sebagai kombinasi tiga obat. Kombinasi obat ini dikenal sebagai terapi antiretroviral atau ART. Terapi ini harus dipakai terus-menerus agar tetap efektif. ART tidak dapat memberantas HIV dari seluruh tubuh kita, jadi tidak dapat menyembuhkan kita dari infeksi HIV.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebelumnya, ART sangat mahal dan sulit diperoleh di Indonesia. Namun sekarang, ART disediakan secara gratis oleh pemerintah melalui rumah sakit rujukan ARV, dan secara teoretis setiap orang dapat menjangkau ART di mana saja di negara ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hasilnya, semakin banyak Odha mempertimbangkan apakah sebaiknya mulai memakai ART, dan jika begitu, kapan sebaiknya pengobatan dimulai? Buku ini akan coba membantu kita mengambil keputusan tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagaimana Terapi Itu Bekerja?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;HIV melumpuhkan sistem kekebalan tubuh kita. Sistem ini diperlukan untuk melawan dan mengatasi infeksi yang menyerang tubuh kita. HIV terutama menyerang sel CD4 dalam sistem kekebalan tubuh. HIV ‘membajak’ sel CD4 ini dan memakainya sebagai pabrik untuk membuat virus baru dalam jumlah besar. Virus yang baru ini kemudian menyerang sel CD4 lain, dan semakin lama jumlah sel CD4 yang sehat semakin berkurang. Sistem kekebalan tubuh kita dirusak sehingga tubuh kita tidak mampu lagi melawan infeksi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Obat antiretroviral (ARV) membantu kita dengan menghambat proses pembuatan HIV dalam sel CD4, dengan demikian mengurangi jumlah virus yang tersedia untuk menularkan sel CD4 baru. Akibatnya sistem kekebalan tubuh kita dilindungi dari kerusakan dan mulai pulih kembali, seperti ditunjukkan oleh peningkatan dalam jumlah sel CD4 kita.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Manfaat ART&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada beberapa manfaat yang didapat dari memakai ART, antara lain:&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Menghambat perjalanan penyakit HIV&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Untuk orang yang belum mempunyai gejala AIDS, ART akan mengurangi kemungkinan menjadi sakit&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Untuk orang dengan gejala AIDS, memakai ART biasanya mengurangi atau menghilangkan gejala tersebut. ART juga mengurangi kemungkinan gejala tersebut timbul di masa depan&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Meningkatkan jumlah sel CD4&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Sel CD4 adalah sel dalam sistem kekebalan tubuh yang melawan infeksi. Pada orang HIV-negatif, jumlah CD4 biasanya antara 500 sampai 1.500. Setelah terinfeksi HIV, jumlah CD4 cenderung berangsur-angsur menurun. Bila jumlah CD4 turun di bawah 200, maka kita lebih mudah terkena infeksi oportunistik, misalnya PCP atau tokso&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Jika kita memakai ART maka diharapkan jumlah sel CD4 akan naik lagi sehingga dapat dipertahankan dalam jumlah yang lebih tinggi&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Mengurangi jumlah virus dalam darah&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;HIV sangat cepat menggandakan diri. Oleh karena itu, jumlah virus dalam darah dapat menjadi tinggi. Semakin banyak virus, semakin cepat perjalanan infeksi HIV. ART dapat menghambat penggandaan HIV, sehingga jumlah virus dalam darah kita tidak dapat diukur. Ini disebut sebagai tingkat tidak dideteksi&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah kita mulai ART, jumlah virus dalam darah akan turun secara drastis. Setelah beberapa bulan diharapkan virus dalam darah menjadi tidak terdeteksi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Merasa lebih baik&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kita akan merasa jauh lebih sehat secara fisik beberapa minggu setelah kita mulai ART. Nafsu makan akan muncul kembali dan berat badan kita akan mulai naik. Kita merasa lebih enak dan nyaman&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Walaupun begitu, tidak berarti kita tidak dapat menularkan ke orang lain. Kita harus tetap memakai kondom waktu berhubungan seks dan menghindari memakai jarum suntik secara bergantian jika kita memakai narkoba suntikan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(Sumber: Spiritia)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-136330469803097494?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.facebook.com/notes/peduli-hiv/manfaat-art/118798824821467' title='Manfaat ARV'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/136330469803097494/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/05/manfaat-arv.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/136330469803097494'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/136330469803097494'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/05/manfaat-arv.html' title='Manfaat ARV'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-1512614717172846439</id><published>2010-05-21T12:14:00.000+07:00</published><updated>2010-05-21T12:14:07.436+07:00</updated><title type='text'>Metallica S&amp;M live-No Leaf Clover</title><content type='html'>&lt;object style="background-image:url(http://i3.ytimg.com/vi/ZlhmigaacJc/hqdefault.jpg)"  width="425" height="344"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/ZlhmigaacJc&amp;amp;hl=en_US&amp;amp;fs=1"&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/ZlhmigaacJc&amp;amp;hl=en_US&amp;amp;fs=1" width="425" height="344" allowScriptAccess="never" allowFullScreen="true" wmode="transparent" type="application/x-shockwave-flash"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-1512614717172846439?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/1512614717172846439/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/05/metallica-s-live-no-leaf-clover.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/1512614717172846439'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/1512614717172846439'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/05/metallica-s-live-no-leaf-clover.html' title='Metallica S&amp;M live-No Leaf Clover'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-2586595997278412151</id><published>2010-04-19T12:10:00.000+07:00</published><updated>2010-04-19T12:10:47.104+07:00</updated><title type='text'>kereta.3gp</title><content type='html'>&lt;object style="background-image:url(http://i2.ytimg.com/vi/9kmaBRZCxXc/hqdefault.jpg)"  width="425" height="344"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/9kmaBRZCxXc&amp;amp;hl=en_US&amp;amp;fs=1"&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/9kmaBRZCxXc&amp;amp;hl=en_US&amp;amp;fs=1" width="425" height="344" allowScriptAccess="never" allowFullScreen="true" wmode="transparent" type="application/x-shockwave-flash"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-2586595997278412151?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/2586595997278412151/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/04/kereta3gp.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/2586595997278412151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/2586595997278412151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/04/kereta3gp.html' title='kereta.3gp'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-324413440450718585</id><published>2010-04-16T15:18:00.002+07:00</published><updated>2011-03-15T01:06:23.021+07:00</updated><title type='text'>Stadium AIDS</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_bWM7YztkSBc/S8geAqxteMI/AAAAAAAAABw/nL-udIBCH1U/s1600/hiv5.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5460647545018349762" src="http://2.bp.blogspot.com/_bWM7YztkSBc/S8geAqxteMI/AAAAAAAAABw/nL-udIBCH1U/s320/hiv5.jpg" style="cursor: hand; cursor: pointer; float: left; height: 86px; margin: 0 10px 10px 0; width: 130px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada beberapa Tahapan ketika mulai terinfeksi virus HIV sampai timbul gejala&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;AIDS:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Tahap 1: Periode Jendela&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;HIV masuk ke dalam tubuh, sampai terbentuknya antibody terhadap HIV dalam&lt;/li&gt;&lt;li&gt;darah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tidak ada tanda2 khusus, penderita HIV tampak sehat dan merasa sehat&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Test HIV belum bisa mendeteksi keberadaan virus ini&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tahap ini disebut periode jendela, umumnya berkisar 2 minggu - 6 bulan&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Tahap 2: HIV Positif (tanpa gejala) rata-rata selama 5-10 tahun:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;HIV berkembang biak dalam tubuh&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tidak ada tanda-tanda khusus, penderita HIV tampak sehat dan merasa sehat&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Test HIV sudah dapat mendeteksi status HIV seseorang, karena telah&amp;nbsp;terbentuk antibody terhadap HIV&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Umumnya tetap tampak sehat selama 5-10 tahun, tergantung daya tahan&amp;nbsp;tubuhnya (rata-rata 8 tahun (di negara berkembang lebih pendek)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Tahap 3: HIV Positif (muncul gejala)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Sistem kekebalan tubuh semakin turun&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mulai muncul gejala infeksi oportunistik, misalnya: pembengkakan kelenjar&amp;nbsp;limfa di seluruh tubuh, diare terus menerus, flu, dll&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Umumnya berlangsung selama lebih dari 1 bulan, tergantung daya tahan&amp;nbsp;tubuhnya&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4. Tahap 4: AIDS&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Kondisi sistem kekebalan tubuh sangat lemah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;berbagai penyakit lain (infeksi oportunistik) semakin parah&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-324413440450718585?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/324413440450718585/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/04/stadium-aids.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/324413440450718585'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/324413440450718585'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/04/stadium-aids.html' title='Stadium AIDS'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_bWM7YztkSBc/S8geAqxteMI/AAAAAAAAABw/nL-udIBCH1U/s72-c/hiv5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-1140119071747779374</id><published>2010-04-16T15:13:00.003+07:00</published><updated>2011-03-15T01:09:37.344+07:00</updated><title type='text'>Stigma dan Diskriminasi</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_bWM7YztkSBc/S8gcjwhZ0UI/AAAAAAAAABg/YAI-ikiNgHk/s1600/hiv3.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5460645948832731458" src="http://3.bp.blogspot.com/_bWM7YztkSBc/S8gcjwhZ0UI/AAAAAAAAABg/YAI-ikiNgHk/s320/hiv3.jpg" style="cursor: hand; cursor: pointer; float: right; height: 90px; margin: 0 0 10px 10px; width: 120px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Stigma berasal dari bahasa Yunani yang berarti "tanda" atau "bercak. Istilah ini berasal dari tanda-tanda yang dimiliki seseorang pada tubuhnya (bekas bakaran atau torehan) yang antara lain menandakan bahwa orang itu adalah budak, penjahat, atau pengkhianat. Ia adalah orang yang cacat moralnya atau tercela tabiatnya dan karena itu harus dihindari dari publik. Stigma pada HIV/AIDS seolah-olah HIV/AIDS hanya terjadi pada kelompok masyarakat tertentu seperti homoseksual, pekerja seks, orang-orang dengan banyak pasangan dan di daerah ditambah lagi dengan pekerja migran.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;HIV/AIDS dipandang sebagai penyakit kutukan karena perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma agama. Akibatnya bagi ODHA akan berefek psikologis. ODHA menjadi stres, depresi, dan putus asa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selanjutnya stigma akan berlanjut dengan perlakuan-perlakuan yang diskriminatif, seperti perlakuan tidak adil karena karakteristik jender, ras, agama dan kepercayaan, aliran politik, kondisi fisik atau karakteristik lain (HIV/AIDS) yang diduga merupakan dasar dari tindakan diskriminasi seperti : dikucilkan, tidak diberi kesempatan yang sama dengan masyarakat lain, memberikan opini-opini negatif, memperlakukan ODHA dan OHIDA sebagai warga masyarakat kelas dua, bahkan mungkin di tempat kerja dipecat secara tidak adil, gaji yang kecil, perlakuan tidak adil oleh atasan maupun teman kerja dll.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-1140119071747779374?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/1140119071747779374/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/04/stigma-dan-diskriminasi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/1140119071747779374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/1140119071747779374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/04/stigma-dan-diskriminasi.html' title='Stigma dan Diskriminasi'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_bWM7YztkSBc/S8gcjwhZ0UI/AAAAAAAAABg/YAI-ikiNgHk/s72-c/hiv3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-7053977839955252838</id><published>2010-04-16T15:11:00.002+07:00</published><updated>2011-03-15T01:11:56.400+07:00</updated><title type='text'>Tes HIV</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tes HIV merupakan pengujian untuk mengetahui apakah HIV ada dalam tubuh seseorang. Tes HIV yang umumnya digunakan adalah yang mendeteksi antibodi yang diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh dalam merespons HIV, karena antibodi itu lebih mudah (dan lebih murah) dideteksi dibanding pendeteksian virus itu sendiri. Antibodi diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh dalam merespons suatu infeksi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagi sebagian besar orang, antibodi tersebut memerlukan waktu tiga bulan untuk berkembang. Dalam beberapa kasus yang jarang terjadi, antibodi ini perlu sampai enam bulan untuk berkembang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah kemungkinan pajanan, berapa lamakah saya harus menunggu sebelum menjalani tes HIV?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hendaknya anda menunggu tiga bulan setelah pajanan sebelum dites HIV. Walaupun tes antibodi HIV sangat sensitif, ada “periode jendela” selama tiga sampai 12 minggu, yang merupakan periode antara terinfeksi HIV dengan kemunculan antibodi yang dapat dideteksi. Dalam hal tes anti HIV paling sensitif yang saat ini direkomendasikan, ?periode jendela?-nya adalah sekitar tiga minggu. Periode ini bisa saja lebih lama bila tes yang kurang sensitif yang digunakan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selama “periode jendela”, orang yang terinfeksi HIV tidak memiliki antibodi yang dapat dideteksi oleh tes HIV dalam darahnya. Kendatipun demikian, seseorang mungkin sudah memiliki HIV dalam kadar tinggi dalam cairan tubuhnya seperti darah, cairan semen, cairan vagina, dan ASI. HIV dapat ditularkan ke orang lain selama “periode jendela” ini, walau tes HIV mungkin saja tidak menunjukkan bahwa anda tidak terinfeksi HIV.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mengapa saya harus menjalani tes HIV?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada dua keuntungan penting bila anda mengetahui status HIV. Pertama, bila anda terinfeksi HIV, anda dapat mengambil langkah-langkah yang dipandang perlu sebelum gejala muncul, yang secara potensial dapat memperpanjang hidup anda selama beberapa tahun. Kedua, bila anda tahu bahwa anda terinfeksi, anda dapat mengambil segala kewaspadaan yang dipandang perlu untuk mencegah penyebaran HIV kepada orang lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di mana saya dapat menjalani tes/ pemeriksaan?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyak tempat di mana anda dapat dites HIV: di kantor praktek dokter swasta, departemen kesehatan setempat, rumah sakit, klinik keluarga berencana, dan tempat-tempat yang secara khusus dibangun untuk pengetesan HIV. Cobalah untuk mencari tahu tentang tes di tempat dimana konseling HIV/AIDS diberikan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apakah hasil tes saya bersifat rahasia?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semua orang yang melakukan tes HIV harus memberikan izin sebelum dites. Hasil tes harus mutlak dijaga kerahasiaannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada berbagai jenis tes yang tersedia:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tes HIV rahasia&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Para ahli kesehatan yang menangani tes HIV menyimpan hasil tes dalam data medis secara rahasia. Hasil tidak dapat dibagi dengan orang lain tanpa izin tertulis dari orang yang dites.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tes HIV Anonim&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;nama orang yang dites tidak digunakan dalam kaitannya dengan tes tersebut. Sebagai gantinya, sebuah nomor kode diterakan dalam tes, yang memungkinkan individu yang dites menerima hasil tes. Tidak ada dokumen tersimpan yang dapat mengaitkan orang dengan tesnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kerahasiaan bersama (shared confidentiality) dianjurkan, dalam artian kerahasiaan tersebut juga dipegang oleh orang lain yang mungkin meliputi anggota keluarga, orang yang dicintai, para pengasuh, dan teman-teman yang layak dipercaya. Namun perlu hati-hati dalam membuka hasil tes HIV karena dapat menimbulkan diskriminasi dalam perawatan kesehatan, serta lingkungan profesi dan sosial. Oleh karena itu keputusan atas kerahasiaan bersama harus sepenuhnya atas kehendak orang yang akan dites. Walaupun hasil tes HIV sebaiknya tetap dijaga kerahasiaannya, para ahli seperti konselor, pekerja sosial, dan pekerja kesehatan perlu juga untuk mengetahui status HIV-positif seseorang dalam upaya memberikan perawatan yang sesuai.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apa yang harus saya lakukan ketika saya terjangkit HIV?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berkat perkembangan pengobatan baru, kini terdapat lebih banyak orang yang hidup dengan HIV (ODHA) dapat menjalani hidup yang lebih sehat dan lebih lama. Sangatlah penting bagi anda untuk memiliki dokter yang tahu bagaimana cara perawatan HIV. Konselor atau perawat terlatih dapat memberikan konseling dan merekomendasikan dokter yang tepat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain itu, anda dapat melakukan hal-hal berikut agar tetap sehat:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ikuti petunjuk dokter anda. Atur dan tepai janji dengan dokter. Bila dokter anda memberi resep, minumlah sesuai dengan yang tertera dalam resepnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lakukan imunisasi (suntikan) untuk mencegah infeksi seperti pneumonia dan flu (setelah berkonsultasi dengan dokter anda).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bila anda merokok atau anda menggunakan obat-obatan yang tidak diresepkan oleh dokter anda, segera hentikan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Makan makanan yang sehat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berolahragalah secara teratur agar tetap sehat dan kuat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidur dan beristirahatlah dengan cukup.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apa artinya bila tes HIV saya hasilnya negatif?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hasil tes yang negatif berarti bahwa di dalam darah anda, tidak terdapat antibodi HIV saat Anda melakukan tes. Bila anda negatif, pastikan bahwa anda tetap seperti itu: pelajari berbagai fakta mengenai penularan HIV dan hindarkan diri agar tidak terjerumus dalam perilaku yang tidak aman.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kendatipun demikian, masih terdapat kemungkinan terinfeksi, karena sistem kekebalan tubuh memerlukan waktu sampai tiga bulan untuk memproduksi antibodi dalam jumlah yang cukup untuk mengindikasikan infeksi dalam tes darah anda. Sangat disarankan untuk melakukan tes ulang beberapa waktu setelah tes pertama itu, dan seraya menunggunya, anda bersifat waspada. Selama “periode jendela” sangat besar kemungkinan seseorang untuk menularkan, dan karenanya, anda hendaknya melakukan berbagai upaya untuk mencegah kemungkinan terjadinya penularan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(Sumber: Spiritia)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-7053977839955252838?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/7053977839955252838/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/04/tes-hiv.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/7053977839955252838'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/7053977839955252838'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/04/tes-hiv.html' title='Tes HIV'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-8617615586124773608</id><published>2010-04-16T15:06:00.002+07:00</published><updated>2011-03-15T01:13:02.219+07:00</updated><title type='text'>Status HIV</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apakah kita dapat mengetahui bahwa seseorang terkena HIV hanya dengan melihat dari penampilannya?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kita tidak dapat mengetahui bahwa seseorang menyandang HIV atau AIDS hanya dengan melihat penampilan mereka. Seseorang yang terinfeksi HIV bisa saja nampak sehat dan merasa baik-baik saja, namun mereka tetap dapat menularkan virus itu ke anda. Tes darah merupakan satu-satunya cara untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi HIV atau tidak.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-8617615586124773608?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/8617615586124773608/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/04/status-hiv.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/8617615586124773608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/8617615586124773608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/04/status-hiv.html' title='Status HIV'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-8065056401994832164</id><published>2010-04-16T01:24:00.002+07:00</published><updated>2011-03-15T01:14:50.019+07:00</updated><title type='text'>Stem Cell</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengobatan dengan menggunakan metoda Sel Punca atau Stem Cell dapat menjadi alternatif pengembangan terapi untuk penderita atau pengidap HIV/AIDS di masa yang akan datang sehingga harapan hidup dapat bertambah.Sel punca adalah jenis sel manusia atau mamalia yang masih memiliki kemampuan untuk membelah diri yang berguna untuk memelihara fungsi jaringan di tubuh seperti otot jantung, jaringan hati, sel ginjal bahkan sel-sel otak.Dengan sel punca maka sel-sel yang mengalami degradasi akan tergantikan sehingga kekebalan tubuh pengidap akan berangsur pulih. Namun satu hal yang harus diingat adalah keberadaan virus HIV tetap akan ada.Saat akan melakukan pengobatan sel punca, pengidap HIV harus meminimalisasikan kandungan obat anti retroviral (ARV), karena bila kandungannya masih tinggi akan menyebabkan sel pengganti gagal berkembang.Pengambilan sel punca dapat dilakukan dari tubuh pasien sendiri (auto transplan), dari manusia lain (alo transplan) dan dari mamalia lain (Xenotransplan) untuk kemudian diperbanyak dan disuntikkan ke tubuh manusia.Sel punca diambil dari tubuh pasien dan disuntikkan kembali agar dapat mengganti atau memulihkan sel jantung, hati, ginjal atau pankreas yang rusak agar menjadi lebih baik. Sel tersebut dapat mengubah dirinya menjadi bentuk sel matang.Walaupun masih perlu diuji coba lebih lanjut, para ilmuwan berharap nanti akan ditemukan satu metode transplantasi sel yang dapat melindungi kehidupan orang dengan HIV/AIDS.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-8065056401994832164?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.facebook.com/pages/Peduli-HIV/112013355482669' title='Stem Cell'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/8065056401994832164/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/04/stem-cell.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/8065056401994832164'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/8065056401994832164'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/04/stem-cell.html' title='Stem Cell'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-6773759138926765441</id><published>2010-04-16T01:21:00.002+07:00</published><updated>2011-03-15T01:15:45.414+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='VCT'/><title type='text'>VCT Online</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk mengatasi permasalahan hiv/aids di Indonesia kini telah hadir Konseling VCT online. Untuk pertama kalinya di Indonesia dan di dunia Konsultasi dalam rangka test hiv dapat dilakukan secara online melalui “chatting tertutup” dengan konselor yang bersertifikasi nasional.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Website ini juga memiliki “Forum” yang lengkap akan issue-issue seputar permasalahan hiv/aids.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jadi tunggu apa lagi ayo gabung di www.mautau.com.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cp : Eriza Triono (021) 71473526, 081388050768&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Email eriza_triono@mautau.com&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-6773759138926765441?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.mautau.com/' title='VCT Online'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/6773759138926765441/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/04/vct-online.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/6773759138926765441'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/6773759138926765441'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/04/vct-online.html' title='VCT Online'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-379898465478421296</id><published>2010-04-16T01:15:00.001+07:00</published><updated>2010-04-16T01:18:18.133+07:00</updated><title type='text'>Harm Reduction</title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-379898465478421296?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Fwww.harmreductionjournal.com%2Fcontent%2F6%2F1%2F28&amp;h=38cf5ed9b3069069122eb4f2c1ff6cd8' title='Harm Reduction'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/379898465478421296/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/04/harm-reduction.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/379898465478421296'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/379898465478421296'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/04/harm-reduction.html' title='Harm Reduction'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-1476838222250033032</id><published>2010-04-02T01:19:00.001+07:00</published><updated>2010-04-16T15:16:23.302+07:00</updated><title type='text'>Peduli HIV</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_bWM7YztkSBc/S8gc0XUy7kI/AAAAAAAAABo/RcarJiV-GVU/s1600/hiv4.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 121px; height: 80px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_bWM7YztkSBc/S8gc0XUy7kI/AAAAAAAAABo/RcarJiV-GVU/s320/hiv4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5460646234126741058" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/pages/Peduli-HIV/112013355482669"&gt;Peduli HIV&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-1476838222250033032?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.facebook.com/pages/Peduli-HIV/112013355482669' title='Peduli HIV'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/1476838222250033032/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/04/peduli-hiv.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/1476838222250033032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/1476838222250033032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/04/peduli-hiv.html' title='Peduli HIV'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_bWM7YztkSBc/S8gc0XUy7kI/AAAAAAAAABo/RcarJiV-GVU/s72-c/hiv4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-4264755110712365944</id><published>2010-03-31T12:34:00.002+07:00</published><updated>2011-03-15T01:25:19.771+07:00</updated><title type='text'>Dasar AIDS</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apa HIV itu?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;HIV berarti Human Immunodeficiency Virus. HIV hanya menular antar manusia. Ada virus yang serupa yang menyerang hewan, tetapi virus ini tidak dapat menular pada manusia, dan HIV tidak dapat menular hewan. HIV menyerang sistem kekebalan tubuh, yaitu sistem yang melindungi tubuh terhadap infeksi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena pada tahun-tahun pertama setelah terinfeksi tidak ada gejala atau tanda infeksi, kebanyakan orang yang terinfeksi HIV tidak mengetahui bahwa dirinya telah terinfeksi. Segera setelah terinfeksi, beberapa orang mengalami gejala yang mirip gejala flu selama beberapa minggu. Penyakit ini disebut sebagai infeksi HIV primer atau akut. Selain itu tidak ada tanda infeksi HIV. Tetapi, virus tetap ada di tubuh dan dapat menular pada orang lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekilas mengenai sistem kekebalan tubuh&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sistem kekebalan tubuh kita bertugas untuk melindungi kita dari penyakit apa pun yang setiap hari menyerang kita dari luar. Salah satu unsur yang penting dalam sistem kekebalan tubuh adalah sel CD4, salah satu jenis sel darah putih. Namun sel CD4 dibunuh oleh HIV saat menggandakan diri dalam darah. Semakin lama kita terinfeksi HIV, semakin banyak sel CD4 dibunuh, sehingga jumlah sel tersebut menjadi semakin rendah. Dengan semakin sedikit sel CD4, kemampuan sistem kekebalan untuk melindungi kita dari infeksi juga semakin rendah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh karena itu, kesehatan sistem kekebalan tubuh dapat dinilai dengan mengukur jumlah sel CD4. Pada orang yang tidak terinfeksi HIV, jumlah sel CD4 berkisar antara 500 dan 1.500. Setelah kita terinfeksi HIV, jumlah ini mulai menurun.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apa AIDS itu?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;AIDS berarti Acquired Immune Deficiency Syndrome. Mendapatkan infeksi HIV menyebabkan sistem kekebalan menjadi semakin lemah. Keadaan ini akan membuat orang mudah diserang oleh beberapa jenis penyakit (sindrom) yang kemungkinan tidak mempengaruhi orang dengan sistem kekebalan tubuh yang sehat. Penyakit tersebut disebut sebagai infeksi oportunistik. Infeksi oportunistik termasuk jamur pada mulut, jenis kanker yang jarang, dan penyakit tertentu pada mata, kulit dan sistem saraf.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apa perbedaan antara HIV dan AIDS?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seorang yang terinfeksi HIV dapat tetap sehat bertahun-tahun tanpa ada tanda fisik atau gejala infeksi. Orang yang terinfeksi virus tersebut tetapi tanpa gejala adalah ‘HIV-positif’ atau mempunyai ‘penyakit HIV tanpa gejala.’&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apabila gejala mulai muncul, orang disebut mempunyai ‘infeksi HIV bergejala’ atau ‘penyakit HIV lanjutan.’ Pada stadium ini seseorang kemungkinan besar akan mengembangkan infeksi oportunistik. ‘AIDS’ merupakan definisi yang diberikan kepada orang terinfeksi HIV yang masuk pada stadium infeksi berat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;AIDS didefinisi sebagai:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;jumlah sel CD4 di bawah 200; dan/atau&lt;/li&gt;&lt;li&gt;terjadinya satu atau lebih infeksi oportunistik tertentu&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Istilah AIDS terutama dipakai untuk kepentingan kesehatan masyarakat, sebagai patokan untuk laporan kasus. Sekali kita dianggap AIDS, berdasarkan gejala dan/atau status kekebalan, kita dimasukkan pada statistik sebagai kasus, dan status ini tidak diubah walau kita menjadi sehat kembali. Oleh karena itu, istilah AIDS tidak penting buat kita sebagai individu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Orang terinfeksi HIV (atau disebut Odha) yang mempunyai semakin banyak informasi, dukungan dan perawatan medis yang baik dari tahap awal penyakitnya akan lebih berhasil menangani infeksinya. Terapi antiretroviral (ART) yang sekarang semakin terjangkau dapat memperlambat kecepatan penggandaan HIV; obat lain dapat mencegah atau mengobati infeksi yang disebabkan HIV.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apa stadium infeksi itu?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;WHO, organisasi kesehatan sedunia, membentuk sistem untuk menggolongkan tahap penyakit HIV berdasarkan tanda dan gejala dalam empat stadium:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Stadium 1: tanpa gejala&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Stadium 2: penyakit ringan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Stadium 3: penyakit lanjutan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Stadium 4: penyakit berat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apa terapi antiretroviral itu?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dulu AIDS dan penyakit HIV dikenal sebagai penyakit yang mematikan dan yang tidak ada obatnya. Sekarang zaman sudah berubah! Walaupun infeksi HIV masih belum dapat disembuhkan, ada obat yang dapat menekan penggandaan virus itu dalam darah kita sehingga jumlah virus menjadi sangat rendah. Obat tersebut dikenal sebagai antiretroviral (ARV), dan umumnya kita harus memakai tiga macam obat bersamaan, yang disebut sebagai terapi antiretroviral (ART).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;ART yang tersedia saat ini di Indonesia umumnya harus dipakai dua kali sehari dengan kepatuhan tinggi. Karena HIV tetap ada di tubuh kita, dan tanpa obat akan mulai menggandakan diri lagi, ART harus dipakai untuk seumur hidup. Namun ada harapan dalam beberapa tahun, kita hanya harus memakai obat sekali sehari, dan kemudian (mungkin 15 tahun lagi?) akan berbentuk satu suntikan sebulan sekali.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Walaupun kita memakai ART, dan walaupun jumlah virus dalam darah kita menjadi sangat rendah (di bawah tingkat yang dapat diukur), kita masih dapat menularkan HIV kita pada orang lain melalui perilaku berisiko.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari mana asalnya HIV?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak ada seorang pun yang tahu asal HIV, cara kerja yang sesungguhnya atau bagaimana HIV dapat diberantas dari tubuh seseorang. Di setiap negara, waktu laporan infeksi HIV pertama muncul, orang menyalahkan kelompok yang sudah terpinggirkan (dan oleh karena itu pada umumnya lebih mudah diserang infeksi HIV, karena kemiskinan dan tidak terjangkau oleh layanan dan informasi). Biasanya yang disalahkan adalah orang ‘dari luar’ atau yang penampilannya atau perilakunya ‘berbeda’. Semua itu membawa masalah saling menyalahkan dan prasangka. Artinya juga bahwa banyak orang menganggap bahwa hanya orang dalam kelompok ini berisiko tertular HIV dan bahwa ‘itu tidak mungkin terjadi pada saya.’ Ketidakpastian mengenai asal usulnya HIV dan siapa yang terpengaruh oleh HIV juga membuat orang bahkan siap menyangkal bahwa HIV sebetulnya ada di antaranya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apa tes HIV itu?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tes HIV menemukan antibodi terhadap HIV dalam darah. Antibodi itu dibuat oleh sistem kekebalan tubuh sebagai reaksi terhadap infeksi oleh virus tersebut. Apabila tidak ada antibodi, seseorang disebut sebagai antibodi negatif (seronegatif atau HIV-negatif). Hasil tes dapat negatif (atau disebut ‘non-reaktif’) apabila seseorang baru saja terinfeksi, karena setelah terinfeksi pembentukan antibodi makan waktu sampai tiga bulan. Masa antara infeksi dan terbentuknya cukup banyak antibodi untuk menunjukkan hasil tes positif disebut ‘masa jendela’.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bila hasil tes HIV adalah negatif, tetapi yang bersangkutan sudah berperilaku berisiko terinfeksi HIV dalam tiga bulan sebelum dites, dia mungkin masih dalam masa jendela, dan hasil tes mungkin tidak benar. Oleh karena itu, dalam keadaan ini, orang tersebut harus dites ulang, paling cepat tiga bulan setelah peristiwa berisiko terakhir.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalau kita berminat untuk melakukan tes HIV, kita harus diberikan penyuluhan (konseling) sebelum dan setelah tes HIV. Tes HIV tidak boleh dilakukan tanpa persetujuan berdasarkan informasi lengkap (informed consent) dari yang bersangkutan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagaimana HIV menular?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;HIV terdapat di darah seseorang yang terinfeksi (termasuk darah haid), air susu ibu, air mani dan cairan vagina.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada saat berhubungan seks tanpa kondom, HIV dapat menular dari darah, air mani atau cairan vagina orang yang terinfeksi langsung ke aliran darah orang lain, atau melalui selaput lendir (mukosa) yang berada di vagina, penis, dubur atau mulut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;HIV dapat menular melalui transfusi darah yang mengandung HIV; saat ini darah donor seharusnya diskrining oleh Palang Merah Indonesia (PMI), sehingga risiko terinfeksi HIV melalui transfusi darah seharusnya rendah, walau tidak nol.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;HIV dapat menular melalui alat suntik (misalnya yang dipakai secara pergantian oleh pengguna narkoba suntikan), melalui alat tindakan medis, atau oleh jarum tindik yang dipakai untuk tato, bila alat ini mengandung darah dari orang yang terinfeksi HIV.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;HIV dapat menular pada bayi saat kehamilan, kelahiran, dan menyusui. Bila tidak ada intervensi, kurang lebih sepertiga bayi yang dilahirkan oleh seorang ibu dengan HIV akan tertular.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;HIV agak sulit menular, dan tidak menular setiap kali terjadi peristiwa berisiko yang melibatkan orang terinfeksi HIV. Misalnya, walau sangat berbeda-beda, rata-rata hanya akan terjadi satu penularan HIV dari laki-laki yang terinfeksi pada perempuan yang tidak terinfeksi dalam 500 kali berhubungan seks vagina. Namun penularan satu kali itu dapat terjadi pada kali pertama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Risiko penularan HIV dari seks melalui dubur adalah lebih tinggi, dan penularan melalui penggunaan jarum suntik bergantian lebih tinggi lagi. Risiko penularan dari seks oral lebih rendah, tetapi tetap ada.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagaimana HIV tidak dapat ditularkan?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;HIV hanya dapat hidup di dalam tubuh manusia yang hidup dan hanya bertahan beberapa jam saja di luar tubuh.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;HIV tidak dapat menular melalui air ludah, air mata, muntahan, kotoran manusia dan air kencing, walaupun jumlah virus yang sangat kecil terdapat di cairan ini. HIV tidak ditemukan di keringat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;HIV tidak dapat menembus kulit yang utuh dan tidak menyebar melalui sentuhan dengan orang yang terinfeksi HIV, atau sesuatu yang dipakai oleh orang terinfeksi HIV; saling penggunaan perabot makan atau minum; atau penggunaan toilet atau air mandi bergantian.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perawatan seseorang dengan HIV tidak membawa risiko apabila tindakan pencegahan diikuti seperti membuang jarum suntik secara aman dan menutupi luka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;HIV tidak menular melalui gigitan nyamuk atau serangga pengisap darah yang lain. Kebanyakan serangga tidak membawa darah dari satu orang ke orang lain ketika mereka menggigit manusia. Parasit malaria memasuki aliran darah dalam air ludah nyamuk, bukan darahnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apa yang dimaksud dengan perilaku berisiko tinggi?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang dimaksud adalah melakukan sesuatu yang membawa risiko tinggi terkena infeksi pada dirinya atau orang lain. Kita biasanya tidak tahu siapa terinfeksi HIV dan siapa yang tidak, jadi kegiatan berikut termasuk berisiko tinggi:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;berhubungan seks dengan memasuki vagina, dubur atau mulut tanpa memakai kondom. Laki-laki dengan HIV dapat menulari baik pasangan laki-laki maupun perempuan saat berhubungan seks melalui dubur tanpa perlindungan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;memakai jarum suntik dan semprit (insul), atau alat tindakan medis yang tidak steril, yang mungkin tercemar oleh darah orang lain, baik pada dirinya maupun orang lain&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;menerima transfusi darah yang terinfeksi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apa artinya seks yang lebih aman?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seks yang lebih aman adalah setiap hubungan seks yang tidak berkaitan dengan air mani, cairan vagina dan darah yang masuk tubuh orang lain atau menyentuh kulit terluka, misalnya:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;kegiatan seks tanpa penetrasi – dengan merangsang alat kelamin kita atau pasangan kita (onani), seks paha, memijat atau mencium&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;memakai kondom dengan pelicin berbahan dasar air (misalnya KY Jelly atau Pelicin Sutra, dari awal sampai akhir waktu berhubungan seks melalui vagina atau dubur. Resiko seks oral (kontak mulut dengan alat kelamin laki-laki atau perempuan) lebih rendah dibandingkan hubungan seks dengan penetrasi vagina atau dubur tanpa kondom&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;tidak berhubungan seks (menahan nafsu) adalah aman&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apa artinya pengurangan dampak buruk narkoba?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengurangan dampak buruk narkoba (harm reduction) adalah tindakan yang dilakukan untuk mengurangi risiko terjadinya penularan melalui penggunaan narkoba. Dasar pemikirannya adalah:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebaiknya kita tidak memakai narkoba sama sekali. Namun bila penggunaan narkoba tidak dapat dihindari:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebaiknya kita tidak memakai narkoba dengan cara suntik (termasuk memanfaatkan program terapi rumatan metadon/PTRM). Namun bila penggunaan dengan menyuntik tidak dapat dihindari:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebaiknya kita selalu memakai jarum suntik yang baru setiap kali kita menyuntik. Namun bila tidak tersedia jarum suntik baru:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebaiknya kita tidak memakai jarum suntik bergantian – hanya kita sendiri yang memakai jarum milik sendiri. Namun bila harus memakai jarum suntik bergantian:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Membersihkan jarum dan semprit dengan pemutih sebelum dipakai oleh orang lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apa yang dimaksud dengan ‘HIV Stop di Sini’?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kebanyakan orang yang terinfeksi HIV sangat tidak ingin orang lain juga mengalami nasib yang sama. Oleh karena itu, apabila kita terinfeksi HIV, adalah sangat penting kita mempraktekkan seks yang lebih aman, serta tindakan pengurangan dampak buruk narkoba, yang secara keseluruhan disebut sebagai ‘HIV Stop di Sini’, agar&amp;nbsp;mencegah penularan HIV ke orang yang HIV-negatif atau yang tidak tahu status HIV-nya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;menjauhkan diri dari infeksi menular seksual (IMS) lain, seperti kencing nanah (gonore) atau sifilis, atau infeksi lain yang menular melalui darah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;mencegah penularan HIV ulang (reinfection), yaitu ditulari jenis atau subtipe HIV yang lain atau dengan HIV yang sudah resistan (kebal) terhadap obat&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-4264755110712365944?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='enclosure' type='' href='http://www.spiritia.or.id' length='0'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/4264755110712365944/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/03/dasar-aids.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/4264755110712365944'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/4264755110712365944'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/03/dasar-aids.html' title='Dasar AIDS'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-1750341168163677583</id><published>2010-03-29T12:52:00.000+07:00</published><updated>2010-03-29T12:53:36.319+07:00</updated><title type='text'>INVISIBLE: Children living with HIV/AIDS</title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-1750341168163677583?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.youtube.com/watch?v=RI7p7zlfEi8' title='INVISIBLE: Children living with HIV/AIDS'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/1750341168163677583/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/03/invisible-children-living-with-hivaids.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/1750341168163677583'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/1750341168163677583'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/03/invisible-children-living-with-hivaids.html' title='INVISIBLE: Children living with HIV/AIDS'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-1023309330965764252</id><published>2010-03-29T12:33:00.000+07:00</published><updated>2010-03-29T12:33:35.572+07:00</updated><title type='text'>Publish and Archive - Blogger Help</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.google.com/support/blogger/bin/topic.py?topic=12441"&gt;Publish and Archive - Blogger Help&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-1023309330965764252?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.google.com/support/blogger/bin/topic.py?topic=12441' title='Publish and Archive - Blogger Help'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/1023309330965764252/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/03/publish-and-archive-blogger-help.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/1023309330965764252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/1023309330965764252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/03/publish-and-archive-blogger-help.html' title='Publish and Archive - Blogger Help'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2144220412334329489.post-4778648604869278014</id><published>2010-03-29T11:32:00.001+07:00</published><updated>2011-03-15T01:27:00.050+07:00</updated><title type='text'>77 Ribu Warga Solo Beresiko Tinggi Terkena HIV/AIDS</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sedikitnya 77 ribu orang warga Solo termasuk golongan beresiko tinggi HIV/AIDS. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kepala Dinas Kesehatan Kota Surakarta, dokter Siti Wahyuningsih mengatakan, tercatat 306 orang terkena HIV/AIDS selama kurun waktu tahun 2005 hingga 2009 ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jumlah itu terdiri dari 137 jiwa penderita HIV dan 169 jiwa penderita AIDS. Sedangkan 82 jiwa lainnya meninggal karena HIV/AIDS.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Kasus HIV/AIDS merupakan fenomena gunung es. Kalau ada 306 orang terkena kasus terinfeksi virus itu maka kondisi senyatanya akan lebih besar," kata Ning dalam sarasehan peringatan Hari AIDS se-dunia "Stop AIDS, Peduli untuk Sesama" di Balai Tawang Arum, Balai Kota, Rabu (25/11).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mereka yang tergolong kelompok masyarakat resiko tinggi yakni wiraswasta, ibu rumah tangga, wanita pekerja seks, pria pekerja seks, mahasiswa/pelajar, karyawan, petani, dan anak jalanan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Disamping 77 ribu warga Solo yang beresiko tinggi, Ning mengungkapkan, jumlah kasus HIV/AIDS sebanyak 306 orang tersebut menempatkan Solo pada urutan ketiga jumlah kasus HIV/AIDS terbanyak se-Jawa Tengah. Sementara, secara nasional menempati urutan kesembilan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;( Widodo Prasetyo / CN16 )&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2144220412334329489-4778648604869278014?l=www.wulandj.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wulandj.co.cc/feeds/4778648604869278014/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/03/77-ribu-warga-solo-beresiko-tinggi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/4778648604869278014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2144220412334329489/posts/default/4778648604869278014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wulandj.co.cc/2010/03/77-ribu-warga-solo-beresiko-tinggi.html' title='77 Ribu Warga Solo Beresiko Tinggi Terkena HIV/AIDS'/><author><name>Shinta Sandrova</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15905143676010315289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-09gcOKzhnTA/TeD_TBeXGkI/AAAAAAAAAGM/51Rx1UrJ-Ow/s220/rafi%2Bn%2Bmama5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
